Siang itu, jalan tampak lenggang dan sepi. Sebuah mobil, tampak melaju dengan kecepatan tinggi menyusuri jalanan yang tampak tak berpenghuni. Si pengemudi adalah seorang pria bernama, Priyadi Kaswantoro. Atau yang lebih di kenal dengan Toro.
Sosok pengusaha muda, yang terlihat penuh kendali. Seorang ketua dari sebuah kelompok besar yang sangat masyur. Menggantikan jabatan sang ayah yang telah wafat, Paradipto Kaswantoro.
Toro yang sedang tersulut emosi, perihal lahannya yang terkena dampak kebakaran, menginjak dalam-dalam pedal gas mobilnya. Toro adalah pengusaha yang amat sangat perhitungan. Sangat pelit mengeluarkan uang. Seorang pekerja keras, yang gila akan tahta dan harta.
"Bre***k!" Ereng Toro membanting stir mobilnya. Ia merasa semua pekerjanya sangat tidak kompeten. Karena itulah sekitar 3 hektar dari ratusan hektar lahannya bisa terbakar. Karena pekerjanya tidak bisa menjaga lahan dengan baik, tidak bisa melindungi lahan perkebunannya.
Dampak dari kebakaran yang terjadi di perkebunannya itu, mengakibatkan pemasukan Toro akan berkurang. Malahan, ia harus mengeluarkan dana untuk memperbaiki semua kerusakan yang terjadi. Termasuk rumah tinggal untuk pekerjanya yang ikut terbakar dan pembunuhan sekitar 3 hektar tanaman sawit yang tak lagi bisa di pakai, serta pembelian bibit dan biaya penanaman, sampai pupuk dan lain-lain. Tentunya, Toro tidak suka jika ia harus mengeluarkan dana lagi.
Saat kalut dalam pikirannya yang penuh emosi, dan melajukan mobil secepat mungkin, tiba-tiba sebuah sepeda motor muncul dari sebelah kiri sebuah perempatan jalan.
Toro langsung menginjak pedal remnya sedalam-dalamnya dan memutar stir mobilnya ke kanan. Mobil Toro pun berputar di tengah perempatan jalan itu, hingga terdengar bunyi hantaman yang begitu keras. Dimana badan mobil bagian belakang, menghantam tiang listrik.
"Akkhh," Toro meringis kesakitan. Bagian pelipisnya sempat terbentur sesaat sebelum air bag keluar untuk melindunginya.
Mobil Toro tampak mengeluarkan asap. Badan mobil bagian belakang sebelah kiri sangat hancur. Segera, Toro mematikan mesin mobil, kemudian membuka sabuk pengaman dan turun dari mobil dengan emosi yang semakin memuncak.
Masyarakat sekitar terlihat sudah berdatangan. Toro langsung berjalan menghampiri si pengendara motor yang juga terjatuh.
"Woi Sialan! Bangun lo!" Seru Toro emosi. "Bangun, cepat!" Bentak Toro. Toro menarik tangan si pengemudi motor dengan kasar.
"Aakhh, sakit." Ringis si pengendara motor kesakitan.
Toro mengernyitkan dahinya. Dari suaranya Toro tahu bahwa si pengendara motor adalah seorang wanita. Dan tangan lemah berjemari lentik yang Toro tarik tadi tampaknya terkilir atau mungkin saja patah.
Toro pun menarik sepeda motor wanita itu dan menjauhkan dari si wanita. Kemudian Yoro berjongkok di depan si wanita. "Bisa duduk nggak?!" Tanya Toro dengan suara kasar.
Si wanita tak menjawab. Karena itu, Toro mengambil inisiatif mengangkat tubuh si wanita itu dan mendudukkannya.
Darah segar terlihat di sikut kirinya. Sementara tangan kanannya terlihat terkilir. Dan kakinya lecet-lecet.
Toro membuka helm wanita tersebut. Dan seketika jantung Toro serasa mencelos, melihat rambut hitam panjang nan indah milik wanita itu tergurai dari helmnya. Menampakkan wajah rupawan yang terlihat sendu dengan berlinang air mata.
"Bos Toro, bos nggak papa, bos?"
Toro tertegun seketika. Kemudian ia menoleh ke sumber suara. Di mana Toro baru menyadari bahwa sudah banyak orang yang mengerumuninya.
"Lo kenal gue?" Tanya Toro.
Pria itu langsung mengangguk. "Gue Mamat bos. Gue kan anggota benteng industri juga. Gue satpam di komplek dekat sini." Jawab Mamat.
YOU ARE READING
REVENGE
RomanceMenikah dengan pria yang di musuhi oleh sang ayah, fitri berusaha untuk mendapatkan restu. melunakkan hati sang ayah. namun fitri keliru. cinta yang ia perjuangkan, yang ia kira tulus dan sejati, nyatanya hanya kepalsuan. sebuah dendam yang datang d...
