PART 1

174 62 37
                                    

Nama ku Agreyna Natasha Kaylesse, seharusnya nama pendekku adalah Reyna, tapi orang orang memanggilku dengan sebutan manja, padahal nyatanya tidak. Aku anak tunggal, ibuku bernama Reka dan ayahku bernama Radit.

Sekarang aku duduk di kelas X IPA¹ di SMA TULIP. Sekelas dengan sahabat yang benar benar lemot dan absurd, tapi aku senang berteman dengannya, mau tau namanya siapa? Namanya Tara Putri Zeera.

"MANJA!" Teriak Tara dari luar halaman rumah Reyna, para penghuni kompleks mungkin ikut bergetar bersamaan dengan suara nya yang cempreng.

"IYA IYA!"
"Bun, Reyna berangkat dulu ya! Assalamualaikum!" Ucap Reyna sambil meraih tangan Reka, ibu nya.

"Lama banget sih lu Rey, nanti telat nih!" Gerutu Tara yang melihat Reyna sinis dengan menunjuk kan jam tangan nya kepada Reyna.

"Ya elah, santai aja Tar, biasanya gue yang nungguin lo, lah sekarang? Wahh parah, tumben ni anak cepet!" Ledek Reyna.

Memang benar, ga kayak biasanya Tara buru buru cepat pergi ke sekolah.

"Paan sih Rey, buruan naik." Kata Tara yang telah stand by duduk di atas motornya.

Reyna yang di bonceng nya serasa terbang di awang udara, tak ada pikiran sedikit pun saat dia bersama Tara.

"AAAA....JAN NGEBUT DONG TAR, GUE GAK MO MATI, GUE MASIH MO LIAT MANTAN GUE BAHAGIA AMA CALON BINI NYA NANTI...." teriak Reyna yang dari tadi telah memegang pundak nya Tara, Tara yang melewati beberapa tikungan tajam sedangkan Nishel yang hanya bisa teriak kencang, mungkin saja dia sekalipun juga ikut terseret arus angin itu.

"MANTAN MASIH DI PIKIRIN, KUMO DEH NI ANAK!"

"PAAN TUH KUMO?"

"KURANG MOVE ON HAHAA" full gas nya mencapai 120 kecepatan.

Begitu sampai di gerbang sekolah.
Nishel dan Tara berjalan melewati beberapa koridor, para kumpulan kakel. Nishel hanya bisa berlari kecil dan menunduk yang tak menghiraukan kanan kiri. Begitu pun dengan Tara yang juga mempunyai perasaan malu pada saat itu.

Seketika Tara menepuk kencang pundak Nishel.

"Au sakit Tar!" risih Nishel yang berada di samping Tara, sambil memegang pundak yang katanya sakit itu.

"Gue malu Shel, maluuu" Tamvang Tara seriusan terhadap Nishel.

Nishel yang lugu dengan pembicaraan nya tak mengerti apapun, "Lah, malu kenapa?? Malu ma anak kucing itu ya?" tunjuk Nishel dengan wajah tak berdosa.

"Bukan lah geb, makanya kalo jalan itu jan macam tikus di kejar kucing, pas kita jalan lewat koridor tadi, gue temu sama Marfin, kakel XI IPS², cerita nya...dia tuh chat gue di WhattsApp, trus gue ladeni sambil gombalin diaa!! Malu gue maluuu" pukul Tara kembali ke pundak Nishel dengan nafas nya yang ngos ngosan, jalan Nishel sempat di hadang nya hanya karena masalah yang ingin dia cerita kan.

"Aduh sakit tauk, itu mah DL. Ngapain coba pake gombal cowo segala, ihh najiss dah!"

"Masalah nya dia tadi liat gue sinis." Risih Tara kembali.

"ITU MAH DL!" teriak Nishel kembali ditelinga Tara.

Sambil terkekeh geli, Nishel menaiki tangga satu persatu. Mengingat suaranya yang begitu kencang teriak di telinga Tara, dan untung nya Tara tak merespon.

"Wadauu, rajin kali lu Dev, tumben amat!" ucap Nishel yang melihat Devia yang sedang mengepel tangga kelas, dia menjeda perjalanan nya menuju kekelas nya.

Lesu yang tampak di wajah Devia saat ini.

"Bacot Shel, kalo gak di suruh mak lampir itu, gak bakal gue piket, malas banget argh." gerutu Devia kesal.

"Siapa mak lampir?" sambung Tara kembali.

"Noh, si Revi."

"Hahaa, mampus! Makanya kalo piket itu bersamaan dengan orang orang yang sabar, macam gue! Baca daftar piket nya, dengan orang sabar semua!" Tutur Tara yang menjelas kan secara rinci.

"Gak nanya gue." Jawab Devia kembali.

":/"

     Jam pertama di mulai dengan pelajaran Matematika, begitu bosan sekali, jika di pilih belajar atau molor? Nishel lebih memilih molor! Gimana tidak? Buk Rasni hanya menghabis kan waktu dengan penjelasan sampai jam istirahat.

"Uts, bosaaan." bisik Tara di telinga Nishel. Posisi Nishel saat ini ialah duduk di belakang Tara sambil memegang sebuah pulpen yang di mainkan di pipi mungil nya.

"Sama ae Tar, gue juga bosan." ucap Nishel sembari berbisik dengan ditutupi buku pelajaran nya ke arah telinga Tara.

"Ha-Ha!" (Ide cemerlang)

"Apa Tar?"

"Main-HP hehe!"

***

Jan lupa tinggali jejak berupa like, coment, and share cerita ini. Biar autor tambah semangat ngetik n ngarang nya wkwkwk!

PROVED LOVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang