(0) null

5 0 0
                                        

kejadian itu masih teringat, tapi mengapa? padahal sudah sangat lama

----

Sejak siang tadi, hujan deras terus saja mengguyur kawasan dataran tinggi ini. Namun, perlahan hujan pun reda saat sore menjelang. Pemandangan di kawasan ini memang lebih indah saat sore hari, terlebih setelah hujan reda.

Langit yang berwarna sedikit jingga dan pelangi yang membentuk sempurna menambah keindahan sore ini. Udara yang sejuk dengan lingkungan yang jauh dari kota membuat siapa saja yang sedang berada di kawasan ini menjadi tenang.

Gadis remaja yang terlihat senang karena mengetahui hujan sudah reda itu langsung keluar dari villa milik keluarganya. Ia berlari kecil menuju garasi untuk mengambil sepeda gunung milik sepupunya yang ia pinjam kemarin.

Tujuan utamanya adalah kebun teh milik kakeknya. Ia sangat menyukai kebun teh karena aroma daunnya yang sangat harum. Entahlah, jenis daun teh apa yang ditanam di sana, tetapi aromanya memang sedikit pekat terlebih kebun teh itu sangat luas.

Jarak antara villa yang ia tempati tidak terlalu jauh, mungkin sekitar 300 meter dari villa. Tidak butuh waktu yang lama, ia sudah sampai di kebun teh milik kakeknya. Terlihat jelas banyak pekerja kebun yang sedang memilah daun teh.

Gadis remaja itu menyimpan sepeda milik sepupunya di halaman rumah kakeknya. Kebun teh itu terletak tepat di seberang rumah kakek.

"Ara!" terdengar seseorang memanggil nama gadis tersebut. Sontak gadis itu menoleh ke arah sumber suara. Ternyata sepupunya yang bernama Alvaro Rivand Ghara yang memanggilnya.

"Eh Varo, gue pikir monyet yang manggil" canda Ara yang membuat Varo sedikit kesal.

"Mana ada monyet yang bisa ngomong 'Ara' terus mukanya seganteng gue" kesal Varo yang sedang menuntun sepeda yang ia pakai tadi.

" Yaelah canda kali, eh btw lo liat bang Ale, bunda, terus ayah gue ga?" ucap Ara sambil menyebrang menuju kebun teh diikuti Varo di belakang.

"Mana gue tau, gue aja baru nyampe ke sini, paling lagi di kebun" jawab Varo sambil menunjuk ke arah kebun teh.

"Iya kayanya, tadi gue mau ikut ke sini tapi gue lagi mandi hhe" ucap Ara yang diabaikan oleh Varo. Sudah biasa seperti itu.

"Ra, inget ga di sini lo jatuh dari sepeda roda empat" ejek Varo diiringi tawanya sambil menunjuk tempat dimana Ara terjatuh. 

"Gausah ngejek ya lo, itu kan dulu pas kecil untung ada yang nolongin, bukan kayak lo yang malah ngetawain terus pergi huh" kesal Ara. Sepupunya ini memang menyebalkan.

"Eh gue itu niat ngasih tau bunda sama ayah lo, bukan ninggalin lo ya! Gue udah ngejelasin tapi lo salah paham terus" kata Varo sambi memanjat tangga di pohon.

Ya mereka sedari tadi diam di bawah rumah pohon yang dulu menjadi tempat bermain Ara, Varo, dan bang Ale selaku kakaknya Ara. Mereka menghabiskan masa kecilnya di daerah ini, tepatnya daerah Puncak. 

Ara pun menyusul Varo yang sudah berada di atas. Rumah pohon ini terlihat sederhana jika dilihat dari luar. Tidak terlalu besar, bagian luarnya bercat coklat layaknya batang pohon, tetapi dalamnya bercat putih. Di dalamnya terdapat kasur kecil tepat dekat jendela pohon bagian kanan, lalu di dekat kasur tersebut terdapat meja kecil dan rak yang berisi mainan, lalu terdapat kulkas kecil yang mungkin tidak berfungsi sekarang.

