P❤L : 5

105 61 17
                                    

   Sinar matahari telah menunjukkan kecerahan nya di celah celah melewati layar jendela kamar Nishel, Alarm yang sedari tadi berbunyi tak juga membuat nya bangun dari tidur nya. Dia sempat mematikan alarm dengan senggolan tangan nya namun mata nya masih terpejam rapat.

Alarm kedua berbunyi kembali dan Nishel beranjak duduk bersandar.

"Paan sih, berisik kali ni alarm, baru jam 6.30! Belum masuk juga!" ucap Nishel dan kembali merebah kan diri nya ke kasur. Ia lalu tersontak bangun "Eh jam setengah tujuh ya Allah! Bused gue belum mandi belum.... Appplapalpal." kata Nishel tak mengerti dan berlari ke kamar mandi. Ia lalu bergegas memakai pakaian sekolah nya dan berlari menuruni anak tangga satu persatu yang di meja makan sudah di tunggu oleh Rani dan Budi, the Parents.

Ia tak duduk di meja makan, hanya berdiri mengambil satu roti tanpa selai dan langsung keluar dari rumah dengan ucapan salam ngebut nya itu.

"By Ayah, bunda! Assalamualaikum!" katanya terburu buru.

"Lah tu anak kenapa Bun!" ucap Budi ayah nya Nishel kepada istri nya.
"IYA NAK, WAALAIKUM SALAM, HATI HATI" balas nya kepada Nishel yang tak nampak lagi jejak nya.

Di jalan penungguan angkot,

"Duh, telat ni gue, Tara juga sih kagak manggil gue!" Nishel panik. Ia bolak balik menunggu sebuah angkutan umum. Namun alhasil juga nihil.

"Ya allah! Gimana nih?"

Peeettt.... Sebuah mobil datang tepat di depanya, dengan sigap ia memasuki angkot itu.

Di sekolah, untung saja tidak ada satpam yang menjaga pagar masuk jadi dengan mudah Nishel memasuki sekolah nya itu. Tampak oleh nya para guru dan murid begitu simpang siur seperti ada acara, berjalan menuju ke kelas nya, dia melewati kantor guru disana pun dia bertemu dengan Meisa kawan sekelas waktu SMP dulu, tapi sekarang dia duduk di kelas X IPS¹!

"Eh Mey!" Nishel berhenti sejenak mendekati Meysa
"Ngapain lu di sini?"

"Gue ada urusan ma Pak Robby, cuman dia nya kagak ada!" jawab Meysa yang mencoba mengintip kembali Pak Robby di pintu kantor guru itu.

"Nak, tolongi ibu antar piring ke kitchen yah!" ucap salah satu guru yang memberi tumpukan piring kotor dan membagi ke tangan Nishel dan Meysa. Mereka lalu membawa ke arah dapur sekolah yang mana melewati tangga menuju ke kelas Nishel karena jarak tangga kelas nya bersampingan dengan dapur dan kantor Guru yang ke II.

"Duh! Dia yang makan kita yang ngantar." ucap halus Meysa namun berisi kritikan.

"Bauk!!" sambung Nishel yang menjauh kan jarak muka nya dari piring yang ia bawa itu.

Menuju ke dapur sekolah, serombolan the geng yang dipanggil Tara kemaren kembali datang. Dia berdiri menggerogoti tangga dengan gaya arrogant nya serta tamvang badboy, di sana juga ada Gery, lumayan banyak anak geng itu.

"Duh, ngapain sih para geng sombong itu berdiri geluti tangga! Kan gue mao lewat ni!!" ucap Nishel dalam hati nya.

Terpaksa dia dan Meysa harus berjalan melewati anak anak itu.

"Ran, Ran tuh!!" kode Gery ke arah Nishel yang saat itu Nishel tahu bahwa mereka berbicara tentang diri nya. Nishel terdiam sambil melihat ke arah mereka. Cuman Randi aja masih songong dengan ketampanan nya tanpa menghirau kan perkataan Gery.

PROVED LOVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang