1. -Depok, 2010-

70 6 6
                                        

    Bening Fitra Cahaya, sebuah nama yang cukup unik untuk seorang laki-laki berperawakan tinggi dan gak atletis-atletis banget. Ya, itu aku, orang tuaku memberikan nama yang menurutku lebih cocok untuk anak perempuan, kesal memang, tapi yaa namanya pemberian orang tua dan harus disyukuri, yang katanya sih ada artinya, lemah lembut rendah hati. Aku anaknya pendiam kalau belum diajak berinteraksi duluan, kayak males aja gitu buka pembicaraan duluan, tapi kalau udah ngumpul sama teman-teman terdekat sih, bukan main jahilnya. Aku suka sekali bercanda, siapapun yang sudah kenal dekat pasti aku jahili, maklum, hanya di sekolah aku dapat tertawa bebas, di rumah mah boro-boro.

     Tahun ini adalah tahun baru dimana aku akan belajar di SMA baru. Katanya sih, sekolahku ini sekolah yang lumayan favorit, karena cukup sulit masuk ke sekolah negeri di Depok saat ini. Hari pertama masuk, anak baru dikerjai dengan OSIS dan senior-senior, juga menjadi ajang lirik sana sini buatku cari kakak kelas yang cantik hehe. Oh iya ngomong-ngomong, for your information aja nih, baru masuk, aku dan salah seorang anak laki-laki baru lainnya sudah langsung menjadi bahan inceran kakak kelas cewek. Entah kenapa, tapi anak baru cowok itu diteriaki mungkin karena memang dia ganteng, mungkin aku juga wkwk.

     Ketika semua anak baru sudah dibagikan kelasnya masing-masing, ternyata aku satu kelas sama anak baru cowok yang ganteng itu juga, Yandi namanya. Bukan-bukan, aku bukan homo cuma gara-gara bilang dia ganteng, tapi sebagai pujian aja. Ngeles dikit. Haha. Aku terpilih di kelas paling akhir, kelas 10-9.
     "Anjir, berasa anak buangan gua kelas akhir begini, malah jumlah anaknya paling banyak pula." gumamku dalam hati ketika masih berdiri di lapangan saat pembagian kelas. Setelah di dalam kelas, duduk acak sudah pasti, yang penting dapat tempat duduk. Saat itu teman sebangku-ku cowok mungil yang pendiam. Amanlah bagiku jadi gausah banyak ngobrol kedepannya.

     Hari demo ekskul tiba, ternyata sekolah ini punya banyak ekskul yang katanya sudah berprestasi sampai ke tingkat Nasional, katanya. Fokuslah aku berdiri di pinggir lapangan melihat demonya, mulai dari futsal, basket, pramuka, palang merah remaja hingga paskibra dan rok pendeknya. Mataku tertuju sama olahraga yang sangat aku sukai, yap basket, gokil keren demo basketnya sampai ada yang slam dunk segala. Untuk demo lain yang cukup menarik ingin aku ikuti yaitu palang merah remaja (PMR) dan paskibra dengan baris-berbarisnya yang membuatku terpukau dengan rok-rok pendeknya, eh maksudku dengan pakaian rapihnya. Setelah demo ekskul selesai, anak baru diwajibkan memilih minimal dua ekskul apa saja yang ingin mereka ikuti. Karena bingung selain basket ekskul apa lagi yang akan aku ikuti, aku memilih menjadi anggota PMR, biar kalo cedera main basket bisa langsung obatin sendiri, gak nyusahin anak-anak.

     Akhirnya hari terakhir MOS selesai, resmi sudah kami semua menjadi anak baru di sekolah tersebut dengan ditandainya pelepasan ratusan burung puyuh ke udara... Gak gak bercanda, ditandai dengan pelepasan balon warna-warni ke air, bumi, api, udara. Zaman dahulu semua negara hidup dalam perdamaian, kemudian semua berubah saat negara api menyerang. Hanya Avatar, ketua dari keempat elemen yang dapat menghentikannya. Tapi saat dunia membutuhkannya, dia menghilang...

     Sesampainya aku di rumah, langsunglah aku melepaskan kelelahan dengan tidur dikasur empuk nan dingin tapi berantakan. Ya, aku orangnya malas ini itu, yang penting nyaman, kotor urusan belakangan. Biasanya kamar ini rapih, tapi disaat mau datang teman saja, biar gak malu-malu banget. Aku hidup bertiga dengan mamah dan adikku. Bokap? Masih ada, tapi udah gak serumah aja. Orang tuaku bercerai sejak aku masih kelas 4 SD, tanpa sepengetahuanku. Tapi ayahku diawal perceraian mereka masih tetap pulang ke rumahku ini, sampai aku masuk SMP, barulah hubungan renggang kami dimulai.

Terimakasih.
Jangan lupa vote+comment buat lanjutin!

B E N I N GDonde viven las historias. Descúbrelo ahora