Malam baru saja merangkak datang. Lembayung jingga perlahan raib ditelan kegelapan. Namaku anne, aku adalah salah satu siswa di sekolah yang lumayan pavorit di kota jakarta. Beberapa hari terakhir ini aku sering pulang larut malam dari sekolah. Sebenarnya hal ini adalah sesuatu yang biasa terjadi khususnya bagi kami anak-anak teater saat mendekati hari pementasan. Seperti hari ini, selepas latihan tadi sore aku dan beberapa orang teman yang lainnya kembali mendapat tugas tambahan dari salah seorang pelatih. Ya...hari ini kami harus membantu menyelesaikan beberapa properti untuk pementasan nanti. Aku yang juga menyukai seni lukis mendapatkan tugas untuk mengecat beberapa barang yang nantinya akan disimpan di set lokasi panggung pementasan. Berhubung pementasan nanti bertepatan dengan hari halloween juga tema yang diangkat adalah tema hantu jadi sudahlah jelas bahwa properti yang harus disiapkan adalah sesuatu yang bersifat horor dan mistis.
Satu jam lalu aku baru saja menyelesaikan mengecat keranda yang dibuat oleh temanku dari kayu dan bambu. Sekarang aku dan beberapa teman yang lain sedang merapihkan styrofoam dengan bentuk tengkorak dan kerangka tubuh manusia lainnya. Awalnya aku merasa agak takut melihat disekitar kami di penuhi banyal properti yang menyeramkan. Namun lama kelamaan aku pun terbiasa dengan hal itu.
Adzan isya pun berkumandang...
Beberapa teman meminta izin untuk beristirahat sejenak dan menunaikan sholat isya terlebih dahulu. Namun berhubung hari itu aku dan Rima sedang berhalangan, jadi kami berdua memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat terhenti saat adzan berkumandang.
"Anne, gue haus nih, gue mau nyari minum dulu. Lo mau ikut ga?"
"Males ah, gue nitip aja air mineral. lagi nanggung nih". kataku tanpa menoleh sedikitpun kearah rima yang ada dibelakangku.
"Lo yakin gak apa-apa gue tinggal sendiri disini?"
"Tenang aja, gue berani kok" kataku dengan begitu entengnya.
"Ya udah kalo gitu, gue tinggal bentar ya..."
"Oke...!"
Suara langkah kaki rima yang berjalan menjauh perlahan hilang dari pendengaranku. Aku masih sibuk merapikan beberapa properti saat itu. Awalnya memang terasa biasa saja. Tak ada perasaan aneh ataupun takut berada sendirian di gedung aula yang lumayan luas ini. Namun keheningan yang mulai terasa juga keadaaan aula yang dipenuhi properti yang seram tiba-tiba membuat bulu kudukku meremang. Aku berusaha untuk setenang mungkin dan mencoba untuk mengusir rasa takut yang tiba-tiba datang menghampiri.
"Mana sih rima dan kawan-kawan?". fikirku
Aku memutuskan untuk menghentikan sejenak aktifitasku dan berjalan agak menjauh dari properti-properti tersebut. Kukeluarkan ponsel di dalam tas dan kulihat ada beberapa notifikasi masuk.
"Anne loe ga apa-apakan nunggu agak lama. Kita lagi beli nasi goreng dulu nih buat makan malam."
Dan sebuah pesan dari Rima juga masuk ke ponsel
"Anne, gue ikut anak-anak beli nasi goreng dulu. Kalo lo takut disana kesini aja."
Tadinya aku akan pergi menyusul Rima dan kawan-kawan. Namun baru saja aku keluar dari gedung aula tiba-tiba semua lampu di koridor dan aula mati. Namun anehnya menyisakan satu lampu yang masih menyala ditengah gedung aula. Aku kembali masuk kedalam aula dan memutuskan untuk menunggu saja di dalam.
Dalam keremangan aku mencoba mengamati sekitar. Seragam sekolahku kini terasa basah oleh peluh. Aku mencoba untuk tetap diam setenang mungkin. Namun ketenanganku tiba-tiba hilang saat samar-samar kudengar suara tangisan dari arah kiriku. Aku mencoba memasang telinga sebaik mungkin berharap suara tangis yang kudengar adalah hasil dari halusinasiku saja. Namun semakin lama suara itu makin jelas terdengar. Seakan suara itu datang dan mendekatiku. Aku juga merasakan seperti sedang diawasi oleh seseorang. Aku mulai panik saat itu. Kuambil ponsel disaku dan kunyalakan senter untuk membantu penglihatanku. Namun cahaya dari senter ponsel tak mampu bertahan lama. Ponselku mati kehabisan daya.
