Prolog

25 2 0
                                        

Drap drap drap...

Suara langkah kaki yang berat namun cepat memenuhi gendang telingaku. Saat ini, beberapa orang sedang menyusup ke dalam panti asuhanku. Kalau kata pengasuh panti setiap malam, mereka datang untuk menangkap beberapa anak nakal yang tidur lewat dari pukul sepuluh malam. Astaga, kalian percaya itu? Aku yang kini masih berusia sebelas tahun pun tidak percaya dengan omong kosong seperti itu. Kalau saja saat ini tidak ada suara langkah kaki yang terdengar menyeramkan itu. Suara itu terus menerus menghantui benakku.

Suara tembakan dan jeritan anak-anak mulai terdengar. Aku meringkuk ketakutan di bawah selimutku. Jantungku memompa darah dengan cepat. Keringat dingin menghiasi pelipisku. Ini menakutkan. Ini menakutkan. Pikiranku mengelana ke mana-mana. Kata-kata pengasuh panti yang selalu dia ucapkan sebelum aku tidur, yang selalu kuanggap sebagai omong kosong mulai terbukti. Terlepas dari itu, sahabatku yang masih tertidur pulas tampak terganggu dengan suara-suara yang ditimbulkan orang-orang itu. Dia menggaruk hidungnya yang tidak gatal.

Sahabatku yang ini memang tukang tidur. Jadi di saat seperti ini pun dia masih bisa terlelap dan bermain di pulau kapuk. Ampun deh. "Hei, Jenong..." panggilku, berusaha untuk membangunkannya dari tidurnya yang lelap. "Bangun... kita harus kabur... kabur..." lanjutku. Aku berusaha sekuat mungkin agar suaraku tidak terdengar ketakutan, meskipun detak jantungku berpacu cepat. Tetapi sepertinya itu hal yang sia-sia. Dia malah menepis tanganku secara tidak sadar.

Oke, sebelum lanjut membangunkannya, aku akan menjelaskan beberapa hal tentang kamarku dan Jenong. Kamar di panti asuhan ini berisi empat orang per kamarnya. Kamar kami berisi empat orang. Aku, Jenong, dan sepasang kembar yang selalu bersama-sama setiap saat. Terdapat dua ranjang bertingkat di tiap kamar. Aku dan Jenong satu, dan sepasang kembar itu satu. Aku yang tidur di bagian atas ranjang kembali melongok ke bawah. Oke, mari bangunkan si Jenong sekali lagi.

"Jenong..." panggilku lagi. Kali ini, dia segera terbangun. Matanya yang indah dan elok, beserta bulu matanya yang lentik selalu berhasil memanjakan mataku. Aku amat menyukai mata itu. Tetapi, sekarang bukan waktu yang tepat untuk mendeskripsikan kecantikan Jenong. Jenong yang terbangun bersamaan dengan suara tembakan dilepas, segera naik ke ranjangku dan meringkuk memeluk dirinya. Ekspresinya menjelaskan ketakutan dan kegelisahan kami.

"Rio, apa yang terjadi?" tanya Jenong setengah berbisik. Dia sengaja mengecilkan suaranya agar sepasang kembar tidak terbangun.

"A...Aku tidak tahu. Daritadi sudah terdengar suara tembakan dan suara jeritan. Sepertinya yang dikatakan pengasuh panti tentang penculik anak itu benar-benar ada."

"Jangan ngawur, Rio. Kamu sendiri tahu yang seperti itu tidak nyata."

"Kalau begitu, suara yang sedang kita dengar ini apa?" bantahku.

"Sssst! Diam!" desisnya. "Mereka melangkah mendekat." ujarnya, lantas matanya dengan liar menyapu seluruh kamar. Tangan mungilnya bergerak gelisah memilin selimut.

Suara keributan itu mendadak hilang bak ditelan bumi. Sebagai gantinya, suasana hening dan mencekam hadir menghiasi kamarku dan Jenong. Rasa gelisah, cemas, dan takut masih menghantui kami berdua.

"Kita harus kabur, Rio. Kita berempat," desisnya. Tatapan matanya mencerminkan seberapa seriusnya dia dalam perkataannya.

"Eh, bagaimana dengan teman-teman kita yang lain?" panikku. "Mereka juga harus kabur!" Tentu saja aku berkata seperti itu. Aku adalah yang tertua di antara mereka semua. Aku merasa aku memiliki kewajiban untuk melindungi semua anak-anak yang berada di panti asuhan dengan tiga tingkat ini.

