BAB 1

45 6 23
                                        

Pagi cerah menyambut Reta. Gadis bertubuh ramping nan mungil itu,berjalan menyusuri koridor Langkah santainya,menginstrupsi setiap derap kaki. Sembari bersiul-siul tenang. Reta celingak-celinguk mencari sesuatu. Ia menuju rooftop sekolah. Tempat berkumpulnya,ia bersama sang kawan-kawan.

Dirasa aman,dan tentram. Gadis itu berjalan santai,menaiki tangga rooftop. Langkahnya terhenti ketika suara,masuk ditelingnya.

"Mau kemana?" Reta menoleh,alangkah terkejutnya ia. Mendapati sang Ketua Osis berada disini,Leon. Gadis itu cengengesan,merasa tak bersalah. Atas perbuatannya. Ia mencari-cari alasan tepat untuk mengelabuhi sang Ketos ini.

Reta menggaruk tengkuknya."Hm ... Anu itu––."

"Gagap lo?" tanya Leon dengan raut tak santai. Hal itu membuat Reta semakin gugup dibuatnya. Keringat dingin mengalir,dipelipis parasnya." Astaga! Lo ngatain,gue gagap? Ih kok gitu sih?!" Leon merasa risih,ketika aksi Reta dimulai.

"Gak usah basa-basi. Tingkah lo,buat gue jijik," terang Leon,membuat Reta semakin panas dibuatnya. Kalo aja nih,ya. Bukan Bebeb Yayan,gue udah cekik nih leher! Nyeselin banget sih, batin Reta. "Kok gitu,sih Bebeb Yayan?" Lelaki itu bergidik ngeri,ketika Reta menyebut namanya,dengan embel-embel Bebeb'

"Nama gue,Leon! Bukan BebebYayan," tegas Leon."Dan jangan,panggil gue Bebeb Yayan lagi! Sekarang lo kekelas! Atau gue,laporin Papa lo," lanjut Leon mengancam Reta. Gadis itu membulatkan matanya,sedetik kemudian ia berlali kembali menuju kelasnya.

Leon geleng-geleng,dengan kelakuan Reta yang tak pernah berubah. Lelaki itu kemudian lanjut,kembali bertugas mengelilingi,area-area yang biasa menjadi tongkrongan anak bandel.

***

Reta berlari hingga nafasnya hampir,saja habis. Jika ia tidak berhenti. Gadis itu menoleh kebelakang memastikan jika Leon sudah pergi. Reta menghela nafas pelan. Ternyata Leon sudah pergi,hampir saja ia dibuat mati.

Gadis itu memegang dadanya. Yang berdetak tak karuan."Ini gue,punya masalah jantung,apa giamana ya?" gumamnya,Reta kembali celingak-celinguk dikoridor.

Sangat sepi.

Pantas saja,sekarang pelajaran tengah berlangsung. Ia kali,ini masuk kekelas. Langkah pelannya,menuju kelas. Membuat Reta sedikit berlari. Alih-alih mendapati Anak OSIS berjaga,bisa-bisa ia akan mendapatkan hukuman. Ia malas jika harus berlari,keliling lapangan. Ataupun apa itu.

***

Nafasnya menderu tak karuan,ketika sampai dikelas. Ia sedikit mengintip sudut pintu kelas. Matanya,mengintip bagian kelas yang masih aman,dan ramai. Banyak murid-murid yang berlalu-lalang. Bergosip,dan juga bermain game.

Gadis itu tersentak ketika,bahunya ditepuk. Pelan-pelan kepalanya bergerak kebelakang,takut jika ia ketahuan Papanya.

Reta menghela nafas pelan. Ahh,ternyata itu Bu Eka. Guru Bahasa Indonesia,yang terkenal ramahnya luar biasa,dan juga bahasanya yang terlalu baku.Jadi kalian harus,sabar jika menghadapi guru yang satu ini.

Bu Eka menaikkan satu alisnya."Kamu sedang apa,Reta?" Seketika itu,Reta memikirkan kalimat tepat untuk menjawabnya. Ia malas berdebat dengan guru ini.

"Saya,tadi habis kekamar kecil duli Bu. Saya lupa jika tas,saya masih nyantol. Jadi saya,berniat kembali,untuk memastikan kelas benar-benar tenang,saya masuk deh Bu." jelas Reta,entah kenapa ia merasa mulutnya menjadi kering.

Wanita didepan Reta,diam. Sudah dipastikan sedang mencerna kalimat yang baru saja,dilontarkan oleh mulut Reta tentunya. Gadis itu yang merasa sadar,jika ia terus meladeni Bu Eka. Maka mulutnya akan,lebih terasa panas.

LETAWhere stories live. Discover now