Prolog

4 0 0
                                        

Hari esok pasti ada, matahari akan terbit di ufuk timur seperti biasa, langit akan perlahan berubah warna, dan dunia akan terus berjalan. Tapi adakah kita di sana? Apakah kita masih diberi kesempatan untuk menghirup udara pagi itu, atau justru tertinggal di detik ini, terjebak dalam rasa lelah yang tak kunjung reda? Saat diri sendiri pun tak yakin bisa menyelesaikan hari ini, bagaimana mungkin berharap pada hari esok?

Bagi sebagian orang, kalimat seperti ini terdengar pesimistis, bahkan mungkin dianggap bentuk kepasrahan yang menyedihkan. Mereka akan berkata, "Jangan menyerah, kuatkan dirimu," seolah kekuatan itu bisa muncul begitu saja hanya dengan kata-kata. Tapi bagi mereka yang sedang tenggelam dalam badai pikiran dan luka yang tak terlihat, kalimat ini bukan sekadar kepasrahan—ini adalah kejujuran terdalam, seruan sunyi yang lahir dari pertarungan batin yang tak pernah dimengerti orang lain.

Ada banyak jiwa di luar sana yang merasa demikian. Terperangkap dalam labirin gelap pikirannya sendiri, berjalan tanpa tujuan yang pasti, hanya untuk memenuhi rutinitas, berharap hari demi hari berlalu tanpa luka tambahan. Mereka tidak benar-benar hidup, tapi juga belum sepenuhnya mati. Terkekang, seakan terjebak dalam penjara tak kasat mata yang dibangun oleh rasa takut, kecewa, dan keputusasaan.

Menyerah? Mungkin. Tapi kadang, menyerah bukan berarti berhenti. Ada bentuk menyerah yang justru menjadi upaya terakhir untuk bertahan—memasrahkan diri kepada takdir karena tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Seperti seorang prajurit yang meletakkan senjatanya, bukan karena pengecut, tapi karena sudah terlalu lelah untuk terus berperang.

Dan di tengah semua itu, muncul satu pertanyaan sederhana, namun sulit untuk dijawab: Masih sanggupkah?

Masih sanggupkah untuk bangun besok pagi dan berpura-pura semuanya baik-baik saja? Masih sanggupkah untuk tersenyum di depan orang lain meski hati terasa kosong? Masih sanggupkah untuk percaya bahwa di balik semua ini ada cahaya yang menunggu?

Tak ada jawaban pasti. Tapi mungkin, hanya mungkin, keberanian terbesar bukanlah tentang menatap hari esok dengan penuh harapan, melainkan tentang bertahan di hari ini—meski dengan napas yang terputus-putus, meski dengan hati yang penuh luka. Karena kadang, bertahan adalah bentuk perlawanan yang paling sunyi dan paling kuat.

-
Halo‼️
Ini akan menjadi cerita pertama yang diupload pada tahun ini.
Aku sebagai penulis pemula sangat berterima kasih untuk kalian yang sudah menyempatkan diri untuk membaca cerita ini.
Jikalau ada kritik dan saran, boleh kalian sampaikan langsung. Karena aku terbuka dengan krisar kalian.
-
Enjoyy

TomorrowWhere stories live. Discover now