Dua kembar yang namanya May dan Mey tiba-tiba terbangun, merengek. "Kami ingin ke toilet, Kak Rio." Dengan langkah gontai, mereka berjalan membuka pintu sambil mengucek mata. Aku dan Jenong segera panik, hendak mencegat mereka berdua untuk keluar dari ruangan. Terlambat. Mereka sudah melangkahkan kaki keluar. Tepat saat itu, suara jeritan memecahkan lengang. Oh, sial! Mereka tertembak!

"Rio, Rio! LARI!!!" jerit Jenong kalap. Aku yang tidak kalah panik, berusaha untuk mencari cara keluar dari kamar.

Ah! Jendela! Kamar ini kan berada di lantai tiga! Aku bisa melompat turun dari jendela! Sambil membuka jendela, aku menyuruh Jenong untuk ikut denganku. Saat berbalik untuk menggenggam tangan Jenong, saat itulah aku tahu aku sudah kalah. Jenong sudah tertangkap. Dua orang berbadan besar dengan pistol masing-masing di tangan kanan mereka tampak sangat sangar. Aku tersudutkan. Jenong dimasukkan ke dalam karung yang diseret oleh pria berbadan besar dengan tato. Karung itu tampak sangat besar, bahkan aku berani bertaruh bahwa anak-anak lain berada di dalam karung itu.

Oh, tidak. Oh, tidak!

TIDAK!!!!

"JENONG!!" jeritku. Demi Tuhan, apapun boleh kau renggut dariku, tetapi jangan sahabatku! Jangan Jenong! Jangan gadis yang aku cintai!

"La...ri... Rio..." ucap Jenong sebelum dia menutup matanya. Dua pria berbadan bongsor itu merangsek maju, mengacungkan laras pistol ke arah kepalaku. Aku tidak ingin lari. Tidak. Kalau harus kabur, maka harus dengan Jenong. Akan tetapi, takdir berkata lain.

Seluruh gedung panti bergetar hebat. Seakan sedang terjadi gempa bumi. Pengasuh panti dengan kepalanya yang dipenuhi darah terlihat dari sudut mataku. Tangan kanan pengasuh panti memegang sebuah detonator.

"Lari, Rio! LARI!" teriak pengasuh panti. Dua pria yang berbadan bongsor itu kembali menembak pengasuh panti. Aku berseru tertahan. Sialan! Berani-beraninya!

DUAAAAAR!!!

Suara ledakan memecahkan gendang telingaku. Pengasuh panti menekan tombol detonatornya! Gedung ini akan hancur! Astaga, apa yang harus kulakukan!? Apakah aku harus kabur lalu selamat, sedangkan anak-anak lain tertangkap dan dimasukkan ke dalam karung goni? Apakah lebih baik aku mati saja tertimpa reruntuhan bangunan?

Aku... tidak tahu...

"Rio, apapun yang terjadi, tetaplah hidup! Apapun yang datang menghadangmu, bersihkanlah jalanmu! Lalu, temuilah aku!" Seakan bisa mendengar Jenong berseru menyemangatiku, aku akhirnya memutuskan untuk loncat dari jendela.

BRAK!

Sial, rasanya sakit sekali. Aku yakin pelupuk mataku dipenuhi air mata. Tetapi, ini bukan saat yang tepat untuk merengek seperti seorang bayi. Aku harus lari! Harus!

Sambil berlari menjauhi gedung panti, aku meneteskan air mata. Aku baru bisa menangis sekarang setelah melihat gedung yang sudah membesarkanku sejak aku kecil terlahap api.

Kuharap kamu masih hidup dan menunggu kedatanganku, Jenong.

***

"Haah... Haaah..." aku menekan kepalaku yang sakit. Sialan. Lagi-lagi mimpi itu. Aku sangat membenci mimpi itu.

Hari ini, aku juga harus bekerja. Bekerja bukan untuk mencari uang,

melainkan untuk mencari Jenong, sahabatku sekaligus cinta pertamaku.



~~~~~~~
Hai haiii, kali ini author kembaliii lagiii ❤️❤️ bersama kak 🌝🎉

Pastikan vote and comment!

P n P Mind WarTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang