Bagian Pertama

18 6 1
                                        

“Aku masih disini. Aku akan selalu ada buatmu. Kau masih bisa cerita semua keluh kesahmu seperti dulu, aku akan mendengarkan. Tapi jangan paksa aku bergabung denganmu”

~Hana~

🍁🍁🍁

Aku mencintainya. Aku tidak tahu sejak kapan rasa ini tumbuh, tapi aku hanya merasakan rasa ini semakin kuat dari hari ke hari. Sikapmu yang dewasa tapi kadang manja, senyummu, caramu memanggil namaku, aku suka. Suka semuanya. Setiap malam aku selalu memimpikanmu. Kemanapun dimanapun aku selalu melihat bayanganmu.  Kevin, aku ingin kau selalu ada di sisiku.

“Hey, apa yang kau tulis,”teriak Kevin sambil merebut bukuku. Tepatnya buku diaryku.

Aku mengambil buku Diaryku kembali sambil mengerucutkan bibirku.

“Kau selalu seenaknya Kevin,”kataku.

“Hana, kau marah,”katanya sambil mendekatkan mukanya ke mukaku “membuatku ingin menciummu saja,”bisiknya lembut.

Aku kaget. Mungkin mukaku sudah semerah tomat.

“Jangan menggodaku,”kataku sambil mendorong wajahnya.

Kevin tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. “mukamu merah,hahaha.”

“ITU TIDAK LUCU!!”kataku sambil bangkit meninggalkan Kevin yang masih tertawa.

Sepanjang jalan aku menggerutu.
“Apaan sih si Kevin itu, jantungku hampir copot. Aku bahkan masih gemetar”gerutuku.

Aku berjalan dan terus berjalan lalu masuk ke kelas. Aku heran anak-anak di kelas itu memandangiku. Aku berfikir apa ada yang aneh denganku. Sedetik dua detik, aku baru sadar tak ada seorangpun di kelas itu yang aku kenal.

“Sial, aku salah masuk kelas” batinku.

Aku tersenyum lalu berkata “maaf” lalu segera keluar dari kelas.

Aku merutuki diriku sendiri kenapa aku bisa sebodoh ini. Aku berjalan cepat di koridor. Aku lihat Kevin berlari dengan wajah yang begitu ceria. Ada apa dengannya. Aku belum siap. Aku belum siap.

Kevin terus berlari kearahku. Aku sudah hampir menggerakkan tanganku untuk memeluknya. Itu yang biasa ku lakukan kalau dia sedang senang. Tapi Kevin Melewatiku. Aku tercengang dan terdiam di tempat.

“Mona...”ku dengar suara Kevin memanggil seseorang.

“Bahkan suaranya terdengar lebih lembut daripada ketika dia memanggilku,”batinku.

“Kau menungguku?”ku dengar Kevin bertanya.

“Iya, kau lama sekali,”kata perempuan itu manja.

“Maaf membuatmu menunggu,”ucap Kevin lagi.

“Tak apa,”kata perempuan itu lagi.

Kenapa hatiku sakit. Aku harus pergi. Aku baru mau melangkah ketika kudengar suara Kevin memanggilku.

“Hana..sedang apa kau di situ,”panggilnya lembut.

Apa yang harus ku lakukan?? Oh Tuhan, tolong aku.

Aku menghela nafas lalu berbalik sambil tersenyum.

“Aku rasa aku kelupaan sesuatu,”kataku sambil tersenyum.

“Oh ya, Hana.. Kenalkan, ini Mona anak teman ayahku. Cantik kan?”Katanya sambil tersenyum.

“ Dan Mona, ini Hana sahabatku, teman terbaikku,”katanya lagi.

“Hana”kataku sambil mengulurkan tanganku.

“Mona” kata Mona sambil menjabat tanganku.

“Kalau begitu aku pamit dulu,”ucapku.

Hari berganti hari sejak Kevin memperkenalkan Mona padaku. Kevin sering menghabiskan waktu bersama Mona. Sedangkan aku selalu duduk sendiri di taman sekolah. Aku merindukan sosok Kevin yang dulu. Yang selalu memperhatikanku, yang selalu mengodaku. Aku sedang melamun ketika tiba-tiba dari belakang ada  yang menutup mataku.

“Kevin..”ucapku.

“Bagaimana kau tahu?”ucapnya.

“Siapa lagi kalu bukan kau”ucapku sambil tersenyum.

“Apa kau tidak kesepian?bergabunglah bersama kami,”bujuknya.

Jujur aku senang Kevin masih memperhatikanku.

“Aku hanya tidak ingin mengganggu kalian. Kalian pacaran kan?” tanyaku lembut.

“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Kevin heran.

“Tega sekali kau, aku kan sahabatmu. Tapi kau tidak pernah cerita sedikitpun,” ucapku ketus.

“Ayolah jangan marah. Aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu,”ucapnya lirih.

“Aku tidak marah,” ucapku sambil tersenyum. “Aku capek, aku ingin pulang.”

Kevin menahanku “Apa kau kecewa padaku?kau marah padaku?ini tidak seperti Hana yang ku kenal.”

“Aku masih Hana yang dulu. Kevinlah yang berubah,”ucapku.

“AKU?BERUBAH,”teriaknya.

“Sudahlah Vin, aku mau pulang,”ucapku.

“Apa kau ingin aku memilih antara kau dan Mona?”teriaknya lagi.

“Bukan begitu maksudku Kevin, aku hanya tidak ingin mengganggu kalian. Aku ingin menjaga perasaan Mona(dan perasaanku),”kataku.

“Lalu bagaimana dengan perasaanku?untuk apa aku punya kekasih kalau aku kehilangan sahabatku?”teriak Kevin lagi.

“Aku masih disini. Aku akan selalu ada buatmu. Kau masih bisa cerita semua keluh kesahmu seperti dulu, aku akan mendengarkan. Tapi jangan paksa aku bergabung denganmu,”ucapku.

“Aku kecewa sama kamu,”ucap Kevin lalu pergi meninggalkanku.

                          🌹🌹🌹

Hey, Author di sini😊

Jika Kamu suka cerita ini, jangan lupa tinggalkan jejak dan follow author ya🤗

Baca juga The Secret of Vampire 🤗

Everything for YouStories to obsess over. Discover now