2012
Mobil polisi dan ambulance telah terparkir di depan rumah yang indah itu. Suatu insiden baru saja terjadi. Perempuan paruh baya yang tergeletak dan di kelilingi darah baru saja di tikam oleh orang yang tidak di kenali. Anak lelaki yang di sampingnya terus menangis dan berteriak memanggil ibunya.
"eomma1...!!"
Pihak medis membawa parempuan paruh baya itu menuju rumah sakit. Seorang gadis kecil yang bermata bulat menghampiri anak lelaki yang tidak berhenti menangis. Gadis itu tahu apa yang membuatnya menangis. Ia mengambil selembar tissu dan mengusapkannya ke wajah anak lelaki itu.
Setelah lama menunggu, seorang dokter keluar dari ruangan yang di tempati perempuan paruh baya itu. Ia memasang wajah yang sudah di tebak oleh anak lelaki itu. Sebuah kabar duka, Ibunya tidak dapat di selamatkan lagi. Terlalu banyak darah yang keluar sehingga nyawanya tidak terselamatkan. Air mata mulai mengalir lagi, seperti dirinya baru saja kehilangan kehidupannya. Ibu yang menyayanginya dengan tulus telah pergi meninggalkan putra satu-satunya.
Proses pemakamannya di kunjungi banyak orang. Anak lelaki itu tidak berada di tempat itu, ia pergi ke sebuah taman dan menangis sekeras mungkin. Dia belum bisa merelakan kepergian ibunya, setelah Ayah kandungnya yang telah dahulu meninggalkannya bersama ibunya.suatu ketidakadilan, kini ia akan hidup bersama ayah tirinya yang tidak diketahui apakah ia akan menyayanginya seperti ibunya.
1. Ibu
"relakanlah kepergian ibumu, kau tidak bisa berlama-lama dirumah. Teman-temanmu merindukanmu di sekolah"
Ayah tirinya ingin menenangkan putranya agar ia bisa kembali belajar di sekolah. Tapi ini sangat susah baginya untuk merelakan seorang ibu yang selama ini membuatnya bahagia. Ia terus mengurung dirinnya di dalam kamar dan kadang tidak memakan makanan yang biasa ayahnya simpan di depan pintu kamarnya. Sebuah foto yang selalu ia genggam terdapat gambar ibunya dan dirinya saat pertama kali ia melihat dunia ini. Kenangan Ibunya selalu tergambar di pikirannya, sehingga ia pernah berfikir untuk mengakhiri hidupnya demi bertemu dengan Ayah dan Ibunya.
Anak lelaki itu mengusap air mata terakhirnya. Terlalu sering bersedih membuatnya kehilangan air mata. Ia melangkah keluar dari kamarnya, Ayahnya kini lega. Akhirnya ia tidak mengurung dirinya lagi di kamar. Ia sudah berpikir luas, ia akan kembali ke kehidupannya lagi walaupun tanpa seorang Ibu yang ia sayangi. Ia akan membuat Ibunya bangga, dan membuktikan bahwa ia tidak sia-sia dilahirkan di bumi ini. Dirinya berjanji akan membalas kasih sayang Ibunya dengan memperlihatkan bahwa ia akan hidup bahagia di masa depan.
*
Rintihan air hujan membuat suasana hati terasa nyaman. Coklat panas sangat cocok di minum pada saat itu, sambil mengingat kenangan-kenangan indah di masa lalu. Aroma alam yang sangat segar menambah sebuah ketenangan hati. Tatapan matanya tidak pernah lepas dari langit biru, menatapnya dengan dalam-dalam di balik jendela kamarnya. Ini hari terakhirnya menatap langit itu, sebentar lagi ia akan meninggalkan tempat itu. Entah kapan ia akan kembali lagi dan menatap langit itu dengan cangkir yang berisi coklat panas yang ia minum setiap hujan.
" Seona, waktunya pergi,"
Ibunya masuk kekamarnya dan membawa barang-barang yang telah mereka persiapkan tadi malam. Sebuah langkah kecil terasa berat di angkat, seakan tak rela meninggalkan tempat bahagianya sejak kecil. Tawa kecilnya yang penuh bahagia terdengar samar, sebuah bayangan dirinya ketika pertama kali pindah terlihat dari angannya.
Seona dan Ibunya menunggu di bandara begitu lama. Pesawat yang akan mereka tumpangi sedang delay akibat cuaca buruk. Keadaan yang paling di benci oleh para penumpang, sehingga Seona merasa lapar karena terlalu lama menungggu. Ia melangkahkan kakinya menuju kedai kecil yang aroma makanannya menarik perhatian Seona. Aroma coklat khas Amerika, ia ingin mencobanya untuk terakhir kalinya. Tapi langkahnya terhentikan, dirinya baru saja bertabrakan dengan seorang pria yang tidak ia kenal.
YOU ARE READING
Intensity Predestination
Teen FictionTakdir dan Jodoh ada di tangan Tuhan. Kita tidak tahu kapan mereka datang. Kejadian masa lalu bisa saja menjadi tanda-tandanya, tetapi kita tidak akan menyadari hal itu. Berawal dari sebuah pemberian Bunga sebagai tanda perpisahan, hingga menjalani...
