Jeno tiba-tiba saja berjalan di samping ayahnya. "Tenang saja Dad, Jeno akan menjaga Mommy dan adik bayi percayakan saja semuanya pada Jeno." Ia memukul pelan dadanya untuk meyakinkan Jaehyun.



Mark ikut berjalan di sisi Taeyong. "Jangan percaya dengan Jeno Dad, dia saja bilang jika adiknya itu batu." 



Jaehyun tertawa kecil. "Tenang saja Jeno tidak akan mendapatkan mobil dari Daddy."



Mata Jeno membelalak, mulutnya membulat sempurna. "Dad~ kenapa seperti itu?" Ah Jeno sudah berharap tentang mobil itu.



Taeyong menoleh ke arah Jeno. "Kau saja tidak tau bentuk bayi yang bahkan belum berumur satu bulan Jung Jeno dan kau bilang adikmu batu." Taeyong mengerucukan bibirnya.




"Sudah di pastikan dia pasti tidak mendengarkan guru Dad." Seru Mark.



Jaehyun mengangguk setuju. "Maka dari itu Daddy tidak akan membelikan mobil untuk Jeno."



"Ya Tuhan bisa tidak Jeno pindah keluarga saja." Dengusnya kesal.



Taeyong, Jaehyun dan Mark tertawa pelan, ah mereka memang senang menggoda si bungsu—ah sekarang dia bukan bungsu lagi.



~~



"AAAA MAMAA." Hendery berteriak lalu berlari di rumah besarnya.



Sementara Haechan ikut berlari di belakang Hendery dengan tangannya yang membawa sesuatu. "HYUNG TUNGGU, INI LIHAT DULU!!!" Haechan ikut berteriak pada kakaknya.



Johnny yang sedang berada di dapur untuk mengambil air pun hanya menghela napas lelah, entahlah anak-anaknya suka sekali berteriak dan tidak bisa diam tinggal tunggu saja Nyonya besar ikut berteriak juga.




Ten yang berada di ruang keluarga seakan tidak peduli dengan dua anaknya, ia masih sibuk memainkan ponselnya. Tubuh Ten sedikit terdorong ketika dengan tiba-tiba Hendery duduk di sampingnya dan langsung memeluknya erat. "Mama~"



Ten berdecak kesal. "Apa lagi yang kalian ributkan?" Sungguh bisa tidak Ten hidup tenang sehari saja.



Hendery menelusupkan wajahnya pada leher Ten lalu tangannya menunjuk Haechan. "Itu lihat anak pungutmu Ma, dia membawa kodok." 



"AKU ANAK KANDUNG!!! KAU YANG ANAK PUNGUT!!" Sang adik tidak terima lalu mendekati Hendery dan melempar kodok mainan itu ke arah kakaknya. "Rasakan itu, main sana dengan kodok." Kemudian si bungsu keluarga Seo itu tertawa terbahak.




Hendery berteriak ketika mainan yang berbentuk kodok tersebut jatuh di atas pahanya dengan reflek dia langsung melompat ke atas sofa. "Ya!! Seo Hendery!! Ini hanya mainan." Ten mengambil mainan itu dan melemparnya entah kemana. 



"Bisa tidak kalian sehari tidak ribut?" Tanya Johnny yang baru saja datang dengan membawa dua jus jeruk untuknya dan istrinya.




Mata Haechan berbinar. "Wah Papa kau sangat pengertian sekali." Tangan Haechan sudah hampir mengambil gelas yang baru saja Johnny letakkan di atas meja jika saja Ten tidak memukul tangan anaknya.



"Bukan untukmu!" Ujarnya galak, membuat Haechan mengerucukan bibirnya.



Hendery duduk di tengah kedua orangtuanya, ia tidak mau menginjakkan kaki di lantai ia masih takut.



"Sayang kau tau?" Tanya Ten.


"Ada apa?"


Ten mengambil ponselnya lalu menunjukkan sesuatu pada Johnny. Mata Johnny melebar sebelum senyumnya mengembang. "Wah Taeyong hamil? Memang si Jung satu itu suka sekali menanam benih." Ia terkekeh pelan.



"Mommy Tae hamil?" Tanya Haechan dan ia mendapat anggukan dari Ten. "Wow, apakah Mark Hyung dan Jeno marah ketika tau Mommy Tae hamil?" Tanyanya lagi.


