Jendral Semangat

26 1 0
                                        

Pelajaran Berhitung hari ini terasa sangat menyiksa. Sarapan yang tidak tersentuh karena bangun kesiangan menyebabkan perutku menjadi kram dan serasa diiris sembilu. Masih ada sekitar 10 menit menuju waktu istirahat pertama, tampak Pak Wahyu memerhatikan dengan saksama setiap detail siswa.

"Waktu mengerjakan tinggal 10 menit lagi. Lihat kembali lembar jawaban, apakah ada yang belum menuliskan identitas diri seperti nama dan kelas? Dilengkapi! Jangan sampai tidak diisi."

"Iya, Pak," seluruh siswa menjawab serempak.

Waktu telah berjalan seirama dengan hembusan angin dari arah pintu. Bunyi longeng waktu tanda istirahat meraung tiga kali.

"Silakan kalian keluar, tinggalkan lembar jawaban dan soal di atas meja. Istirahat 20 menit kemudian dilanjutkan dengan ujian Bahasa Indonesia."

"Iya, Pak," Seluruh siswa kemudian berhamburan keluar kelas. Bagi siswa kelas 3 sekolah dasar seperti kami, istirahat adalah sesuatu yang paling dinanti.

Kantin Pak Majid telah penuh sesak oleh teman-teman dari kelas yang lain, padahal aku, Eko, dan Fadli sudah berlari dengan kencang. Aku berada paling akhir karena memang tadi saat keluar kelas paling belakang. Kulihat Eko dan Fadli telah mengantri lebih dahulu untuk mendapatkan gorengan dan es sirup merah kesukaan kami.

Suasana semakin riuh dengan kedatangan siswa dari sekolah sebelah yang memang satu lingkungan dengan kami. Kami SD Seroja dan mereka SD Anggrek. Aku pun tidak mau kalah untuk ikut antrian yang mulai mengular.

"Hei, jangan dorong dong!" aku memalingkan wajah ke arah belakang menghadap orang yang mendorong.

"Tidak ada yang mendorong kok. Santai aja. Itu anak-anak yang belakang yang mendorong."

Dia Danu, anak kelas tiga di sekolah tetangga. Bukan tanpa alasan dia tidak menyukaiku. Alasan paling utama adalah kelas tiga mereka selalu kalah bermain bola jika ada jam olah raga. Aku seorang pemimpin sepak bola di sekolah. Tiap kelas, mulai dari kelas tiga hingga enam, selalu punya tim sepak bola. Kami di kelas tiga dan kelas enam menjadi terkenal karena selalu menang melawan sekolah tetangga.

"Ayo cepat, Pur. Lama amat pesan gorengannya. Belum juga sampai antrian di depan Pak Majid. Kami tunggu di depan kelas," Eko dan Fadli kemudian meninggalkanku yang sedang mengantri.

"Ok. Nanti aku menyusul."

Tiba antrian itu tepat di depan makanan yang ku suka.

"Pak, beli tempe, tahu, dan bakwan. Es sirup jangan lupa. Nih, uangnya, Pak."

"Iya, Nak."

Pak Majid melayaniku dengan telaten. Walaupun usia telah melawati masa keemasan tapi Pak Majid tetap menjadi pengelola kantin yang paling popular diantara kantin yang lain.

Setelah makanan dan minuman di bungkus, aku kemudian menuju ke kelas. Kulihat di depan kelas, ada Fadli dan temannya. Sekilas tampak seperti Eko jika dari belakang. Langsung saja kubuat kaget dia dari belakang dengan memeluk erat dari arah belakang.

"Hei, Ko. Lagi ngomongin apa ini. Kelihatannya seru."

"Eh, siapa nih, Dli?"

"Purwanto, nih. Masa lupa teman sendiri."

Fadli yang berada di depanku kemudian tertawa.

"Hei, Pur. Kamu salah orang."

Anak yang kupeluk dari belakang ternyata bukan Eko. Sepertinya dia kakak kelas kami.

"Saya bukan Eko, ya. Saya Rahmat," dia kemudian berbalik menghadap ke arahku.

Berapa kaget bercampur malu karena salah orang. Muka ini sudah tidak tau mau ditaruh dimana. Aku kemudian melepaskan pelukanku dan segera berjalan setengah berlari masuk kelas. Fadli dan Rahmat melihatku sambil tertawa kecil.

Di kelas Eko menunggu di tempat duduknya dan melihatku dengan aneh.

"Kamu kenapa, Pur? Seperti habis melihat hantu."

"Aku malu, Ko. Masa tadi temannya Fadli kukira kamu. Masih untung dia gak marah."

Eko tertawa mendengar penjelasanku tadi.

"Makanya, harusnya dilihat dulu siapa yang diajak bicara. Jangan asal pelak peluk aja."

Hari ini sungguh mengesalkan, ujian Bahasa Indonesia dan Berhitung, bertemu Danu, dan salah sangka. Benar-benar hari yang melelahkan.

Jendral SemangatHikayelerin yaşadığı yer. Şimdi keşfedin