Pada akhirnya, aku yang selalu ada akan kalah dengan yang kamu sebut setiap do'a.
aku memanggilmu dalam do'a, sedang kamu memanggil nama yang lain dalam do'amu.
do'a ku tulus, sepertinya do'a mu lebih tulus lagi, kalian saling mendo'akan,
sedangkan aku berdo'a sendirian.
Kini, aku datang dengan keikhlasan, melihatmu disandingkan dengan yang lain.
entah senyumku memang palsu,
tetapi aku juga turut bahagia,
melihat kamu yang sehari-hari ada bersamaku, kini berada tepat dihadapanku, dibangku mewah yang pernah kita bicarakan.
saling mengecup kening meski aku tertunduk menghening.
Pada akhirnya, aku memenuhi janjiku, bertemu denganmu dipelaminan, meski hanya sebagai tamu undangan, bukan sebagai pasangan.
Aku bahagia dihari bahagiamu, menulis nama dan tanda tanganku dibuku tamu, bukan dibuku pernikahanmu.
YOU ARE READING
Kau dan Kepergian
PoetryMeski dicintai olehmu telah selesai. Tetapi dalam benakku, kau takkan pernah usai.