Ten melihat ulang percakapannya dengan Taeyong. "Tidak, bahkan Mark dan Jeno kini sedang bertengkar untuk menentukan nama adik baru mereka. Padahal jenis kelaminnya saja belum di ketahui haha." Ten tertawa pelan.



Johnny melirik dua anaknya sebentar sebelum menatap istrinya. "Honey, ayo kita buat adik bayi juga." 


"Ide bagus." Sahut Ten cepat.


"TIDAK!!" Tolak Hendery dan Haechan bersamaan.



Ten memutar bola mata malas. "Yang akan buat Mama dan Papa, yang akan hamil Mama jadi terserah Mama harusnya."



"Haish aku tidak mau adik! Aku kan juga masih imut." Haechan berpose seimut mungkin di hadapan kedua orangtuanya.


"Aku akan kabur dari rumah jika benar-benar memiliki adik baru." Tambah Hendery.



Bukannya berhenti Ten malah melanjutkan. "Oh itu bagus, silahkan kabur dan Mama tidak akan mencarimu karena Mama akan mendapatkan anak lagi bukan?"



Rahang Hendery terjatuh, ia mengancam bukan untuk mendapat respon seperti ini! Tapi kenapa Mamanya--ouh ini gila!



"Aku juga Aku juga akan pergi dari rumah jika ada adik baru." Haechan berseru, matanya menukik tajam ke arah Ten dan Johnny dan menurut Johnny anak bungsunya itu tidak ada seram-seramnya malah terlihat sangat imut.



Ten tersenyum lebar. "Wah benarkah? Hm kalau seperti ini rasa ingin hamil lagi semakin besar." Ia menaik turunkan alisnya untuk menggoda dua anaknya. "Jika kalian pergi kan tidak akan lagi yang bertengkar di rumah, itu sangat bagus."



Haechan menatap ten tak percaya lalu ia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. "Ya Tuhan bantu Haechan semoga Mama tidak hamil lagi." 



Ten dan Johnny yang melihat kelakuan anak bungsunya hanya tertawa pelan, niat Ten hanya menggoda mereka berdua karena memang ia juga tidak berniat hamil lagi. Memiliki dua anak yang sangat berisik saja sudah sangat melelahkan bagaimana jika nanti ia hamil lagi anak ketiganya lebih berisik dari mereka? Ten tidak bisa membayangkan itu semua.




~~

"Tidak, itu jelek lebih bagus Jung Beom." Sahut Mark.


Jeno menatap kakaknya jengkel. "Apa maksudmu Jung Beom? Kau pikir adik bayi judul lagu boy grup terkenal itu apa, Beom Beom Beom Beom Beom, kau aneh Hyung." Jeno mengejek kakaknya. "Pilihanku sudah paling tepat yaitu Jung Gyu." 


Jaehyun dan Taeyong yang duduk di atas sofa hanya menggeleng melihat dua anaknya yang sudah meributkan nama adiknya, jenis kelaminnya saja belum jelas masa sudah menentukan nama.


"Jung Beom."

"Jung Gyu."


"Jung Beomgyu." Jaehyun ikut menyahut dengan menggabungkan kedua nama yang di ributkan anaknya.


"Tidak semua! Sekarang kalian diam!" Nyonya Jung akhirnya buka suara karena sudah terlalu jengan dengan dua anaknya. "Mommy yang akan memberikan nama."


"Siapa?" Tanya kedua putra Jung.

"Jung David."


Jaehyun, Mark dan Jeno menatap Taeyong bingung. "David? Ah tidak tidak, namanya terlalu kebaratan nanti dia pasti mirip Mark Hyung yang sok kebarat-baratan ini." Tolak Jeno yang langsung mendapatkan tendangan dari kakaknya.




Taeyong berdecak. "Mommy yang hamil kenapa kalian yang ribut, bahkan jenis kelamin adik bayi belum ketahuan bagaimana jika adik bayi perempuan hah?" 



"Beri nama Jung Divad saja kalau begitu." Sahut Jeno santai.



Taeyong melemparkan bantal sofa ke arah Jeno karena ia kesal dengan anaknya itu. "JUNG JENO!" Kesalnya.



Mark tertawa keras melihat Jeno terkena omelan Mommy mereka, semantara Jaehyun hanya menyandarkan punggung pada sandaran sofa. Ia hanya akan melihat mereka bertengkar, lihat saja jika sudah lelah pasti akan berhenti sendiri.


TBC

The Love of Mine (Jaeyong)Where stories live. Discover now