Langit gelap disertai petir yang menggelegar dan hujan deras di sore hari, dipojok kamar yang memiliki dinding berwarna biru langit ada seorang gadis yang tengah melamun. tatapan kosongnya menghadap ke arah jendela yang terbuka lebar, dengan senyum sinis ia pun berkata "Sepertinya hujan lebih mengerti aku, dari pada kedua orang tua ku"
Dan keadaan pun kembali hening, hanya ada suara petir yang menggelegar membuat takut siapapun yang mendengar nya.
Sudah dari kemarin sore Sara, nama gadis yang tengah duduk melamum di pojok kamar yang gelap gulita, karna si empunya tak kuat kunjung menyalahkan lampu dari kemarin. Di pojok kamar, sara hanya melamun sambil memeluk kedua kakinya. Hanya itu yang ia lakukan, menatap kosong kearah jendela. Sambil sesekali mengusap air matanya yang jatuh membasahi pipi nya.
Sejak orang tuanya memberi kabar bahwa ia akan masuk pesantren setelah lulus SMA nanti, ia tak kunjung keluar kamar. Ia mengurung diri didalam kamar, ia tak mau jika lulus SMA ia harus masuk pesantren.
Namun, kedua orang tua nya tetap pada pendirian mereka yaitu memasukkan anak semata wayangnya ke pondok pesantren. Karena keduanya disibukkan dengan pekerjaan, dan akhirnya keduanya tak pernah punya waktu untuk merawat Sara.
Sedari kecil, Sara sudah sering ditinggal oleh keduanya dan bersama Bi inah, pembantu di rumah itu Sara dirawat. Seringkali keduanya keluar kota berbulan-bulan untuk mengurus pekerjaannya itu.
Alhasil, sedari kecil sara merupakan anak yang kurang mendapat perhatian dan kasih sayang kedua orang tuanya. Dan akhirnya sara tumbuh menjadi gadis yang nakal, karena salah pergaulan. Ia bergaul dengan anak-anak yang jauh dari agama, Anak-anak broken home, dan anak-anak yang jauh dari kata baik.
Sara menjadi anak nakal, semenjak ia masuk SMA. Semenjak itu ia sering pulang larut malam, tak jarang ia pulang saat hari menjelang pagi, bahkan terkadang ia pun tidak pulang.
Namun, Senakal-nakalnya sara ia masih bisa menjaga dirinya, menjaga kehormatannya sebagai wanita. Memang, ia sering dugem namun ia tak separah teman teman seusianya.
Orang tuanya pun tak tahu, karna Bi Inah tidak berani melaporkan Sara. Karena sara selalu mengancam akan memecatnya jikalau ia melaporkan kelakuannya kepada orang tuanya.
Namun, seminggu yang lalu tiba-tiba kedua orang tua sara mendesak bi inah untuk menceritakan keseharian sara selama ini. Dan akhirnya dengan nada gemetar, karna takut Sara memecat nya ia menceritakan semuanya.
Dan, keduanya pun tak menyangka ternyata anak semata wayangnya berkelakuan seperti itu. Akhirnya keduanya memutuskan untuk memasukkan sara ke dalam pondok pesantren, sebelum sara terlalu jauh hingga akhirnya hal tersebut merusak masa depan sara.
***
Tok... Tok... Tok.....
"Saraaa, ayo dong nak buka pintunya. Dari kemarin kamu belum makan. Nanti kamu sakit. Ayo dong saraaa" Ucap Riya, Mama sara dari luar kamar.
Namun, sara tak bergeming dan mengacuhkan mama nya. Ia masih saja duduk di pojok kamar sambil memeluk lututnya.
"Sara, ayo nak keluar. Tujuan kami memasukkan kamu kedalam pesantren itu baik nak. Agar kamu jadi anak yang sholehah, berbakti kepada orang tua dan tak jauh dari Agama. Kami merasa gagal dalam mendidik kamu nak, dan kami sudah tak sanggup untuk mendidik kamu, dan membawa kamu kembali ke jalan yang benar." Kali ini Ridwan Ayah sara mencoba angkat suara
Namun, tetap saja sara tak bergeming.
