Kukencangkan genggaman pada ponsel. Sebaris pesan yang dikirim Pak Bahri membuatku kalut. Padahal lima menit lalu aku masih duduk nyaman di dalam ruangan Profesor Adam. Beliau bahkan akan menandatangani lembar skripsiku. Aku masih ingat aku tersenyum lebar saat itu.
Kemudian bagai petir disiang bolong Pak Bahri mengirim pesan padaku kalau Oma pingsan akibat jatuh dari kamar mandi. Tanpa mempedulikan keberadaan Profesor Adam dan nasib skripsiku, aku segera berlari keluar.
Napasku berkejaran. Panggilan dari teman-temanku pun tidak kugubris. Aku bergegas menghampiri salah seorang abang ojek yang mangkal di depan kampus. Aku meninggalkan skripsi dan laptopku di ruangan Profesor Adam, untungnya aku tidak melupakan tas milikku.
Untungnya keadaan jalanan Jakarta Jum'at pagi ini nggak terlalu padat. Pak Bahri bilang istrinya menemukan Oma pingsan di lantai kamar mandi saat hendak memberikan lauk. Kemudian Pak Bahri bersama Pak RT segera membawa Oma untuk diperiksa ke rumah sakit.
Aku kembali berlari menuju meja resepsionis untuk menanyakan keberadaan Oma. Di sana di atas brankar, Oma terbaring dengan mata tertutup. Selang infus terpasang ditangannya.
"Tsania! Kamu sudah datang? Sini."
Aku mendekat, berdiri di samping Oma yang tidak sadarkan diri. Air mataku luruh bersamaan dengan usapan lembut dipunggungku. Aku lantas memeluk tubuh renta yang berbaring itu. Tubuhku bergetar karena desakan pedih yang kurasakan. Diam-diam aku berdoa dalam hati agar tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya.
Sebulan setelah kejadian itu kondisi Oma tak kunjung membaik. Saat dirawat di rumah sakit pun kondisinya tidak menunjukkan kemajuan yang signifikan. Meski begitu aku tetap yakin Oma akan kembali seperti sedia kala. Pasalnya ini bukan pertama kalinya Oma dirawat.
Namun, hari ini Oma justru meminta dokter untuk mengijinkannya pulang. Dia bilang sudah bosan tinggal terlalu lama di rumah sakit. Aku sudah meyakinkannya untuk tetap dirawat, tapi sifat keras kepala Oma tidak ingin dibantah. Malamnya aku bersama Pak Bahri membawa Oma pulang menggunakan mobil ambulans milik rumah sakit.
Di rumah, Oma tidak ku perbolehkan untuk banyak bergerak. Jadi, sepanjang hari Oma hanya duduk dan berbaring di tempat tidur. Oma sempat marah, namun, aku menjelaskan jika semua ini hanya sementara. Jika sudah cukup sehat aku berjanji memperbolehkannya untuk berjalan sampai kedua kakinya pegal.
Dua hari setelah aku mengatakan janji tersebut, Oma kembali kolaps. Kali ini kesedihan yang aku rasakan berjuta kali lipat dari sebelumnya. Tuhan mengambil Oma dariku.
Dokter mengatakan ada komplikasi pada bagian jantung, ditambah kondisi kesehatan Oma di usia tua yang sudah memburuk membuatnya tidak bisa bertahan.
Pemakaman Oma dilakukan sore harinya. Aku hanya bisa menangis sepanjang prosesi pemakaman. Rasa sakit itu kembali saat aku melihat nisan bertuliskan nama Oma.
Sekarang aku sebatang kara. Satu-satunya keluarga yang kupunya telah meninggalkanku. Aku sedih, sangat amat sedih. Namun, kepergian Oma bukanlah akhir dari segalanya. Umurku masih muda, masih banyak peluang yang menungguku di depan sana.
Sepanjang malam aku berpikir tentang rencana mengenai masa depanku. Beberapa bulan lagi aku resmi menerima gelar sarjana, bermodal hasil tiga tahun kuliahku itu, mungkin aku bisa bekerja di salah satu firma hukum di Jakarta. Membangun karir sambil menyisikan sebagian uang gaji untuk membuka bisnis sendiri kemudian membangunnya hingga bisa menjadi sumber pemasukan utama. Rencana yang bagus. Setelah itu aku berdoa sebelum tidur. Berharap bisa melewati hari esok dengan baik.
Namun, keadaan berkata lain, kupikir setelah mengambil Oma dariku dan berjanji menjalani hidup dengan baik maka Tuhan akan sedikit menyayangiku. Rupanya aku salah. Ujianku belum berhenti sampai disitu. Karena keesokan paginya aku justru menemui sepasang suami istri yang mengaku telah dititipkan amanah oleh Oma untuk menjagaku.
Mereka juga berkata bahwa pernikahanku dengan salah satu putra mereka telah disiapkan. Aku merasa tidak berpijak pada tanah setelah mereka berkata demikian.
Aku berharap itu hanya candaan atau jika tidak mereka sudah mengunjugi rumah yang salah. Tapi, laki-laki bernama Ghandi itu mengatakan kalau mereka bahkan mempunyai bukti tertulis dengan tanda tangan Oma dan Opa.
Apa maksud semua ini? Kenapa mereka merencanakan perjodohan ini tanpa sepengetahuanku?
***
Konflik cerita ini dipastikan tidak akan rumit. Bahkan rencananya jumlah babnya tidak akan lebih dari 30. Hohooo
Doakan semoga bisa ya🤲
STAI LEGGENDO
Marrying The CEO
Storie d'amoreApa jadinya jika keluargamu yang telah tiada, sebelumnya sudah menyiapkan masa depanmu dengan seorang CEO tampan? Bingung? Tidak terima? Atau mungkin langsung setuju? Marcell itu dingin kayak kulkas. Tsania tidak suka, tapi waktu ditanya kenapa dia...
