Masa SMA, konon adalah masa yang paling dinanti-nantikan oleh para remaja. Katanya sih kita bisa hidup bebas di masa ini. Punya temen banyak, nongkrong di tempat-tempat yang lagi viral, punya pacar, dan masih banyak lagi hal-hal yang mereka sebut sebagai keemasan di masa SMA.
Tapi teori itu tidak berlaku untuk seorang Kevin Anandika Ibrahim, menurut Kevin, ngapain nunggu 'masa SMA' cuman buat foya-foya? Hidupnya terlalu monoton, punya pacar? Itu hanya pemikiran kecil di otaknya.
♡♡♡
Hari ini hari pertama Kevin masuk SMA, namanya juga hari pertama masuk SMA, pasti ada saja ritual-ritual yang harus dilakukan oleh siswa dan siswi baru di sekolah itu.
"Dalam hitungan ke 10 semua siswa dan siswi baru harus sudah ada dalam barisan!! Satu!! Dua!!" Pekik salah satu panitia dari tengah lapangan SMA Dirgantara.
"Anjirr, apaan tuh. Udah kayak mau latihan militer aja" Kevin mendengkus sebal sambil berlari menuruni anak tangga menuju lapangan.
"Tiga!! Empat!! Lima!! Enam!!"
Semua siswa dan siswi baru berlarian menuju lapangan, mereka takut kalau-kalau mereka tertinggal setengah detik saja setelah angka 10, maka tamatlah riwayat mereka.
"Tujuh!! Delapan!! Sembilan!!"
Persetan dengan kakak kelas ataupun senior. Semua siswa siswi baru itu merutuki panitia bersuara 8 octav
yang tengah berdiri tegak di lapangan itu.
"Sepuluh!! yang belum berada dalam barisan push up 5 kali!!" Perintah seorang panitia kepada adik kelas barunya ini.
'Mampus push up gue' ucap Kevin dalam hati.
Kenyataannya karena panggilan sepuluh detik itu, banyak siswi-siswi yang berakhir membenci sang kakak seniornya yang satu ini.
"Selamat pagi semuanya, selamat datang di SMA Dirgantara, hari ini hari pertama kalian masuk SMA sekaligus hari pertama MOKRAB kalian, yang belum tahu kepanjangannya, mokrab itu artinya Momen Keakraban, nah jadi kalian bisa lebih mengenal satu sama lain selama tiga hari kedepan".
Kakak panitia yang satu ini sepertinya tak memiliki rasa haus dan capai, sementara para siswa baru mulai bosan.
"Oh iya, perkenalkan nama saya Jovika Tazkia Ramadhani, kalian bisa manggil saya kak Vika atau kak Jovi ataupun panggilan lainnya, saya sebagai ketua OSIS disini, untuk penjelasan lebih lengkapnya tentang MOKRAB ini akan disampaikan oleh Kak Fatin, silahkan kak" Jovika mundur dan mempersilahkan panitia lain untuk memaparkan pasal MOKRAB ini.
Penjelasan demi penjelasan tentang mokrab ini disampaikan, hari semakin siang, matahari seperti hanya beberapa centi meter saja dari kepala mereka, dan waktu yang mereka tunggu tiba juga akhirnya, yups.. jam istirahat.
"Oke kalian boleh istirahat dulu, nanti jam satu kumpul lagi disini, paham semua?" Kak Fatin memberi instruksi kepada seluruh siswa baru.
"Iya kaaakk"
♡♡♡
"Woy vin"
Ada yang menepuk bahu Kevin dari belakang. Dia Fahnan Septyan, teman pertama Kevin di sekolah ini.
"Eh elo fah" jawan Kevin lemas
"Idiih.. kok fah sih kan gue udah bilang tadi kalo manggilnya 'nan' aja" Fahnan merasa jijik sendiri mendengar panggilan dari temannya ini.
''Enakan manggil fah, lebih mendesah" jawab Kevin tak berdosa.
"Enak aja lo, eh btw vin menurut lo kakak senior yang tadi cakep gak?" Fahnan tersenyum penuh arti.
"Siapa?" Kevin masih fokus dengan baksonya.
"Itu looh.. Kak Jovi, cakep kan dia" Masih dengan cengiran di bibirnya.
"Ooooh... Kak Ika..." Kevin hanya meng-O-kan saja pernyataan dari Fahnan.
"Kok Kak Ika sih?" Fahnan mengerutkan dahinya bingung.
"Kan dia mempersilahkan kita buat manggil apa aja, yaudah gue panggil Kak Ika" masih dengan nada cueknya.
"Terserah lo deh, tapi gimana menurut lo? Menarik banget kan dia?" Fahnan masih sangat antusiasa dengan topik pembahasan ini.
"B aja sih" jawab Kevin dengan mulut penuh dengan bakso.
"Lo gak usah munafik deh, gimana kalo kita taruhan? Siapa cepat dapetin hatinya Kak Jovi? Lo berani nggak?" Fahnan semakin berantusias.
"Kagak minat gue" jawab Kevin.
"Kagak minat apa kagak berani lo? Jujur aja sama gue" Pancing Fahnan agar Kevin mau.
"Gue beneran gak minat kali, faedahnya apa coba?" Masih dengan pendiriannya.
"Udah deh lo ngaku aja kalo emang gak berani" Tawa Fahnan pecah mengejek temannya yang satu ini.
"Serah lo deh" Kevin akhirnya pasrah.
"Jadi lo berani nih oke kalo gitu kita taruhan ya?" Fahnan sangat bersemangat.
Tak ada niat apa-apa bagi Kevin, dia hanya tak ingin temannya yang satu ini terus mengusiknya. Ia tak akan benar-benar menerima taruhan itu, lagi pula baginya kakak senior itu memang tidak terlalu menarik hatinya. Itu pernyataan Kevin hari ini tentang Jovika, masih hari ini, entah
bagaimana besok.
♡♡♡
Haiii semuaaa😁😁😁
Ceritanya gimana? Bagus gak? gaje ya?😅 maklum ya ini cerita pertama aku😁
Aku butuh banget kritik dan saran dari kalian semua ya...
Jangan lupa vote juga ya...
Ikuti terus kisahnya yaaa😉
YOU ARE READING
My Sweet Popcorn
Short Story"Lo kok pelit banget sih, gue minta popcorn aja lo gak bolehin" ketus Jovika "Kan lo sendiri yang bilang kalo lo gak doyan popcorn" jawab Kevin nyengir tak berdosa "Kapan gue ngomong gitu?" Jovika mengerutkan dahinya mencoba mengingat-ingat "Lo kan...
