Bab 13 Keberanian yang Bodoh

1.4K 144 67
                                    

Tak ada yang bisa Vito lakukan kali ini selain berjongkok di samping mobilnya sambil memegangi perutnya. Rasa nyeri dan eneg kini sedang menjalari seluruh penjuru abdomennya. Ia memutuskaan untuk duduk demi meredakan sakit ini. Berulang kali dia terbatuk karena rasa enegnya beberapa kali merangkak naik hingga tenggorokan. Seolah memaksa Vito untuk mengeluarkan isi perutnya.

Dia melirik arlojinya. Jika waktu tidak memaksanya untuk segera melajukan mobilnya ke sekolah Chika, mungkin ia akan memilih berbaring di tempatnya sekarang. Meredakan nyerinya terlebih dahulu, agar bisa terlihat baik-baik saja di depan Chika. Namun, sepertinya percuma juga. Sakit diperutnya mungkin bisa ia sembunyikan, tapi bekas luka di wajahnya, tidak.

Vito berdiri, dia segera menarik gagang pintu mobilnya dan masuk memasrahkan punggungnya ke jok mobil. Ia meraih air minum yang dia simpan di sampingnya. Meneguk hingga tandas air itu dan berharap bisa meluruhkan rasa eneg yang sedari tadi hinggap di ulu hatinya.

Dia mengarahkan kaca sepion untuk melihat pantulan wajahnya. Sudut bibirnya agak memar, hidungnya juga memerah meski sudah tak mengeluarkan darah. Vito hanya berharap, Chika tak menyadari luka di wajahnya ini. Dia tak ingin dihujani pertanyaan macam-macam oleh Chika.

Di sepanjang perjalanan, Vito terus memikirkan bagimana menyusun kalimat yang tepat seandainya Chika bertanya mengenai luka yang Vito dapatkan. Rasa lelah karena baru tadi siang sampai Jakarta, membuat Vito agak susah mengarahkan tenaganya untuk berfikir. Pegal-pegal di punggungnya akibat terlalu lama di dalam kereta belum hilang, selanjutnya malah dia kena baku hantam yang jelas tak sanggup ia lawan.

Hingga sampai depan sekolah Chika, dia paksakan turun. Karena, memang dia tak mengabari Chika kalau dialah yang menjemput gadis itu. Dia berdiri di depan mobilnya, pandangannya ia lemparkan ke arah gerbang. Tak sulit untuk Vito mengenali sosok Chika di antara siswa-siswa yang berhamburan keluar dari gerbang sekolah itu. Sosok Chika memang terlihat sangat berbeda dengan yang lainnya.

Vito berjalan mendekai gerbang saat sosok itu muncul dari dalam dan terlihat mencari-cari keberadaan seseorang. Dia pasti mencari mobil Vino.

Belum sempat Chika menekan tombol panggil pada kontak Vino, ia sudah terlebih dahulu terperanjat akan sosok yang tiba-tiba muncul di depannya ini.

"Hai," sapa Vito sambil sedikit merentangkan tangannya. Ia tahu kalau Chika pasti akan segera menubruk tubuhnya itu.

"Kak– kangen," Vito tersenyum sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Chika. ia juga mengusap lembut punggung gadis yang ia rindukan ini.

Mereka sama-sama memejamkan matanya. Sama-sama sedang menghirup aroma tubuh satu sama lain. Chika menempelkan telapak tangan kanannya ke dada kiri Vito, merasakan getaran lirih dari dalam sana. Sesungguhnya, Chika lebih suka memeluk Vito dalam keadaan duduk, karena dia akan dengan mudah menempelkan telinganya ke dada bidang milik Vito.

Vito melepaskan pelukannya, mengusap lembut kepala Chika. Tangannya dengan telaten menyingkirkan rambut-rambut yang menghalangi pandangannya untuk melihat dengan jelas wajah ayu kesayangannya ini. Ia meneguk ludah dengan susah payah, saat pandangan matanya bersirobok dengan mata coklat magis milik Chika. Dadanya bergetar hebat, hingga ia harus cepat-cepat menarik kesadaranya sebelum jantungnya benar-benar loncat dari dalam sana. Sudah lama dia tak beradu pandang langsung dengan Chika, membuatnya kembali ke keadaan saat pertama kali ia menatap mata Chika.

"Kaget gak?" tanya Vito setenang mungkin. Dia masih sibuk membenarnya rambut Chika yang sebenarnya sudah cukup rapi itu.

"Banget ih! Kamu kok gak kasih tau aku kalau mau jemput sih, kak?" Vito tersenyum, memberanikan diri untuk menatap mata Chika.

Rhythm Of LoveWhere stories live. Discover now