BjornBar Bakery satu-satunya tempat yang ingin aku tuju. Aku membayangkan betapa di tengah udara Kanada yang dingin sambil menikmati coklat panas dan sepotong Croissant. Aku mengambil syal coklat muda yang tergantung dibelakang pintu dam memasangkannya di leherku. Aku melangkah keluar berjalan menyusuri jalanan yang saat itu tidak cukup ramai karena udara yang lumayan dingin sore itu.
Aku berada diantrean para pelanggan BjornBar Bakery, memasukkan tanganku kedalam saku mantel ku melihat kesekeliling cafe yang sudah beberapa minggu ini aku kunjungi untuk sekadar menghilangkan suntuk ataupun menghilangkan rasa lapar.
Banyak sekali jenis cake maupun cookies yang dijual disini, terpampang jelas di dalam etalase yang bermandikan cahaya temaram. Sekarang aku bingung harus membeli apa karena Croissant yang biasa aku pesan sudah habis diborong pelanggan sebelumnya.
" Saya pesan Cinnamon sticky bun dan hot chocolate please "
" Baik, silahkan tunggu di sebelah situ pelayan cafe itu menunjuk ke arah pelanggan menunggu pesanan mereka."
Setelah bingung memilih-milih apa yang akan aku beli hari ini aku memutuskan untuk mencoba Cinnamon yang terlihat menggiurkan itu. Aku berjalan menuju tempat yang sudah ditunjukkan oleh pelayan cafe itu.
" Are you Indonesian?" tanya seorang laki-laki yang pula sedang menunggu pesanannya.
"yes. " Aku mengerinyitkan dahiku, bertanya-tanya siapa dia?.
" oh, aku Indonesia juga. Bisa bahasa Indo kan?"
"Ya" . jawabku yang sungguh masih kebingungan dengan sosok yang tepat berada di sampingku ini.
" Erga. Kamu?" dia menjulurkan tangannya untuk mengajakku berjabat tangan.
" Ressa, panggil aja Eca" sambil membalas jabatan tangannya.
Aku kembali fokus menunggu pesanan Cinnamon ku yang tak kunjung diselesaikan. Tak biasanya cafe ini melayaniku dengan sangat lama, sampai aku sempat-sempatnya berkenala dengan laki-laki itu.
"Cinnamon sticky bun dan hot chocolate" teriak salah satu pelayan.
Aku segera mengambil pesananku dan berjalan meninggalkan antrean sekaligus laki-laki itu. Aku memilih tempat duduk yang sudah aku pilih sejak pertama kali aku datang kemari. Hanya dua tempat duduk yang saling berhadapan, dipinggir jendela yang langsung menyuguhkan jalanan. Aku duduk mengambil chocolateku menyeruputnya perlahan sambil memandang ke arah jalanan. Sungguh menenangkan, aku suka sekali suasana ini.
"Boleh aku duduk disini? "
Aku menatapnya lekat-lekat. Ya, dia laki-laki yang baru saja berkenalan denganku dan sekarang ia akan menganggu suasana yang tenang ini.
Aku mengangguk mengisyaratkan bahwa tempat duduk itu kosong. Aku ingin sekali berbohong kalau bangku itu tidak bisa di duduki, tapi naasnya aku memang sendirian.
Dia duduk sambil membawa segelas coffee latte dan beberapa bungkus cookies.
" kamu sendirian?"
" hmm" aku mengangguk pelan.
"apa aku menganggu?"
"biasa saja." ya, kamu sangat menganggu acara bersantaiku, pikirku.
"Aku sering melihatmu datang kesini, apakah kamu tinggal didekat sini?"
"Sejak kapan kamu melihatku?"
"Sekitar dua minggu aku melihatmu, hampir setiap hari." balasnya sambil tersenyum.
"Rumah kakakku berada beberapa ratus meter dari sini"
Dia meminum latte nya sambil melihat kearah yang aku lihat. Ke arah jalanan, yang berlalu-lalang orang lewat.
" kapan kamu akan kembali ke Indonesia?" tanyanya yang sontak membuatku kaget. Kenapa sepenasaran itu dia dengan kehidupanku.