"Saraaaa, sayanggg ayo dong buka pintunya" Ucap mama sarah memelas
Akhirnya, Sara pun angkat suara setelah sekian lama ia tak menghiraukan segala ucapan kedua orang tuanya.
"Dah lah, aku itu udah rusak ma, yah. Aku tuh bukan sara yang dulu. Aku bukan anak mama sama ayah lagi, aku sara yang sekarang. Sara si anak begajulan, si anak durhaka, anak pembangkang dan anak yang jauh dari agama. Semua ini karna apa? Ya karna ulah kalian!!! Kalian terlalu mementingkan pekerjaan kalian!!! Kalian tak pernah ada waktu untuk mengurus sarah!!! Kalian hanya memikirkan diri kalian sendiri!!! Kalian egois!!! Di otak kalian tuh hanya uang yang di nomor satukan hingga anak pun kalian telantarkan!!!!! Kenapa kalian pulang?? Kenapa?? Kenapa baru sekarang kalian ingin memasukkan aku ke pesantren?? Kenapa?? Kenapa ngga dari dulu?? Atau kalian baru inget kalau dirumahkalian memiliki anak? Anak yang kurang kasih sayang, anak yang kurang perhatian!!!!! Kalian baru ingat?? Aaaghhhhhhh aku benci kalian, sana urus pekerjaan kalian aja!!! Ngapain repot - repot ngurusin aku??? Dari kecil juga cuma Bi inah yang perhatian sama aku!!! Kemana kalian selama ini??" Teriak sara dari dalam kamar yang diakhiri dengan suara pecahan kaca
Ia melampiaskan segala amarahnya pada vas bunga di meja belajar nya. Ia melemparkan vas itu ke jendela, dan akhirnya tak hanya vas nya saja yang pecah, namun jendela kamarnya pun ikut pecah.
Suasana hening, tak ada yang bersuara lagi. Diluar kedua orang tuanya dan Bi inah hanya bisa menangis mendengar teriakan sarah. Yang menggambarkan betapa menderitanya ia selama ini, hidup tanpa kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Mama sara yang tak kuasa menahan sesak di dadanya akhirnya pingsan. Walaupun mengetahui mamanya pingsan, sara pun tetap tak bergeming. Ia masih saja melamun dan mengurung diri di kamarnya yang sudah seperti kapal pecah.
******
"Yahh, kita batalkan aja ya" Ucap mama sara memelas
"Maa, ngga bisa gitu dong. Ini demi kebaikan anak kita. Mama mau anak kita semakin jauh dari agama?? Mama mau?? Hanya sarah anak kita satu - satunya ma, nanti kalo kita udah ngga ada siapa yang mau mengirimkan do'a untuk kita kalo bukan sarah" Ucap ayah sara dengan bijak
"Tapi yah, semua sudah terlambat. Sara sekarang sudah dewasa, dan dia mengerti apa yang dia suka dan dia tidak suka. " Ucap mama sara
"Maa, lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali" Ucap ayah sara
"Yasudah yahh, apa kata ayah aja yang penting itu yang terbaik untuk kita semua " Ucap mama sara dengan senyum lebarnya.
***
Dan pada akhirnya, sara pun dengan terpaksa menyetujuinya permintaan kedua orang tuanya. Entah apa yang membuat sara menyetujui hal tersebut. Namun, akhirnya kedua orang tua sara bisa kembali bernafas lega, setelah memasukkan sara kedalam pondok pesantren.
Harapan kedua nya, semoga sara bisa kembali ke jalan yang benar dan menjadi anak yang shalihah.
YOU ARE READING
Aksara
Teen Fiction"5 tahun yang lalu, sebelum kepergian mu kita mengucap janji bersama yang disaksikan oleh semesta. Dan kepulangan mu yang selalu ku nanti, kini menggoreskan luka abadi, bersamamu khayal masa lalu yang sempat terfikir akan sehidup semati, yang akan d...
