Putih.
Satu per satu butiran-butiran kecil berwarna putih seperti kapas menuruni langit. Kedua matanya yang setengah terbuka menatap kosong pemandangan indah di tengah langit yang kelabu. Gadis kecil itu mengangkat tangannya mencoba menggenggam salju.
Basah.
Itulah yang ia rasakan begitu butiran salju itu mengenai telapak tangannya. Ia membalikkan telapak tangan dan melihat titik-titik air di sana. Apakah ini yang membuat dirinya terus terjaga? Ia terus berpikir sampai tidak menyadari kalau titik-titik air itu mulai menuruni kulit putih mulusnya.
Dingin.
Angin yang berembus tidak hanya menerpa rambut pirang bergelombangnya yang terurai indah di tanah beralaskan salju, tetapi juga membuat dia merasakan sensasi dingin di sekujur tubuh. Hembusan napasnya yang pelan tidak cukup membuat gadis itu merasa hangat sedikit pun.
Kaku.
Entah sudah berapa lama gadis itu tidak bisa menggerakkan badannya. Ia merasa seperti terikat dan menyatu dengan tanah. Mungkin ini pengaruh dari udara dingin dan salju yang perlahan mulai membekukan tubuhnya. Ah ... apakah dia akan mati di sini? Mungkin. Apalagi dengan darah yang terus keluar dari luka tebas di dadanya.
***
Seorang gadis menatap langit senja dengan cemas. Hari sudah hampir malam, tapi kakak perempuannya belum juga pulang padahal mereka sudah berjanji akan merayakan malam tahun baru 1195 bersama.
Ia menoleh ke meja bundar berukuran kecil di tengah ruangan. Semangkuk besar sup yang masih mengepul dan beberapa helai roti sudah tertata rapi di sana.
"Hah ... kapan Kakak pulang?" tanya gadis kecil itu sambil menidurkan kepalanya di punggung tangan.
***
Angin malam yang berembus dari jendela membangunkan gadis kecil itu dari tidurnya. Sehelai selimut tipis menuruni pundaknya ketika dia bangun dan mengerjap. Tidak ada siapa pun selain dirinya.
"Kakak belum pulang, ya?" tanya gadis itu sambil mengedarkan pandangan.
Dahinya langsung mengernyit setelah melihat mangkuk kosong di depannya. Meskipun sudah kosong, ia bisa melihat sisa-sisa kuah sup dan remahan roti di sana. Itu berarti seseorang baru saja makan dan memakai mangkuk itu.
"Kakak?" panggil gadis itu sambil menoleh cepat. Kedua matanya terus mencari sosok yang ia tunggu malam ini. "Apa Kakak sudah pulang?"
Gadis kecil itu mulai bangkit dari kursi dan mencari keberadaan kakaknya. Nihil. Dia tidak menemukan kakaknya di mana pun.
"Aneh," gumamnya sambil menopang dagu. "Kalau bukan Kakak, lalu siapa lagi? Pencuri? Sepertinya tidak mungkin karena tidak ada barang yang ...."
Gadis kecil itu baru menyadari kalau rumah ini terlihat lebih kosong daripada biasanya. Ada sesuatu yang hilang, lebih tepatnya barang-barang milik kakaknya yang hilang.
Ia langsung menuju kotak penyimpanan. Tangannya yang kecil dan ramping terlihat gemetar karena tak cukup kuat mengangkat bagian penutup kotak itu. Tidak ada senjata yang tersisa di kotak itu bahkan satu anak panah pun.
Gadis berambut pirang itu lalu berjalan menuju lemari dan membuka engselnya dengan cepat. Ia menghela napas lega begitu melihat baju milik kakaknya masih lengkap dan tersusun rapi di sana.
"Sepertinya Kakak mendapat misi baru," ucap gadis itu sambil menutup pintu lemari. "Kakak kebiasaan deh, tidak pernah memberitahuku kalau ada misi baru. Tau-tau sudah menghilang saja."
VOCÊ ESTÁ LENDO
Jilid II. Celena and The Cursed Sisters [END]
Fantasia[Seri kedua Celena Series] [Baca "Celena and The Born of New Sword" terlebih dahulu] Sinopsis: Perjalanan Celena kembali berlanjut. Meski telah melewati malam pertumpahan darah, permasalahan tidak berhenti sampai di situ. Kemenangan yang terus diper...
![Jilid II. Celena and The Cursed Sisters [END]](https://img.wattpad.com/cover/240481800-64-k804041.jpg)