Prolog

12 0 0
                                        

Bagi sebagian orang tersenyum sudah menjadi suatu hal yang biasa, bahkan sudah menjadi suatu keharusan. Namun bagi sebagian lain, tersenyum hanyalah cara mereka menyembunyikan luka. Topeng dari rasa sakit yang enggan sirna.

Venya terdiam. Berbicara pada dirinya sendiri. Ia ingin mengumpat, marah, ataupun mengamuk kepada siapa saja yang membuatnya menjadi pribadi yang seperti ini. Namun ia tak bisa, tak akan pernah bisa. Ia terkurung dalam pikirannya. Ia terkekang oleh penilaian orang terhadap dirinya. Ia terdekap oleh tuntutan orangtua dan orang-orang terdekatnya. Ia terikat dengan tali kuat tak kasat mata. Tali tak kasat mata yang membuat dirinya tak dapat bebas bernapas.

Air matanya mengalir. Meminta pada dirinya sendiri untuk meledakkan segala yang ia rasakan selama ini. Namun sama seperti biasanya, hatinya akan selalu menolak. Ia kembali menangis dalam diam. Membiarkan segala luka yang ia rasa sendirian merobohkan dirinya entah untuk yang kesekian kali. Sesak sekali. Sampai rasanya Venya ingin sekali mati.

Namun Venya lupa, ia tengah berada dibalkon kamarnya. Balkon kamar yang berhadapan tepat dengan balkon kamar tetangganya. Bak sebuah drama. Pemilik kamar diseberang sana juga berada disana, menyaksikan segala kesakitan yang selama ini Venya pendam seorang diri.

Namun anehnya, ada rasa yang membuat Venya pun tak mengerti. Ia merasa tak masalah. Ia merasa terselamatkan hanya dengan melihat tatapan tetangganya itu. Di mata segelap langit malam itu, ia tak melihat sedikitpun penghakiman. Ia tak melihat sedikitpun tuntutan. Yang ia lihat hanyalah segenap ketulusan. Hanyalah segenap pengharapan. Hanyalah pengampunan.

Tanpa ia sadari, tangisnya turun kian deras.

***

Pada tempatnya, Enzi terdiam. Menatap lemah kearah balkon tetangganya itu. Kamar tersebut tampak sepi. Seperti tak berpenghuni. Sudah tiga belas tahun mereka saling mengenal, tapi mengapa mereka tak pernah saling berinteraksi. Sudah tiga belas tahun mereka bertetangga tapi mengapa tak sekalipun Venya lemparkan senyum kepadanya. Sudah sejak SD mereka berada disatu sekolah yang sama, tapi mengapa Venya tak pernah hendak berbincang dengannya.

Dan yang akan selalu menjadi pertanyaannya adalah, mengapa Venya sangat berbeda hanya kepada dirinya?

Venya adalah gadis paling riang yang pernah Enzi temui. Tak pernah ia lihat seseorang sebaik dan selemah lembut Venya. Gadis itu nyaris sempurna. Membuat Enzi selalu berpikir, Tuhan pasti sedang tersenyum kala menciptakan Venya.

Namun semua pikirannya terhenti kala ia melihat tetangganya itu keluar dari kamar gelap tersebut dengan wajah muram. Venya duduk dilantai balkon kamarnya dengan kepala mendongak keatas sambil memeluk lututnya, menatap lamat-lamat langit malam seperti sedang mencari jawaban.

Lumayan lama gadis cantik itu menatap langit malam. Kemudian yang Enzi lihat hanyalah airmata. Gadis itu menangis tanpa suara. Gadis itu tak sesempurna pikirannya. Gadis itu tak seriang kelihatannya. Sebaliknya, yang Enzi lihat saat ini hanyalah serangkaian kelelahan yang tiada habisnya.

Enzi tetap berdiri disana, walau Venya telah menyadari kehadirannya.

***

Hai hai, iyupz prolog Your Smile aku ganti, ceritanya akan kuganti jadi sudut pandang orang ketiga aja, supaya bisa lebih luas pemahamannya. Ceritanya juga akan kuubah sedikit dari yang pernah aku publish waktu itu.

Stay tune, yaaaa. Aku mau kalian bisa dapet pesan dalam ceritaku yang sederhana kali ini.

Ajak teman, sahabat, keluarga, atau siapapun orang yang kalian kenal untuk baca Your Smile ya. Aku pengen ceritaku banyak dibaca orang supaya aku tau cerita yang kubikin ini bermanfaat atau tidak. Bagus atau tidak.

Oke guys. Luv u. Always health and stay safe. Byeee🥰

Your SmileStories to obsess over. Discover now