Ia masih butuh pipa PVC dan semacam bahan pelampung. Damar berulangkali mengkonstruksi skema detektor level air sederhana itu di kepalanya. Dia akan memancang penyangga kayu di tepi sungai, memasang lintangan horijontal yang akan menjulur sekitar setengah meter di atas permukaan air, lalu menyelipkan pipa PVC di tengahnya---apakah diameter 10 senti cukup?---lalu di dalamnya akan ada semacam balon pelampung kecil yang terhubung dengan material yang lebih keras. Ketika permukaan air naik ke ketinggian yang berpotensi meluap, pelampung itu akan membawa material tersebut bertemu dengan trigger alarm. Dan voila, sinyal peringatan.
Masalahnya sekarang mulai memasuki musim hujan. Damar benci ketika sungai di dekat bengkel mereka itu kebanjiran dan membasahi semua proyek tanpa aba-aba.
Oke, pikirnya. Di dinding sudah tersandar sejumlah reng kayu pinus. bekasan. Bukan kombinasi yang bagus untuk material yang akan diletakkan di luar ruangan sebenarnya. Tapi cuma itu yang ada untuk saat ini.
Selagi Damar kembali sibuk mengotak-atik rak untuk mencari cat polyurethane sebagai coating pelindung, ponsel yang menahan kertas sketsa kasarnya mendadak bergetar. Layarnya mengedipkan nama Reno, teman semejanya. Ia buru-buru menyambangi panggilan itu.
"Mar, di mana? Bu Yati bakal ngamuk kalau kau bolos lagi."
Damar cuma bisa meringis. Jujur saja, ia belum mengingat roster semester ini dan tidak menanda hari-hari apa saja wali kelasnya punya jadwal mengajar di kelas mereka.
"Sosiologi jam keberapa, No?"
"Ke sini saja sekarang."
"Aduh." Damar malas. Apalagi ketika memperhatikan jam dinding yang menunjuk pukul 09.30. Setidaknya ia masuk kelas setelah jam istirahat pertama saja, inginnya. "Hari ini skip dulu juga deh, No."
"Astaga. Setidaknya Sosiologi setor muka lah, Mar." Suara Reno kali ini terdengar menggema. Sepertinya dia sedang di toilet. "Hari ini juga ada jadwal temu perdana ekskulmu itu jam lima kan? Kau yang memintaku untuk mengingatkan kemarin."
Benar---Damar baru sadar. Tetapi itu juga baru sore nanti. Alhasil, pemuda itu baru beranjak ke sekolah sekitar jam setengah enam sore karena lupa waktu keasyikan mengerjakan alarm banjirnya. Sialnya, motor dua taknya tiba-tiba tidak bisa diajak kompromi dan menolak ketika digeber.
Damar yang tidak punya waktu untuk memeriksa apa masalahnya kemudian memutuskan untuk mengambil jalan pintas ke seberang bahu sungai. Menyebrangi jembatan kayu rombeng dan memanjat dinding beton yang licin. Ia cuma bisa mengandalkan beberapa batang pohon pisang di situ sebagai bantuan pegangan dan pijakan. Ketika ia melompat ke balik dinding, ia tiba di area lapangan basket.
Sekadar memberi gambaran, lapangan basket itu terletak di barat daya sementara gerbang utama sekolah ada di arah utara.
Ketika ia melangkah di koridor, sol sepatunya menyisakan jejak lumpur kekuningan pada rangkaian ubin yang retak di sana-sini.
Damar sempat bertemu Reno di tangga. Temannya itu menggeleng-geleng melihatnya.
"No, motorku mogok. Nanti bisa ambil sebentar ke rumah buat dibengkelin?"
Meskipun hanya dibalas delikan, Damar yakin Reno akan memenuhi permintaan kecilnya itu.
Dan,
"Oh iya, perpus di mana?"
"Lantai satu ujung belakang---demi Tuhan, Mar."
Tentu saja, bersekolah selama setahun lebih di tempat ini tidak menjamin Damar tahu di mana lokasi berbagai fasilitas, terutama perpustakaan. Apalagi perpustakaan.
Pemuda itu buru-buru turun tangga.
Lagi pula, Ekakarsa Edelweiss punya rancang spasial yang menurut Damar susah diingat. Seperti misalnya, dia selalu bertanya-tanya kenapa letak kantor guru, ruang konseling, administrasi, dan kantor kepala sekolah harus disebar ke seluruh penjuru sekolah.
YOU ARE READING
Aitreya
Mystery / Thriller[R-18] Damar pikir menjadi anggota klub sastra sekolah itu gampang saja, cuma perlu duduk-duduk, baca buku, dan jrengg; nilai A di kolom ekstrakurikulernya. Tapi gara-gara keterlambatannya untuk kumpul perdana dan pendaftaran ulang anggota, semuanya...
