Anak laki-laki berjaket hitam itu duduk bertekuk lutut, sesekali ia menutup mulutnya yang menguap, matanya berusaha untuk tetap terbuka.
"Lana..!! Maaf kita telat!" Dua gadis berwajah mirip itu menghampirinya, masih dengan nafas yang tak teratur.
"Kalian ini..! keburu mataharinya terbit." Anak itu kembali mengalihkan pandangannya, menatap semburat cahaya di ufuk timur.
"Lana,, Lana,, coba deh tebak, Zalva yang mana Zivana yang mana?" Ujar salah seorang gadis itu. Anak itu melirik sekilas.
"Pertanyaan macam apa itu? Ya sudah jelas, Zalva kamu, Zivana yang pakai jaketmu." Ujar anak itu sedikit ketus.
"Yaahh,,Lana nggak seru! Padahal papa sama mama aja nggak bisa bedain kita kalau kita nggak pake gelang." Gadis itu cemberut. ia mengambil tempat disamping Lana, ikut menatap fenomena alam yang satu itu.
"Kamu kira aku bodoh? Aku tahu perbedaan kalian." Anak itu bertopang dagu.
"Sok tahu!" Gadis itu menyenggol lengannya.
"Nggak kok. Lagian Seorang Zivana itu selalu memanggil aku dan kamu 'kak' , inget lho! Aku kakak kelas kamu." Ujar anak laki-laki itu.
Gadis disampingnya itu menghela nafas, "Biarin! kita kan nggak satu sekolah."
"Sudah-sudah, mataharinya mulai naik." Zivana menengahi. Mengundang empat mata itu memandangnya.
"Ya kalo nggak naik, dunia nggak terang Zivanaa!!" Ujar dua orang itu hampir bersamaan. Zivana tertawa kecil. Zalva dan Lana saling pandang.
"Lana tuh yang ikut-ikut." Ucap Zalva.
"Serah dah!" Lana kembali memandang matahari itu.
Hening sejenak, mereka sibuk menikmati pemandangan. Lana melirik dua gadis disampingnya. "Kapan kalian manggil aku pakai nama asliku?"
Zalva mengangkat alis, "Nggak ah, nama Maulana itu bagus, ya kan Ziv?"
"Maulana itu artinya pelindung kami. Aku suka panggil kakak pakai nama itu, ya sebenernya aku belum tahu nama kakak siapa." Zivana nyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Nah tuh, Zivana aja setuju, kamu kan satu-satunya laki-laki di sini. Entar kalau udah gede, kamu yang bakal jaga kita." Sambung Zalva.
"Baiklah, terserah kalian." Lana tersenyum simpul.
hening sejenak.
"Kalian tahu nggak, kenapa aku suka sunrise?" Ucap Zalva, bola matanya masih memandang matahari yang jauh disana.
"Karena matahari itu terbit setelah gelapnya malam, memberi penerangan, memberi pengahangatan, memberi kehidupan. Ya intinya, saat sunrise itu saat-saat terindah." Senyum Zalva mengembang. Lana mengangguk.
"Tapi terkadang saat sunrise itu saat terburuk buat orang yang telat bangun, buru-buru deh sholat shubuhnya." Sahut Lana. Satu pukulan mendarat dibahu Lana, Zalva menatapnya tajam. lana meringis, "Bercanda Zal, bercanda. tapi emang bener, ya kan Ziv?"
Tak ada jawaban, mereka menoleh. Nampak tubuh Zivana yang bergetar hebat, disertai muka pucat Zivana. Dan perlahan matanya tertutup.
"Ziv, jangan bilang alergimu kambuh!" Lana menangkap tubuh Zivana yaang hampir jatuh. Muka Zalva pun terlihat pucat.
"Zal, panggil orang! Buruan!" Lana menatap Zalva, ia sendiri tak kalah panik, tapi ia sampingkan hal itu. Keselamatan Zivana lebih penting. "Zalva!"
Lana menepuk pundak Zalva. Zalva mengangguk pelan, lantas berlari sekuat tenaganya. Air matanya terus mengalir, ia benar-benar ceroboh.
"Zivana,,, aku minta maaf!" Tubuhnya berkali-kali jatuh saking buru-burunya menuruni bukit. tak ia pedulikan rasa sakit itu. Zivana harus selamat.
###
Assalamu'alaikum,,, readers..
Ini bukan cerita pertamaku sih, tapi aku masih belajar, masih banyak salahnya, ambil baiknya, buang buruknya.Semoga menghibur dan bermanfaat buat kalian. Terimakasih dah mampir :)[]
Wassalamualaikum..
Sabtu, 1 Agustus 2020
Salam Hangat
Ahza_
YOU ARE READING
ZALVANA
SpiritualHanya sekedar cerita fiksi yang berkisah tentang sebuah persahabatan. Tentang Zalva, gadis 16 tahun yang memiliki sifat super dingin, cenderung anti sosial. Namun, tak ada yang tahu, bahwa ia kesepian. Ia ingin sekali membuang masa lalunya jauh-jauh...
