1.0

883 48 6
                                        

Hembusan nafas lelah menyambut dua pasang mata yang masih lugu sedang melemparkan bola untuk satu sama lain. Bruk. Suara hentakan tubuh di kursi coklat yang sudah tidak empuk lagi bahkan, busa yang terdapat di dalamnya sudah banyak yang mencuat.


Bukankah wajar sudah berumur tiga belas tahun seperti umur sang anak pertama yang baru saja pulang dari masjid bersama adik laki-lakinya.
“Ayah, ingin minum apa?” Anak laki-laki yang masih menggunakan sarung berwarna biru sejak dirinya sekolah dasar kelas satu itu berdiri di hadapan sang ayah.


“Air putih saja.” Anak laki-laki lainnya beranjak mengambil segelas air untuk sang ayah yang baru saja pulang kerja. Tangan yang mulai kusut itu memijat pelipisnya pelan. Pikirannya sungguh berkecamuk saat mendapati banyaknya pekerjaan kantor yang masih belum terselesaikan.


Ditambah dengan masalah costumer yang tak kunjung selesai membuatnya harus lembur.
“Dimana Wendy?” Tangan itu bergantian untuk mengambil air putih dari anak laki-lakinya. Tangan kanan sang anak mengisyaratkan pintu reot di dekat dapur sambil bergerak seolah sedang menulis. Kepala itu mengangguk paham.


Suara tangisan menggantikan keheningan sementara yang terjadi di rumah kontrakan itu. Biasa. Anak lima tahun yang masih berebut bola satu sama lain. Wajah mereka tak terlalu mirip walaupun banyak yang mengatakan bahwa kembar memang tak selalu sama.


Suara langkah kecil membuat dahi sang ayah berkerut.
“Ayah, bisa membantuku mengerjakan matematika?” Suara perempuan dengan buku bergambar kumbang sebagai covernya menatap berharap sang ayah mau membantunya.


“Chanyeol ajari adikmu.” Chanyeol, bocah berumur tiga belas tahun itu mengangguk. Membawa adiknya duduk di depan meja kayu yang sedikit digigit oleh rayap. Anak laki-laki lainnya mengikuti pergerakan antara Chanyeol dengan Wendy, adik perempuan satu-satunya. Menggerakkan beberapa tangannya untuk membantu sang adik mengerjakan matematika.


Kepala Wendy memperhatikan mulut sang kakak yang hanya membuatnya menggelengkan kepala tak paham.
“Aaa.” Sang kembaran mengacungkan tangannya sehingga mendapatkan perhatian dari Chanyeol dan Wendy. Jari tangannya membentuk angka dua. Chanyeol mengusak surai adik laki-lakinya sambil tersenyum. Tidak diragukan lagi, adik laki-lakinya itu memang pintar.


“Bagaimana kau tahu?” Wendy menatap bingung kembarannya. Mulut itu bergumam ‘Tadi guruku menjelaskannya’ Wendy mengangguk.
“Apakah gurumu tidak menjelaskan, Wendy?” Bocah perempuan berkuncir dua itu hanya tersenyum.
“Kau pasti tidak mendengarkan.” Lagi-lagi hanya tersenyum sambil memangku adik kembar laki-lakinya yang baru saja menangis berebutan bola dengan saudara kembarnya.


“Kalian tidak boleh bertengkar. Tidak boleh jadi anak nakal.” Suara manis milik Wendy mendapat anggukan dari kedua adik kembarnya.
“Mau digendong Mas, Mbak.” Sehun, salah satu dari bocah lima tahun itu ingin keluar dari pangkuan sang kakak perempuan untuk meminta gendong kakak laki-lakinya.


Kembaran Wendy hanya mengulurkan tangannya untuk menerima tubuh dari Sehun yang cukup gempal daripada kembarannya, Kai. Suara bantingan keras membuat sang ayah terlonjak kaget menatap pintu rumahnya yang nyaris copot akibat perempuan berumur tiga puluh lima tahun yang masih terlihat seperti model itu.


“Bun, kalau masuk ucap salam terlebih dahulu.” Sang ayah menatap anak perempuannya. Benar-benar didikannya, sama seperti sifatnya yang langsung mengungkapkan semuanya.
“Diam, kamu ya. Anak kecil.” Kini pandangannya beralih pada suami yang kini menatapnya bingung.


“Kamu ada hubungan apa sama bos barumu itu, mas?” Irene, wanita yang sudah menjadi kekasihnya sejak Sekolah Menengah Atas dan lima belas tahun yang lalu resmi menjadi ibu dari anak-anaknya sedang menatap tajam.


Keluarga GemilangHikayelerin yaşadığı yer. Şimdi keşfedin