Bab 12 Perihal Keresahan

1.4K 135 55
                                    

Ini sudah kesekian kalinya Vito menyeka air yang merembes di kedua sudut matanya. Dia benar-benar tidak bisa mengontrol tawanya saat ini. Bahkan dia tidak memedulikan tatapan heran dari beberapa pasang mata yang ada di dekatnya. Ah– entah tidak peduli atau kewarasannya telah direnggut oleh video yang dia putar terus menerus dari sebelum rapat tadi.

Semua yang ada di ruangan itu masih memandang Vito heran, ada pula yang ikut tertawa karena melihat Vito tertawa serenyah itu. Mereka tak pernah melihat Vito tertawa lepas seperti ini. Mereka pahamnya, Vito adalah pria yang selalu menjaga tindak tuturnya termasuk dalam urusan tertawa. Saat salah satu temannya melempar jokes yang membuat semuanya terbahak-bahak pun, dia paling hanya mengeluarkan senyum lebarnya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Atau hanya mengeluarkan suara 'ha-ha' seperti itu. Iya, hanya dua kali, seperti hanya untuk formalitas dan menghargai jokes yang dilempar temannya.

Sepanjang rapat pun, manusia itu terus mengukir senyum di wajah. Benar-benar membuat teman-temannya heran sekaligus khawatir. Khawatir jika jiwa Vito terjuncang, terlebih KKN ini masih ada tiga minggu lagi. Mereka tidak ingin kehilangan ketua anggotanya karena harus terlebih dulu ditarik dengan alasan sakit jiwa.

"Eh udah 'kan ya? Saya izin keluar ya," ucapnya yang langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari semua yang ada di sana.

"Gue baru liat Vito kaya gitu, ngeri juga ya haha,"

"Parah sih, kenapa deh?" Semua mata tertuju pada Lala. Meminta penjelasan dari salah satu anggota yang paling dekat dengan Vito.

"Dah gue duga sih, lo lo pada minta penjelasan ke gue. Gak paham kali ini sumpah," Lala meengangkat tangannya membentuk simbol peace.

"Hahahahaha Ya ampun, haha," mereka kembali terkekeh sambil bergidik ngeri saat suara tawa Vito terdengar sampai ke dalam.

"Gue samperin kali ya? Takut bablas gak waras, ngeri banget, mana kita masih mayan lama di sini," kata Lala.

"Iya sana La, khawatir rusak kotak suaranya haha,"

Di luar, mata Vito masih terus ia patrikan pada video yang terputar di benda ajaib berbentuk persegi panjang itu. Dia tidak pernah menyangka gadisnya yang sedang ia tinggal di kota metropolitan sana, terlihat begitu menggemaskan. Muka polos Chika benar-benar terpampang begitu jelas di video itu.

Rasa rindunya jadi semakin ingin meledak. Vito tidak pernah mengeluh dengan waktu dan jarak jika menyangkut studinya, sama sekali tidak pernah. Penelitian di mana, kapan, dan berapa lama pun akan ia lakukan. Sebagai anak laki-laki memang harus bertanggung jawab dengan semua yang telah ia ambil dan putuskan, itu pesan papanya.

Tidak pernah mempersalahkan waktu dan jarak, bukan berarti dia tidak pernah merasakan lelah. Jelas pernah. Mengeluh akan tugas-tugas pun pernah, mustahil jika mahasiswa tidak pernah sambat akan tugas-tugas kuliah yang kadang tidak memikirkan sisi kemanusiaan.

Tapi lagi-lagi, ini masalah jarak dan waktu KKN yang ia rasa berjalan begitu lambat. Padahal berulangkali dirinya meyakinkan Chika kalau 45 hari itu sebentar. Malah sekarang dialah yang mengeluh akan lambatnya waktu berputar. Semakin sering ia menghubungi Chika, semakin terasa lambat rotasi bumi yang ia pijak.

"Ya ampun, kenapa kamu lucu banget, Chika," lagi. Lagi-lagi bibir Vito tidak mau berhenti mengakui kelucuan gadis yang ada di video tersebut.

Vito ulang-ulang terus video itu. Belum ada rasa bosan, atau bahkan tidak akan bosan sampai kapanpun. Sosok Chika, sudah menjadi candu baginya, bagaimana dia bisa mengatakan akan bosan dengan gadis SMA itu? Bukan bosan, yang ada dia malah ketergantungan, dan akan uring-uringan jika tidak menemukan Chika dikeseharianya.

Rhythm Of LoveWhere stories live. Discover now