1. Unexpected Moment

24 0 0
                                        

Shanin menghembuskan napasnya setelah melihat pesan yang berasal dari benda pipih digenggamannya. Jika tahu begini gadis itu memilih pulang dari tadi, hampir setengah jam ia menunggu dosen pembimbingnya terkait masalah skripsi yang Shanin kerjakan dan ternyata berakhir sia-sia.

Gadis berkuncir kuda itu berjalan menuju tempat parkir dan segera beranjak meninggalkan kampus menggunakan motor matic miliknya. Hari ini Shanin harus mencari pekerjaan baru, karena beberapa hari lalu ia diberhentikan sebagai waiters di cafe dekat kosnya hanya karena ia terlambat datang ketika pengunjung sedang ramai-ramainya. Sebagian hati kecil Shanin bersyukur karena ia tidak harus menghadapi bosnya yang super galak, namun merasakan betapa sulitnya mencari pekerjaan membuat sedikit menyesal. Ah seandainya saja mendapatkan perkerjaan semudah membalikkan telapak tangan.

Shanin tenggelam dalam lamunannya dan seketika ia tersadar saat melihat mobil berhenti dengan jarak kurang dari 5 meter, mata gadis itu membulat dengan bibir terbuka menyadari motornya masih melaju dengan cepat. Bagaimana bisa ada orang yang parkir mobil sembarangan seperti itu? Dan ketika jarak semakin dekat pintu mobil itu terbuka, Shanin berusaha menekan klakson berkali-kali dan kedua tangannya menarik rem kuat-kuat. Oh tidak! Tetap saja hal ini tidak bisa dihindari.

BRAKKK!!

***
Mobil keluaran terbaru Nissan Leaf berwarna putih itu berhenti didepan sebuah toko bunga kecil yang ada dipinggir jalan. Sang pengemudi bernama Mario iku berdecak singkat, jika bukan perintah ibunya ia tidak akan mau membeli bunga ditempat ini. Selain kecil dan sempit toko bunga didepannya ini tidak memiliki sedikit space untuk memarkirkan mobil. Ah seharusnya Mario ingat bahwa hari ini peringatan kematian neneknya dan menyiapkan bunga sejak awal agar tidak terjadi hal dadakan seperti ini.

Ponsel mahal pria itu berdering. Tanpa melihat siapa penelfon itu pun Mario sudah tau bahwa itu mamanya. Tak menunggu lama Mario langsung mengangkat panggilan tersebut.

"Halo Ma, ini Mario masih cari bunga."

"..."

"Iya bentar lagi sampe sana kok, "

"..."

"Mario kan sudah bilang Ma, Mario nggak akan jual apartemen itu."

"..."

"Iya secepatnya Mario cari pengganti." Pria itu memindahkan ponsel ke tangan kiri sedangkan tangan satunya berusaha mencari earphone yang mungkin terjatuh pada bagian bawah kabin mobil.

"Iya Mario paham, Ma. Mario juga nggak bisa pilih orang sembarangan buat jagain apartemen itu." Jawab Mario, ekor matanya melirik jam tangan bermerk Tudor Heritage Blackbay yang melingkar di pergelangan tangan kanan. Seharusnya ia sampai di rumah orang tuanya saat ini, mengingat jadwal hari ini cukup padat. Seusai acara keluarga nanti Mario bersama dengan Mas Andre-Manager pribadinya akan bertemu dengan beberapa kru dan sutradara terkait film yang akan dibintangi oleh Mario nanti.

"Ya sudah Mario tutup dulu Ma, nanti di bahas lagi disana." Masih fokus dengan ponsel di genggaman tangannya, Mario membuka pintu mobil tanpa melihat jalanan belakang yang tentu saja banyak orang berkendara. Bahkan pintu mobil Mario belum sepenuhnya tertutup tetapi di belakang sana sebuah motor matic melaju cepat dengan pengendara yang memasang wajah panik. Ini pertanda buruk! Niat hati ingin menghindar tetapi sepertinya gerakan Mario terlalu lambat, hingga kemudian kejadian yang tidak di inginkan keduanya pun terjadi.

BRAKKK!!

Tabrakan itu cukup membuat Mario terpental, entah bagaimana pemotor itu baik-baik saja malah sebaliknya. Mario tidak sanggup memikirkan hal tersebut kepala Mario terasa pening melihat keadaan sekitar yang dikerumuni banyak orang, tangan kanannya terasa panas hingga detik berikutnya pria itu tidak sadarkan diri ketika orang-orang berusaha menolongnya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Oct 02, 2021 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Rely On YouWhere stories live. Discover now