Teman Kelas

10 0 0
                                        

Cuaca hari ini terlihat mendung. Angin sepoi-sepoi berubah menakutkan. Seperti auman macan yang sedang melindungi keluarganya dari para musuh. Disisi lain, tampak seorang pemuda yang sedang duduk, diam, termenung diatas bangku marmer. Diatasnya terdapat sebuah pohon yang seakan menari-nari akibat serbuan angin. Sesekali dedaunan  jatuh melekat dibaju putihnya. Tanpa sadar daun-daun tua  bersarang ditubuhnya.

"Seperti inikah hidup ? Tumbuh, dan lalu mati" Pemuda itu berbicara lembut seorang diri.

Seorang lelaki menghampiri pemuda berambut hitam itu. Dan mulai duduk disebelahnya.

"Ngapain lo disini ? Ngelamunin apaan sih ? ." Lelaki itu menyeka dedaunan yang melekat di baju pemuda tersebut.

"Entahlah. Rasanya hari ini buruk sekali. Mungkin pohon diatas  ini memberi pesan. Seharusnya waktu itu gue bisa mati lebih cepat"  Jawab pemuda itu.

"Hei Gris ! Lo ngomong apa sih ?!. Lo itu masih hidup dan belum mati. Dan itu harus lo perjuangin agar roh yang ada didalam tubuh lo itu gak berjuang sia-sia !"  Ujar lelaki itu kepada pemuja berbaju putih yang diketahui bernama Gris.

"Tapi kan Itu kan menurut elo. Kalau menurut gue sih ya beda. Rasanya tuh, gue ga pantes aja berada didunia ini Albi." Bentak Gris kepada Albi.

Lalu seketika hening, namun langit tampak sudah sangat gelap. Tetesan air dikirim Tuhan sebagai peringatan agar Gris bangkit dari duduknya dan berlindung di suatu ruangan.

Albi menuntun Gris menuju ruangan kelas 1 IPA. Bahunya terlihat basah, melindungi Gris dari terpaan air hujan. Gris berjalan sambil meraba-raba dan Albi menuntunnya agar tidak berbelok dari tujuan.

Gris dan Albi merupakan murid pindahan baru di SMA 1 bandung. Mereka telah berteman dari kelas 1 SD. Pertemuan mereka hampir sama. Saat itu Albi sedang membisu memperhatikan seekor ikan di selokan air. Ia berkata kepada Gris

" Kasian sekali ikan malang ini. Hidupnya ditentukan arus. Jika arus ini mengantarkannya ke sarang musuh, maka habislah dia"

Lalu Gris berkata " Kalau begitu, kita selamatkan saja dia. Kita tempatkan dia disebuah kolam. Dengan begitu ia tak perlu risau dan tak perlu memikirkan arus.

Hingga sekarang, Albi lah yang selalu setia berteman dengan Gris. Semenjak Insiden dua tahun lalu, Gris mulai menyendiri. Raut wajah yang biasa periang seperti senja, kini berubah seperti sebuah gerhana. Muram dan menakutkan.

Hari itu adalah beberapa minggu setelah ajaran baru dimulai. Gris dan Albi berada dikelas yang sama. Memakai seragam yang sama, dengan guru yang sama.

Guru Fisika mulai berbicara panjang lebar dihadapan mereka. Membicarakan tentang sebuah tekanan gaya gravitasi.  Suasana kelas tampak hening. Hanya ada suara guru fisika yang berbicara dengan lantang.

Beberapa saat kemudian bel istirahat berbunyi. Semua murid mulai berlarian kesana kemari. Berlarian ke kantin, ke taman dan ada pula yang masih betah didalam kelas. Gris dan Albi.

"Lo kalo mau keluar, ya keluar aja. Gausah nungguin gue. Gak perlu repot-repotlah ngurusin gue. Lo bukan babysitter gue dan gue bukan lagi anak bayi yang harus selalu lo pantau setiap waktu. Lo juga gak perlu nurutin semua yang diperintahkan bokap gue ke elo Al, dan lo berhak bersenang-senang, menikmati lingkungan sekolah, dan juga mencari teman baru, Albi" Kata Gris kepada Albi. Sorot matanya mengarah ke bawah. Kosong dan tanpa nyawa.

"Engga, gue udah gak pingin punya teman. Mereka semua sama. Tampak membosankan dan gue benci merasakan hal itu" Albi menjawab.

"Bacot amat sih lo Al. Hidup lo itu masih panjang dan sempurna dibanding gue. Kalo lo cuma berdiam diri tanpa bersosialisasi, jiwa lo bakal akan lemah dan bahkan mati!" Bentak Gris, dengan tatapan yang masih mengarah kebawah.

"Udahlah gausah sok puitis. Mau gue beliin makanan gak nih ? Gue dengar dari Miska kalau nasi uduk  kantin sekolah ini  lezat loh." Ujar Albi sesekali ia mengelus perutnya yang mulai lapar.

"Miska ? Siapa itu ? Pacar lo ya ?" Tanya Gris.

