"Okay, rapat kali ini kita tutup. Sekian dari gue." Laki-laki itu sedang membereskan barangnya, setelah mengatakan kalimat akhir yang membuat seluruh penghuni ruangan bernapas lega.
Entah mantra apa yang membuatnya tak bisa terbantahkan oleh siapa saja. Predikatnya sebagai 'ketua osis sma pelita.' mungkin salah satu alasan bahwa dia tak bisa terbantahkan.
Seperti dulu-dulu. Dia pergi tanpa mengucapkan salam dan pergi begitu saja. Penghuni ruangan itu hanya bisa menghembuskan napas lega, lagi.
Tetapi, tidak dengan perempuan berbehel yang kini sedang memaki dalam diam. Dia tak menyangka, bahwa rapat kali ini hanyalah berisi perintah tanpa adanya musyawarah yang membuahkan mufakat.
Pemimpin macam apa yang tidak menerima adanya usulan dari anggota lainnya? Ya hanya Regan Aditama yang melakukannya.
"Ghe, balik sama siapa? Bareng gue yuk." Anggie membuyarkan pikiran Ghea yang sedang mengumpulkan sampah serapah yang patut ia berikan pada Regan-sang ketua osis.
Ghea menoleh, mendapati Anggie yang nyengir. Anggie adalah teman. Iya, teman, teman yang merangkap menjadi mantan pacar kakaknya.
Rasa-rasanya, semua hal yang dilakukan oleh Anggie hanyalah modus semata untuk kembali mendekati kakaknya. Tapi, kian lama Ghea sadar bahwa semua itu nyata tanpa adanya rekayasa.
"Ehm, enggak deh Nggi. Gue masi ada perlu sedikit. Lo bisa pulang duluan. Thanks ya tawarannya." Ghea tersenyum, sembari menjawab Anggie.
"Okay kalo gitu. Gue duluan ya." Anggie berjalan keluar ruangan.
Kini satu persatu dari mereka yang ada di ruangan ini pergi. Ghea pergi meninggalkan ruangan itu lalu bergegas untuk menuju lapangan menemui Gerald--Kakaknya.
Di lapangan SMA Pelita kali ini sedang sepi. Ghea mengedarkan pandangannya keseluruh sudut lapangan. Dan hasilnya nihil, tidak ada Gerald di sana.
Dengan cepat Ghea merogoh ponsel yang sempat ia kantongi waktu rapat berlangsung. Di sana terdapat 10 panggilan tak terjawab dan 1 pesan dari Gerald.
Gerald
Pulang sendiri, gue ada les.
Isi pesannya sungguh singkat. Ghea menghela napas, inilah alasan mengapa Gerald sesuka hati memberi perintah dan membatalkan janjinya dengan Ghea. Ghea tak pernah menjawab pesan maupun panggilan Gerald karena ponselnya dalam keadaan silent, alasan klasik yang selalu Gerald buat untuk Ghea.
Ghea berjalan menuju gerbang sekolah untuk menyetop setidaknya angkutan umum jika masih ada. Sudah berdiri selama 10 menit lamanya, tak ada satupun angkutan umum yang ada. Ghea lagi-lagi mengecek jam tangannya. Pantas saja, sekarang sudah pukul setengah enam sore.
Dengan berat hati akhirnya Ghea memutuskan untuk jalan kaki saja. Tak apa-apa jika memang harus berjalan seperti gelandangan di sore hari. Ongkos untuk naik ojek online tak akan cukup, dia tak membawa banyak uang saat ini.
Berjalan di sepanjang trotoar sendiri memang mengerikan. Apalagi ditambah langit mulai menggelap.
Sial.
Bajunya sekarang basah, karena sebuah motor yang melaju dengan cepat melewati genangan air tepat di samping trotoar yang ia lewati.
Motor besar dengan suara bising itu melaju meninggalkan Ghea setelah membuat basah kuyup bajunya. Mungkin sekarang predikat gelandangan akan benar-benat Ghea terima untuk keadaannya saat ini.
Ah itu dia.
