Happy reading!
________
_________________
________
Dengan langkah terseok-seok, gadis itu berhasil menjauhi tempat kejadian ledakan di restoran tempatnya berkumpul bersama teman-temannya untuk merayakan ulangtahun salahsatu teman sekelasnya. Pada waktu kejadian Aeraa berada di toko bunga yang terhalat lima toko dari restoran tempatnya berkumpul untuk membeli bunga karena kadonya tertinggal dirumahnya.
Tubuhnya bergetar, napasnya juga semakin menipis. Namun, gadis itu tetap mempertahankan kesadarannya. Kepalanya masih pusing, toko bunga tempatnya membeli bunga ikut terkena ledakan walaupun tak parah namun efek ledakan sempat membuatnya pingsan.
"Hahh..hahhh..." Deru napasnya memenuhi toilet umum. Aeraa membasuh wajahnya yang terdapat banyak cairan merah. Ingatan ditoko bunga tadi kembali berputar di kepalanya. Saat Aeraa terbangun dari pingsannya, yang didapatinya adalah seorang wanita tua yang memeluk tubuhnya, tubuh tua ringkih itu sudah tak bernyawa, banyak darah yang keluar dari tubuh itu. Aeraa berteriak sambil melepaskan tubuhnya dari tubuh yang melindunginya itu, orang itu, mati tertembak.
Kakinya lemas, tidak sanggup lagi berjalan. Gigi nya tak hentinya bergemelatuk. Saat kesadarannya mulai menghilang, pintu toilet terbuka secara paksa. Menampilkan seorang lelaki bertubuh tegap besar.
"Nona, sadarlah!" Nada kekhawatiran terdengar bersamaan dengan tubuhnya yang terasa ringan.
+++
Cahaya memenuhi penglihatannya, memaksanya membuka mata. Di atas Ranjang empuk, Sangat nyaman.
Senyum terukir dari bibirnya. Aeraa melepaskan genggaman tangannya, lalu membelai lembut wajah pria itu. Sempurna. Bibirnya, alisnya, rahang tegas, mata yang tertutup sedikit bengkak.
Aktifitas tangan Aeraa terhenti saat tangan lelaki itu menggenggam tangannya. "Morning baby," ucap gadis itu.
"Ah, jeleknya."
Lelaki itu beralih ikut naik keatas ranjang dengan wajah khas bangun tidurnya, mengahadap Aeraa.
"Ada yang sakit? Tunggu sebentar, akan ku panggilkan dokter." Ucapnya khawatir.
Aeraa membalas dengan senyuman lalu menggeleng. Mata mengantuk Jungkook itu sangat lucu, serta bibir tipis yang terlihat kering. Rasanya ingin memakan lelaki dihadapannya saat ini, tapi tidak bisa.
"Aku baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir." Jungkook menatap tangan Aeraa yang menggenggam tangannya erat. Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke wajah gadis itu.
"Menangis saja, aku tidak akan mengejekmu." Mendengar perkataan Jungkook, Aeraa tertawa kecil diiringi buliran-buliran air mata yang membasahi pipinya.
"Jantungku hampir copot saat kejadian itu." Ucap Aeraa sambil tertawa.
"Nara. Kenapa dia juga meninggalkan ku, Jung?" Sambung gadis itu lalu kembali melanjutkan, "aku benar-benar akan menghabisi orang yang menjadi dalang dari semua ini."
Aeraa mengangkat wajahnya lalu tersenyum kearah Jungkook.
"Terima kasih karena sudah menemaniku disaat aku sendirian." Jungkook diam. Merasa hatinya juga ikut sakit.
"Aku, akan selalu ada untukmu." Jungkook mencetak senyum tipis di bibirnya sambil mengusap pipi Aeraa sayang.
"Jungkook, ayo makan, aku lapar."
"Ayo, kau mau apa? Akan ku pesankan." Jungkook keluar dari kamar untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di ruang tamu.
Aeraa menatap tubuh Jungkook yang menjauh, "ah, sayang sekali, air mataku jadinya terbuang."
{}
Kayaknya alur ceritanya bakalan aku ganti sedikit dari yang dulu deh, jadinya aku unpub dulu semuanya, terus nanti publish nya pelan-pelan:)
Chu.
YOU ARE READING
Elegantní [M]
Teen FictionSeseorang bertanya padanya. "Apa yang selalu ingin kau pertahankan selama kau masih hidup? Apakah itu harta kekayaanmu? Atau kisah asmara mu?" Maka wanita bermarga Min itu menjawab. "Banyak! Yang pasti diriku sendiri." Orang itu kembali bertanya, "s...
![Elegantní [M]](https://img.wattpad.com/cover/234870048-64-k134540.jpg)