Ara sudah sampai atas. Ia langsung duduk di atas kasur kecil , lalu kepalanya keluar jendela. Walaupun rumah pohon ini sudah lama tidak ditempati, tetapi keadaannya masih  kokoh dan sangat bersih. Tidak heran, karena rumah pohon ini selalu di rawat oleh tukang suruhan kakeknya Ara.

Dua orang anak kecil sekitar  5 tahun sedang asyik bermain sepeda. Mereka masing - masing menaiki sepeda beroda empat.

"Valo tungguin Ala" teriak Ara pada saat itu. Namun, Varo tidak peduli, ia terus melajukan sepedanya.

"Aaaaw sakit hiks..hiks.. kaki Ala beldalahtangis Ara menahan lututnya yang berdarah.

"Eh hai, kamu gapapa? jangan nangis ya sini aku bantu." Bukan Varo yang berkata seperti itu tetapi seorang anak lelaki yang seumuran dengan Ara.

"Makasih ya hiks" ucap Ara yang sedang berusaha berdiri sambil dibantu oleh anak lelaki itu.

"Iya sama sama, kamu namanya siapa?" tanya anak lelaki itu.

"Namaku Ala, kamu siapa?" tanya Ara.

"Aku.." belum sempat anak lelaki itu bicara, tiba - tiba ada 2 orang yang lebih dewasa, sepertinya orang tuanya, pikir Ara saat itu.

"Eh Af dicariin ternyata disini, ayo mama sama papa mau pulang" ucap wanita itu.

"Iya mah" jawab anak lelaki itu.

Namun sebelum pergi, anak laki - laki itu memberikan sebuah kalung biasa yang terbuat dari tali berwarna hitam dan terdapat huruf disana, bersimbol A yang memiliki warna seperti pelangi.

"Ini buat Ala, siapa tau kita bisa bertemu lagi, dadah" ucap anak laki - laki itu sambil melambaikan tangan.

"makasih ya" jawab Ara senang.
.........

"Ra..Ra.. sadar hey" ucap bang Ale sambil mengoyang goyangkan tubuh Ara.

"Eh apa kenapa?" jawab Ara linglung.

"Abang kira Ara kesurupan anjir.. daritadi..." Belum selesai Ale bicara, Ara sudah melotot lalu memotong ucapan abangnya.

"Ih abang.. doain Ara yang engga engga. Ara ga kesurupan bang, lagian sejak kapan abang ada disini?" kesal Ara.

"Abang lo dari tadi manggilin lo dari bawah tapi lo gak nyaut anjir, terus gue yang lagi nyusun puzzle  jadi merinding anjir.. gue takut lo kesurupan terus abang lo langsung naik ke sini" jelas Varo sambil menunjukan susunan puzzle nya yang hampir selesai.

"Ohh enggak kok gue ga kesurupan, kalo gue kesurupan juga udah gue dorong tuh si Varo ke bawah" jawab Ara bercanda, tetapi Varo langsung bergidik ngeri.

"Parah lo Ra, tega banget sama sepupu sendiri!" kesal Varo , tangannya bersidakep dada.

"Udah udah ga baik ngomongin kayak gini di sini apa lagi ini tempat udah lama gak ditempatin" kata Ale yang berniat menakut nakuti adiknya ini. Memang Ara sedikit takut dengan hal yang berbau mistis.

"Aaaa abangg!!!" teriak Ara. Abangnya yang sudah tau jika Ara akan berteriak lalu memukulinya pun sudah berada di bawah, memasang muka mengejek.

"Udahlah Ra, bang Ale paling cuma nakut - nakutin lo" ucap Varo lalu menuju tangga ke bawah.

"Varo jangan ninggalin gue, ck" teriak Ara yang langsung menuju tangga ke bawah.

🦛🦛🦛

.
.
.
.
segitu dulu ya, maaf awalnya emang gak rame tapi setidaknya ada petunjuk di situ..

jangan lupa vote & komen yak.

She's DifferentWhere stories live. Discover now