Motor besar dengan suara bising yang baru saja membuat bajunya basah kembali. Ghea tak bisa melihat wajah sang pengendara karena terhalang oleh helm yang pengendara itu gunakan. Motor itu berhenti di samping Ghea.
"Naik." Hanya kalimat itu yang terdengar di telinga Ghea.
"Hah?" Ghea hanya menjawab sekenanya, jujur dia tidak begitu paham dengan maksud pengendara itu.
Pengendara motor itu membuka helmnya. "Naik, baju kamu basah."
Iya tau, bahkan anak kecil yang melihatnya juga tau kalo baju gue basah. Batin Ghea.
Ghea enggan menuruti perkataan sang pengendara, Ghea masih meneliti setiap inci mulai wajah hingga motor sang pengendara.
"Buruan." Laki-laki pengendara motor itu menarik Ghea dengan paksa menuju jok motor belakang.
"Kamu mau culik saya?" Ghea bertanya kepada laki-laki itu.
"Mungkin iya jika kamu belum juga naik ke jok motor saya."
Ghea menaiki motor itu, mungkin untuk sekarang dia tak memusingkan ucapan maaf dari si pengendara ini tapi, Ghea akan memusingkan. Bagaimana caranya mengatakan letak rumahnya nanti.
"Kamu bisa pegangan di pundak saya."
Idih modus bangett si. Kenal aja enggak. Batin Ghea.
Motor ini melesat meninggalkan tempat tadi. Laki-laki itu berujar lagi, "rumah kamu."
Ghea memberitahu laki-laki itu dengan sedikit berteriak membuat tak sedikit penjual pinggir jalan menoleh.
Sekitar 5 menit kemudian, laki-laki itu sudah memberhentikan motornya tepat di depan pekarangan rumah Ghea.
"Terima kasih." Ucap Ghea setelah berhasil turun dari motor laki-laki itu.
Laki-laki itu membalasnya dengan senyuman. Entah sejak kapan helmnya sudah dibuka.
Laki-laki itu lalu pamit, dan menyalakan mesin motornya yang sempat ia matikan.
"Maaf." Setalah itu ia pergi meningglkan Ghea. Astaga, ucapan maaf macam apa itu? Tapi, setidaknya laki-laki itu sudah mengantarkannya pulang.
Entahlah, Ghea tak begitu memusingkan siapa laki-laki itu. Laki-laki asing yang mengantarnya pulang. Mungkin dia akan merahasiakan perihal ini pada Gerald.
Hari ini sungguh melelahkan bagi Ghea.Mulai dari rapat dadakan yang diadakan pada siang bolong setelah sholat Jumat, dan berakhir pada pulang dengan baju basah. Sangat menjijikkan. Seharusnya hari ini dilabeli 'Jumat Berkah' atau malah 'Jumat celaka'?
Ghea bergegas untuk bersih-bersih. Mungkin ini adalah akhir pekan yang memiliki banyak pelajaran yang dapat Ghea ambil.
Setelah bersih-bersih. Ghea membuka ponselnya. Grup Chat OSIS sekarang sedang ramai-ramainya padahal sekarang adalah hari Jumat.
Sedang asyiknya menyimak obrolan OSIS di Grup Chat. Ghea mendongak setelah mendengar suara pintu terbuka. Gerald sudah pulang dengan keadaan wajah lesu.
"Pulang sama siapa?" Gerald mengawali percakapan.
"Teman."
Baik, teman macam apa Ghea? Bahkan namanya aja gue gak inget. Batin Ghea
"Yakin?" Gerald duduk di sebelah Ghea.
"Apa si? Uda sana lo mandi, terus anterin gue cari makan. Gue laper." Ghea tak kuasa untuk berbohong lagi.
"Bawel." Gerald pergi meninggalkan Ghea untuk mandi.
***
Hoho. Hai, semoga kalian sukaa.
YOU ARE READING
RISE
Teen FictionKatanya, dimarahi orangtua karena nilai jelek itu enggak enak. Katanya, dimarahi kalau keseringan main handphone itu enggak enak. Katanya, berurusan sama teman-teman Gerald juga enggak enak. Katanya juga berhadapan dengan manusia purba itu juga e...