"Sialan...!" Umpatku.
Suara tangisan itu kini telah hilang. Aku bersukur tak mendengar kembali suara itu. Namun sekarang satu-satunya lampu di tengah gedung aula itu mati nyala, mati nyala dan seterusnya. Hingga akhirnya pecah dan membuatku kaget.
Lengkap sudah penderitaanku saat itu. Diam sendirian di gedung aula yang gelap total membuatku tak bisa berbuat apa-apa. Aku kini merapatkan tubuh kesalah satu sudut aula dan berharap semoga teman-teman segera datang. Suara langkah kaki dari arah samping kanan terdengar mendekat. Aku bertanya-tanya siap yang datang dari arah pintu samping kananku. Seketika lampu kembali menyala dan kulihat rima sudah ada berdiri di depan pintu sebelah kanan gedung aula.
"Syukurlah lo datang, gue ketakutan rim. Tadi saat lo pergi semua lampu di gedung aula ini tiba-tiba mati"
Rima hanya datar menatapku. Ia kemudian datang menghampiri dan menyerahkan sebungkus nasi goreng yang merebakkan aroma yang sedap.
"Makan dulu anne". katanya sembari kembali kearah properti yang tadi aku tinggalkan.
"Makasih Rim. Lo kenapa? Kok wajah lo aga pucat sih" kataku
Namun rima hanya diam. Dia tak merespon pertanyaanku. Aroma nasi goreng yang masih panas mampu melupakan sejenak ketegangan yang kurasa. Aku memang sangat lapar. Dari sepulang sekolah tadi aku belum sempat makan apapun. Aku mulai memakan nasi goreng yang dibawa oleh rima. Suapan demi suapan aku makan begitu lahapnya, menghiraukan tingkah aneh rima yang tiba-tiba.
"Rim, temen-temen yang lain mana?" Kataku
Namun kembali ia tak merespon pertanyaanku. Aku kembali melahap nasi goreng didepanku. Dan seketika aku kaget saat tersadar bahwa sedari tadi yang aku makan bukanlah nasi goreng melainkan kembang yang biasa dibawa oleh para penziarah saat datang ke makam.
Aku seketika melemparkan bungkusan kembang itu. Dan kembali terkaget saat kulihat pintu gedung aula yang tadi dilewati rima dalam keadaan yang tergembok. Aku baru sadar kalau pintu itu memang sejak lama tak dibuka oleh pihak sekolah.
Seketika bulu kudukku kembali meremang. Aku menatap ke arah rima yang sedang asyik mengerjakan sesuatu. Kini aku tahu kalau sosok yang kini ada di depanku itu bukanlah rima. Sosok itu kini tertawa cekikikan. Suaranya memenuhi gedung aula. Ia melemparkan sebuah styrofoam dengan bentuk tengkorak kepadaku.
"Kamu siapa? Apa maumu?"
Dan tepat diatas styrofoam itu tertulis sebuah kalimat menggunakan cat merah yang masih basah. Saat aku membacanya terlulis sebuah nama tepat diatas styrofoam berbentuk tengkorak itu.
Sosok itu kini membalikkan tubuhnya. Dan barulah jelas wujud sebenarnya dari sosok perempuan itu. Wajahnya yang pucat dengan luka robek melintang dari dahi hingga ke bibirnya itu menatapku dengan seringainya yang sangat menakutkan. Seketika tubuhku mematung saat melihat sosok itu. Kakiku rasanya terkunci. Aku tak bisa menggerakkannya. Mulutku kelu, aku tak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Sosok itu kini melayang perlahan kearahku. Ia semakin dekat dengan tubuhku dan kini menyisakan hanya beberapa jengkal saja. Ia kembali tertawa cekikikan dan berkata.
"Namaku Susianne..."
Seketika pandanganku menjadi gelap dan akupun kehilangan kesadaran.
************************************
ESTÁS LEYENDO
Ada Hantu di Sekolah Kita...
Terrorini adalah kumpulan kisah tentang para siswa yang tak sengaja bersinggungan langsung dengan para penghuni lain di beberapa sudut gedung sekolahnya.