"lusa aku akan pulang." jawabku singkat. Gagal sudah rencanaku memakan cinnamon dengan tenang. Dia banyak sekali bertanya.
" Bisa kamu memberikan nomor ponsel atau apapun yang bisa aku hubungi?"
Ya tuhan, tingkah lakunya membuatku muak. Dia layaknya laki-laki yang ingin melakukan pendekatan dengan segala kebaikan dan senyumannya agar aku luluh, tapi sesudahnya ia pasti akan mencampakkanku.
Aku memberikan nomor ponselku, terpaksa. Ya terpaksa karena aku tidak ingin terkesan jual mahal seperti yang sebelumnya aku lakukan yang malah membuat laki-laki semakin penasaran.
duduk berhadapan langsung dengan laki-laki yang telihat seperti dua puluh tahunan menggunakan mantel berwarna coklat muda persis sewarna dengan syalku, dengan kemeja flanel kotak-kotak berwarna coklat tua yang senada dengan mantel dan sepatu yang ia kenakan.
" sebenarnya apa yang ada dikepalanya, sampai-sampai ia harus mengampiriku kesini" pikirku.
ia hanya duduk diam sambil beberapa kali menyeruput latte nya, terlihat sekali bahwa ia menikmati latte nya. untuk orang baru saling mengenal, ia bahkan tidak terlihat canggung sama sekali.
" apakah ada yang ingin kamu katakan, sebelum aku pergi ?" tanyaku
" buru-buru sekali?" balasnya menghentikan kunyahan cookies dalam mulutnya.
" baiklah aku pergi" aku beranjak berdiri sambil merapihkan bajuku.
aku berjalan menuju pintu keluar sehabis meninggalkan laki-laki yang baru saja kukenal beberapa menit lalu.
telihat cahaya matahari dengan warna oranye keemasan menambah syahdunya perjalanan ku menuju rumah. jalanan setapak yang ditumbuhi sedikit rumput-rumput hijau ketika musim semi tiba, sungguh pemandangan yang asri.
aku masuk kedalam rumah dan melepas syal serta sepatu bootku dan lekas ku letakkan di rak dekat pintu.
" jadi begini kegiatanmu selama disini ketika ibu sedang pergi?" sentak ibuku dari ruang tengah.
aku tersontak kaget melihat kehadiran ibuku yang tiba-tiba ini. ia terlihat kesal sambil membawa secangkir teh ditangannya.
" begitukah pikiran ibu?"
" aku berniat untuk mendinginkan pikiranku sejenak, apakah salah bu?" balasku.
ibu meletakkan cangkir teh dan berdiri menghadapku. setelan rajut berwarna merah maroon dan rok tanggung dengan motif polkadot yang serasi dengan bajunya, dengan rambut coklat dengan beberapa rambut ubannya yang dicepol.
" ibu mendatangkanmu jauh-jauh kesini adalah untuk menjaga mbak Hana, bukan untuk duduk bersantai di cafe" celetuk ibu dengan wajah merah padam.
" bahkan mbak Hana yang menyuruhku untuk datang ke tempat itu bu "
" tapi, tidak seharusnya kamu meninggalkan Ia sendirian begini"
" ia tidak bisa apa-apa Ressa, ia membutuhkan mu dalam segala aktivitasnya. Ibu hanya ingin ia tidak kesepian Ressa." ucap Ibu sambil tertunduk layu.
" maaf Bu, aku tidak berniat begitu."
setelah menyelesaikan perdebatan antara aku dan Ibu, aku memilih untuk masuk kekamar. Satu-satunya tempat yang paling mengerti keadaan diri kita. Tempat yang selalu menerima apapun kondisi kita. Setidaknya jika dunia luar tidak memberi ruang untuk mengenal dirimu, kamar memberikan itu semua.
YOU ARE READING
CROISSANT
Teen FictionAda pertemuan yang berjalan baik sesuai harapan, tapi adapula perpisahan yang tidak diharapkan. perpisahan tetaplah menyedihkan, apapun namanya perpisahan tidak pernah menipu pelakunya, ia tak pandang bulu.