"Wah gila lo. Ya bukanlah bro. Dia itu wanita yang dulu pernah menjadi tim kita saat penerimaan murid kemarin. Emang lo ga sadar ada suara wanita waktu itu ?" Tanya Albi.

"Hooo, belum juga 5 menit yang lalu lo bilang ga pingin punya temen. Basi lo Al. Tapi...Entahlah, kayanya gue sama sekali ga ngerasain ada kehadiran wanita saat itu." Jawab Gris.

"Kalau begitu lekaslah pergi, gue tunggu disini " ujar Gris kepada Albi.

Lalu Albi meninggalkan Gris seorang diri.

"Apakah akan selamanya begini ? Apakah aku hanya akan membuat repot orang disekitarku saja ? " Gris temenung sesaat. Hujan mulai berpaling dari alam. Hanya tersisa aroma mentari yang menguap.

Langkah kaki terdengar mendekat. Dari irama ketukan kakinya, Gris tau kalau itu adalah Albi. Hanya dia yang melakukan larian dengan sedikit lompatan. Namun ada ketukan yang lain. Dengan kata lain Albi tidak sendiri.

"Hai" suara wanita sedikit membuat Gris tersentak.

"Siapa ?" Jawab Gris dengan nada dingin

"Hei Gris. Kenalkan ini Miska. Wanita yang tadi kuceritakan. Kebetulan kami bertemu dikantin. Lalu aku mengajaknya kemari untuk menemuimu. Kau sendiri yang bilang, kalau kita butuh teman disini" Kata Albi kepada Gris.

"Huh ! Mungkin lo butuh. Tapi gue enggak. Terima kasih" Jawab Gris, dengan tatapan yang masih mengarah kebawah.

"Dingin banget sih jadi cowok. Padahal gue ngebawain lo nasi uduk yang terkenal banget disekolah ini" Jawab Miska dengan menggenggam nasi uduk yang dibelinya.

"Gue kan gak minta ! Kalau lo ga ada kepentingan  apapun yang lebih penting, sebaiknya pergi saja sana !" Bentak Gris.

Miska terdiam sejenak. Raut wajahnya tampak kaget. Ia masih tak mengerti dan tidak paham sama sekali apa yang terjadi dengan pria berkulit putih dihadapannya itu. Miska lalu melemparkan nasi uduk itu tepat diatas meja dimana Gris duduk. Lalu berlari ke arah luar kelas. Dari langkah yang berat, Gris bisa menilai kalau Miska sepertinya sangat kesal.

"Gris !! Lo itu...! Sangat keterlaluan !" Bentak Albi. Lalu ia berlari keluar menyusul Miska. Meninggalkan Gris seorang diri.

Miska tampak duduk di bangku marmer, dibawah pohon rindang, sebuah tempat yang menjadi saksi atas hilangny motivasi seseorang. Wajahnya tampak begitu kesal. Marah, dan jemarinya menggenggam udara. Albi muncul dan duduk disebelahnya.

"Teman lo itu kenapa sih ? Tiba-tiba bicara aneh, gak jelas banget deh !" Tanya Miska dengan nada kesal.

"Hei hei tenanglah dulu. Padamkan dulu emosi mu. Tarik nafas dalam-dalam, hembuskan. Terus ulangi" Kata Albi sambil juga mempraktekkan.

Miska pun terhipnotis dan melakukan apa yang Albi katakan.

"Oke. Sekarang gue tanya ? Dia itu kenapa sih sebenarnya ?" Miska bertanya. Kini nadanya terlihat santai dari sebelumnya.

"Dia memang sedikit ada masalah akhir-akhir ini. Tapi jangan salah sangka. Dia itu aslinya baik kok. Pasti lo ga akan nyesel deh kalo temenan sama dia. Dan sepertinya dia juga butuh teman sih. Soalnya selama ini mungkin cuma gue satu satunya teman yang ia miliki" Jawab Albi.

Miska sedikit mengibaskan rambut panjangnya yang berwarna cokelat.

"Teman ? Orang bodoh macam apa yang mau berteman dengan manusia menyeramkan seperti itu ?" Tanya Miska menatap Albi.

"Kalau kamu berbicara seperti itu, berarti kamu juga bodoh. Karena kamu berteman dengan orang bodoh yang juga berteman dengan seseorang yang bodoh" Jawab Albi tersenyum.

" Oh maaf Albi, bukan begitu maksud gue. Cuma gue rada kesal aja dengan tingkah lakunya. Lo tadi juga lihatkan, bagaimana sikapnya barusan itu ? Udah baik gue bawain dia makanan. Tapi dia, jangankan mengucapkan terima kasih. Melirik pun tidak !" Jawab Miska dengan ketus dan kelihatannya kesal sekali.

Albi sedikit menggeser duduknya mendekat kearah Miska. Ia menyentuh pundak Miska dengan lembut, lalu berbisik ketelinganya.

"Miska.. Dia itu buta.." Jawab Albi pelan.

Fana Tanpa MataStories to obsess over. Discover now