Orang bilang menjadi seorang Raja itu melelahkan. Itu benar. Bukan hanya isapan jempol belaka. Aku sendiri sudah muak dan lelah. Setiap hari mendengarkan keluhan menteri-menteri korup bermuka dua yang pandai sekali menjilat. Tapi tak ada pilihan lain selain mendengarkan mereka mengoceh sampai mulut berbusa dan aku bosan.
Mungkin rakyatku berpikir kalau hidup sebagai Raja itu enak. Semua orang akan tunduk dan takut padamu. Menuruti semua hal yang kau mau. Segala sesuatu terpenuhi. Perut kenyang hati senang. Omong kosong.
Bukan mauku untuk duduk disinggasana Raja. Semua terjadi karena Putra Mahkota Min Yoongi sudah mangkat terlebih dahulu 3 tahun lalu. Teganya dia meninggalkanku yang berstatus sebagai kembarannya ini harus menggantikan dirinya. Aku memang tidak ingin posisi Raja karena kakak kembarku jauh lebih cakap daripada diriku.
Yoongi adalah sosok yang 180 derajat berbeda denganku. Aku lebih suka ada di arena panahan ataupun lapangan berkuda daripada berkutat dengan urusan pemerintahan. Bolos kelas kerajaan sudah menjadi makananku sehari-hari. Appamama tidak terlalu memusingkan itu. Bahkan beliau sudah menargetkanku sebagai Jendral Perang nantinya.
Sayangnya penyakit Yoongi lebih dulu merenggut itu semua. Dia harus mangkat bahkan saat dia hampir menikah. Tentu saja itu membuat semua orang kelimpungan kesana kemari. Memikirkan nasib negara ini kedepan. Fraksi barat dan timur bersitegang tentang kelangsungan pemerintahan.
Terlalu egois tanpa memperdulikan keluarga kerajaan yang berduka. Mereka masih saja harus akan kekuasaan. Keputusan mutlak dibuat, Aku, Pangeran Min Suga, yang hanya suka memanah dan berkuda serta menebas leher musuh harus duduk dikursi Putra Mahkota. Saat aku mengetahui kabar itu, rasanya aku ingin mengutuk kakak kembarku yang sudah masuk liang lahat. Bagaimana tidak? Dia secara tidak langsung membuatku terjebak pada mimpinya, bukan mimpiku.
Cih, aku tentu saja tidak jadi mengutuknya, aku sangat menyayangi kakakku itu. Dia lebih tahu apa mauku dibanding siapapun didunia ini. Rasa kehilangan lebih mendominasi daripada rasa marah pada keadaanku saat itu. Aku tidak bisa menangis, tapi lubang hatiku mengangga semakin lebar. Airmataku entah kenapa mengeras seperti batu.
Sekarang, statusku naik menjadi Raja. Appamama memilih mundur dari singgasananya beberapa bulan lalu dan beristirahat disebuah pedesaan terpencil, hanya ditemani beberapa kasim dan dayang yang bersedia ikut. Aku ikut mengantar beliau, menghaturkan salam perpisahan dan pergi begitu saja. Aku tidak akan sanggup untuk berbicara kepada beliau tentang apa yang aku rasakan. Aku merasa kehilangan, lagi.
"Yang Mulia, Menteri Pertahanan Perang datang berkunjung"
Suara kasim Kim memecahkan lamunanku.
Aku menghela nafas panjang. Mengambil pedang kebanggaanku, menariknya keluar. Suara desingan pedang itu menggetarkan jiwaku untuk menghunuskannya keleher seseorang.
"Suruh dia masuk."
Pintu kamarku dibuka dari luar. Terlihat Jendral Jeon Jungkook memberikan salam penghormatan padaku barulah dia melangkahkan kakinya masuk. Bisa ku katakan dia adalah salah satu orang kepercayaanku. Kami sudah berteman dekat selama dimiliter. Bahkan dia sudah seperti adikku. Tapi semakin waktu berlalu, jarak dekat kami mulai merenggang. Rasa hormatnya mengalahkan rasa pertemanan yang sudah lama dibangun. Aku tidak terlalu ambil pusing, istana bukan tempat untuk mencari teman.
"Duduk. Ada masalah apa lagi kali ini?"
Jungkook duduk bersimpuh dihadapanku. Bisa terlihat mukanya tegang dan pucat. Tangannya mengepal hingga buku jarinya memutih. Tanganku asik mengelus pedangku yang berukir naga emas. Tak ada yang bersuara diantara aku dan Jungkook. Aku mendengus sekali lagi.
