prologebiru💦

25 4 0
                                        

Tentang aku yang selalu menunduk dengan impian seruncing jarum jahit ibu_Gebiru Adiera

"Biru... Biru ibuk kepasar" seketika kaki ku bergerak lincah menuruni anak tangga. Seperti biasa tiap minggunya ibu akan kepasar membeli bahan kain untuk pakaian.

Akun bukan orang kaya, dengan rumah minimalis berlantai dua. Warna dinding yang mulai pudar dan lantai yang terdapat retak dibeberapa tempat.

"Buk... Ibuk.." ibumenatap ku bingung sangat terlihat dari kerutan di dahinya.

Segera ku Salami tangan ibu. Aku sangat takut kehilangan ibu dia satu satunya yang ku miliki.

"Hati hati"senyum ibu sangat manis. Ia mengusap kepalaku dengan lembut dan aku sangat suka hal itu. "Eungh.."

"dah ibuk" lambaian tangan sesaat. Aku kembali kedalam menjemur pakaian. Ibu juga membuka laundry, jadi jika aku libur dan memiliki waktu luang aku akan sibuk membantu ibuku.

Aku bangga pada ibu. Dia wanita tangguh melahirkan ku tanpa didampingi sanak keluarga. Membesarkan ku sediri hingga kini berusia remaja. Jadwal ibu sangat padat subuh ibu akan mencuci pakaian, pagi menjemur, siang mengantar laundry lalu menjahit, dan malam menggosok pakaian belum lagi dengan pekerjaan rumah.

Tring... Tring... Ku Kayuhkan sepeda menelusuri jalan siang ini. Tentu saja mengantar laundry. Jika kalian bertanya kemana ayahku, jawabannya aku tidak tau dan setiap aku bertanya ibu hanya akan mengalihkannya. Aku tak ingin membuat ibu bersedih dengan mendesaknya. Mulut tetangga saja selalu menyakiti ibu dan aku tidak ingin menambahnya lagi.

"Pagi Buk" aku berhenti di dekat sebuah gerobak sayur yang tengah diserbu pembeli.

"Pagi nak biru" sapa Bu Euis. Yang ku tau ia adalah orang yang ramah ibu dari teman baikku Lingga.

"Ini buk laundrynya. Terimakasih"

"Iya Buk bina mana bi" tanya seorang lainya

"Ibu lagi beli kain, Oya biru permisi dulu mau lanjut antar laundry"

"Iya hati hati"

"Geulis pisan" aku berhenti didepan sebuah rumah tidak jauh. Jadi sedikit sedikit dapat mendengarkan pembicaraan ibu ibu itu.

"Hish.. dia tu anaknya Bu bina"

"Memangnya kenapa buk"

"Buk Mina tu wanita ga bener.."

"Masak si buk"

"Liat aja tu sibiru. Lahir ga ada bapaknya"

"Huss... Pagi pagi kok dah gosip"

"Itu kenyataan nya mang. Nih saya beli ini aja" final ibu itu dengan menyerahkan beberapa sayuran.

Aku menunduk lesu. Sudahlah sudah bisa lagian itu memang benar.

Biru itu menenangkan tapi bagiku biru itu menyedihkan biru itu air mata. Tangis gadis yang selalu dianggap hina bahkan aku tak tau apa sebabnya.

"Bi, kamu kenapa?"

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Sep 25, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Kata BiruStories to obsess over. Discover now