Senyum. Iya, setauku, aku hanya mengingat senyum. Entah dari mana bisa. Itu adalah sisa dari akal sehatku. Sebagian besar sudah berangkat termakan buaian setan. Jahat, yang tidak bisa aku deskripsikan dari dulu maupun di hari kemudian. Kubiarkan itu mengganggu, mengganjal, tidak mengumpat.
Tidak mengerti mana yang harus kupilih. Hilang dan berhenti kesakitan atau menangis-nangis, meraung tidak karuan. Berhenti bodoh, tapi akan kehilangan pondasi yang dulu tidak ceroboh. Meringis pedih kedingininan lalu sendirian dan hampir mati, rutinitas tengah malamku.
Lalu kamu bergurau. Berkata bahwa, "Ah, ini hanya cobaan hidup, kenapa kamu mesti rendah dan gugup, tidak berkedip dan tidak mengangguk. Ini bukan akhir hidup, ini mudah dilewati, tidak perlu berlebihan dan itu membutmu menjijikkan."
Jantung tidak merespon adanya tanda-tanda kehidupan yang membahagiakan. Beberapa dari rempahan mimpiku, masih ada, di sini, tepat di pangkuanku. Tapi, jika aku demam, semua itu kian perlahan memudar. Demam tinggi yang aku anggap ini adalah satu dari seratus tanda bahwa aku, perlahan, dihancurkan oleh kesepian.
Ini bercanda bagimu, tapi tidak bagiku. Semua tampak mudah dihadapanmu. Tidak peduli seberapa membusuknya air mataku yang menyerap ke permukaan lantai. Tidak peduli sudah berkerak atau bahkan membuat muak. Bagimu, aku hanya foto, dua dimensi, yang tercetak, lalu terletak di dindingmu yang mulai berwarna ungu bagiku.
Di ujung sisi ruangan ini. Aku mulai membidik pintu keluar agar tidak terusik. Semua adalah soal nekat atau tetap ingin dikekang kuat. Beberapa tetap tidak tahan, tapi tetap memilih untuk berpegangan kepada yang menyakitkan. Lalu aku, hanya sedang menuggu kapan waktu yang tepat untuk aku merangkak dengan senyap ke pintu di sebelah ruang sembap.
Aku yang dahulu tidak pernah memikirkan tentang asumsi verbal yang datang agar aku tidak terjerumus dalam diam. Remisi yang seharusnya ada, jadi tidak aku dapatkan karena aku sempat berontak terhadap jalan Tuhan. Jadi, saat ini, semua yang aku korbankan untuk perasaan, semuanya hanya jadi puing penuh dengan kekesalan.
Lalu, belakangan ini, semua menganggapku bodoh dan tidak berotak. Semua mencaci dan berkata, "Lihat, kebegoanmu itu mulai nampak dan akan terus kasat jika kamu tidak berjalan ke pintu darurat!"
Menghela napas, kencang, agar tidak begitu menyedihkan. Menutup mata dan semoga lupa akan membuka. Tidak ingin mati, hanya perlu mati suri.
ŞİMDİ OKUDUĞUN
Sedu Sukma
ŞiirMengapa walaupun perasaan menyakitkan dan membodohkan, tapi tetap banyak manusia yang menggandrungi dan memprovokasi?
