Luka Januari 1

35 3 3
                                        

******

Januari, ia adalah kehilangan yang nyata untuk ku. Bagaimana dengan tidak berperasaannya ia pergi tanpa pamit.

Januari, luka yang selalu menganga tanpa ada obat penawarnya. Aku berusaha sekeras mungkin untuk sembuh dari yang namanya luka, tapi ia tetap kembali dan selalu menyakiti.

Januari, hari-hari kehilangan yang harus aku terima dengan lapang, namun tidak juga menerimanya dengan suka rela.

-Luka Januari.

"Bagaimana rasanya di saat berusaha untuk lupa namun harus di ingatkan dengan paksa? Gue gak ngerti lagi harus gimana Sal! Semuanya gak bisa bikin gue lupa sama sakitnya!" Suara nyaring itu memecah keheningan yang tercipta.

Salsa menatap iba, "Lo harus berdamai dengan rasa sakit itu. Lo gak bisa selamanya terkurung dalam masalalu itu Na! Berhenti buat jadiin dia poros kehidupan lo." Hembusan nafas lelah terdengar dengan seiringnya air mata yang jatuh di pipi Sabrina.

"Gue udah coba segalanya, tapi pengkhianatan yang Nathan kasih gak bisa gue lupain gitu aja!! Dia jahat Sal! Hiks... hik..s.." Tangisnya pecah.

"Gue ngerti, sekarang gue tanya. Apa lo udah berusaha berdamai dengan diri lo sendiri? Apa lo gak kasian sama hati lo yang terus-terusan lo paksa buat terus di sakiti? Na, hidup lo terlalu berharga cuma buat meratapi cowok brengsek sejenis Nathan."

Sabrina sadar, selama ini hatinya selalu ia abaikan. Sakit pun tak ia pedulikan.

Yang ia tau Nathan adalah dunia untuknya yang sekarang. Yang ia percaya bahwa tak akan menghancurkan hidupnya.

Namun sayangnya, ekspetasi yang ia bayangkan tak sejalan dengan kenyataan.

Nathan menghancurkan dunia nya, hati nya, hidup nya.

"Udah lah, masih banyak cowok yang lebih baik dari pada cowok brengsek itu. Ayo! Lo harus berusaha buat move on. Gue bakal bantuin lo sebisa mungkin, lo gak sendiri Na. Masih ada gue yang bisa nyemangatin lo." Terang Salsa dengan senyum hangatnya.

"Apa bisa?"

"Pasti. Gue tau lo pasti bisa!"

Sabrina tersenyum dan memeluk erat sahabatnya.

Kali ini Sabrina yakin, ia harus keluar dari zona nyaman nya. Ia harus keluar dari keterpurukan yang membelenggunya.

Ia tau di luar sana, ada mentari yang akan menyambutnya dengan bahagia.

******

Januari, 02 2018

Hari ini Sabrina terlihat lebih ceria dari biasanya, dia bertekad kepergian Nathan bukan lah akhir dari perjalanan hidupnya.

Sebelumnya tanpa Nathan ia bisa temukan bahagia. Lalu saat Nathan pergi kenapa ia tidak bisa temukan bahagia lagi.

Di sampingnya ada Salsa yang sama cerianya, keduanya melangkah di sepanjang koridor sekolah dengan senyuman yang mengembang.

"Lo tau Na, lo lebih cantik kalo kayak gini. Sumpah gue gak mau liat muka manyun lo yang kemarin-kemarin lagi. Pengen muntah tau!"

Luka JanuariHikayelerin yaşadığı yer. Şimdi keşfedin