Prolog

229 12 0
                                        

Gadis cantik nan angun dengan kulit putih bersinar bak cahaya memancar. Hidup dalam keluarga tak mampu dengan bapak hanya buruh kerja di sawah milik Belanda yang memjajah Indonesia kala itu.Ibu yang hanya sebagai ibu rumah tangga. Kondisi ekonomi yang sangat memprihatin kan,entah kapan akan berakhir.
Bukan tanpa sebab, tapi keadaan yang memaksa semua ini terjadi. Jika semua tak dilalui maka nyawa lah yang menjadi taruhannya.Tak bisa berbuat hanya bisa berpasarah dan berdo'a.Berharap ada keajaiban datang pada saat itu.
Namun, semua hanya bisa dilalui nya dengan ikhlas.Bahkan,hanya dengan bisa memakan sesuap nasi saja mereka sungguh bersyukur. Kehidupan yang dilalui hanya menurut perintah dan tak tau kapan akan berakhir. Tak bisa berkata, tak bisa berucap, tak bisa mengungkapakan.Hanya itu yang selalu ada dalam diri gadis cantik ini.
Sawah hanya kehidupan yang selalu digarapnya.Membantu bapaknya, itulah yang dilakukan setiap hari dan harus dijalankan mau tidak mau.
Bahkan, seharusnya gadis seumurannya seharusnya merasakan kehidupan yang menyenangkan namun berbalik seratus delapan puluh derajat dengan Ningsih.
Namun, anak ini hanya penurut dan tak pernah membantah.
Ya,bisa dibilang kehidupan gadis yang memprihatinkan dan mengenaskan, namun harus dijalani.
Gadis ini tidak pernah meminta bapaknya untuk membelikan apapun itu, karena memang dia menyadari bahwa kehidupan ekonomi yang serba kekurangan yang tak berujung.

Ningsih Stories to obsess over. Discover now