Bab 16 Pemahaman Rasa dalam Dada

2.4K 151 148
                                    


Tahun ini –musim ini, tak bisa ku katakan tahun terburuk, tidak itu tidak boleh. Namun, mungkin akan ku katakan kalau ini, tahun terberat sepanjang aku hidup mengenalmu –semenjak pertama kali aku gugup menerima tatapmu.

Kamu bukan perempuan yang memiliki banyak permintaan pun tuntutan. Bahkan, jarang sekali kamu menuntut sesuatu dariku, hingga membuatku kadang bingung akan apa inginmu. Tapi dari situ aku belajar untuk memahamimu lebih dalam, agar aku paham apa yang kamu butuhkan tanpa kamu ucapkan.

Bahkan, kamu tak pernah protes tentang kekikukanku. Kamu, tak pernah menuntutku menjadi laki-laki romantis. Jujur aku sering merasa bersalah tidak bisa menjadi laki-laki yang mungkin pernah kamu bayangkan pada mimpimu terdahulu. Laki-laki yang datang dengan mengendarai kuda putih untuk menjemputmu menuju altar dan mengikrarkan janji suci. Atau, laki-laki yang datang dengan gitarnya, menyanyikan lagu cinta kemudian berlutut di depanmu dan depan banyak orang untuk memintamu menjadi pacar atau istri. Tidak dan maaf aku tak melakukan itu padamu, aku tidak bisa.

Aku bahkan –dulu harus bertanya pada Lala, bagaimana cara menembakmu. Di dalam mobil, dengan membuatmu kesal terlebih dahulu, aku memintamu menjadi milikku. Aku merasa tidak enak, tapi katamu itu adalah tindakan manis, terima kasih.

Bahkan, saat aku memintamu untuk menjadi pendampingku pun aku tidak bisa merancang rencana manis seperti kebanyakan orang. Otakku tidak bisa memikirkan hal-hal kompleks mengenai percintaan. Bagaimana aku bisa memikirkan hal-hal seperti itu, kalau nyatanya otakku lebih sibuk mencari cara untuk menggunakan lidah ini, agar tidak tergigit saat mengutarakan hajatku.

Caraku bahkan, menjadi bahan tertawaan keluargamu waktu itu. Tanpa mengatakan padamu terlebih dahulu, aku datang, menghadap Papa, Mama, Kak Vino, dan Abang. Ku utarakan keinginanku. Chika, jujur, saat itu rasanya aku seperti daging segar yang diletakkan di tengah harimau-harimau lapar. Papa dan kakak-kakakmu seperti ingin mengerkamku. Tapi, tekadku tidak lantas menciut, aku beranikan, dan kemudian mereka mengiyakan.

Benar-benar masih menjadi bahan lelucon sampai sekarang, bahkan kamu pun masih sering terkikik mengingat bagaimana aku mengajakmu untuk berumah tangga.

Tepat di bawah tangga rumahmu, aku menodongmu.

"Chika, mau ya jadi istri saya,"

Tanpa pegantar apapun, aku langsung mengatakan keinginanku. Aku masih ingat bagaimana terkejutnya kamu saat itu. Aku masih ingat bagaimana kamu mengerjapkan mata berulang kali, karena memang saat itu kamu baru bagun dari tidur malammu. Mukamu pun masih basah akan air yang kamu basuhkan. Dan kamupun masih menggunakan piyama coklat muda dengan kepala beruang sebagai coraknya.

"Hah?"

Itu responmu. Hanya itu hingga beberapa menit berlalu. Aku masih dalam posisiku dan kamu masih dalam keterkejutanmu.

"Mau ya? Jadi istri saya,"

Aku ulang sekali lagi. Bahkan, aku baru sadar, itu bukan pertanyaan. Melainkan ajakan yang mengandung pemaksaan.

Kamu masih diam. Tapi matamu berulang kali melirik orang tua dan kakak-kakakmu yang terkikik geli melihat kita –ah mungkin melihat tindakanku. Hingga lirikan itu kamu sudahi ketika tanganku meraih tanganmu dan menatapmu dalam.

Aku bahkan tidak paham, kenapa tiba-tiba kamu menangis. Padahal sebelumnya kamu terlihat sangat bingung. Aku semakin kamu buat bingung saat tiba-tiba kamu melepaskan genggamanku dan berlari meringsek tubuh Papamu kemudian menangis di dada yang amat kamu cintai itu.

Rhythm Of LoveWhere stories live. Discover now