Part 1. Biang Rusuh

10 0 1
                                        

Happy reading

🌵🌵🌵

"Kalo jalan, mata tuh dipake jangan dijadiin pajangan aja. Lo pikir ini jalan nenek moyang lo?" cecar Raya sambil menajamkan matanya. Gadis yang menabrak Raya pun terlihat gemetar, ia takut melihat tatapan amarah dari Raya.

"Gu-e minta maaf. Gue gak sengaja." Raya langsung meninggalkan gadis itu. Gadis itu pun perlahan meninggalkan tempat di mana ia menabrak Raya.

Raya adalah siswi di SMA NUSANTARA. Ia termasuk murid yang bad. Pakaiannya yang tak pernah rapih, dasi disampirkan begitu saja, dan sepatu berwarna. Sungguh tidak mencerminkan sebagai siswi terpelajar. Namun, di samping sifatnya yang buruk seperti itu, ia termasuk siswi yang pintar, orang tuanya termasuk donatur sayangnya tingkahnya sungguh membuat pusing orang di sekitarnya.

Raya termasuk salah satu murid incaran kesiswaan apalagi saat membuat ulah. Bukan hanya Raya melainkan teman-temannya memiliki tingkah sebelas dua belas dengannya.

Raya berjalan dengan santainya menuju tempat yang selalu menjadi incaran seluruh siswa, di mana lagi selain di kantin. Ia menatap sekelilingnya mencari para sahabatnya.

"Hm," gumam Raya pelan. Ia memincingkan matanya saat mengenali sosok yang mirip dengan salah satu sahabatnya.

Raya berjalan menghampiri mereka, pelan tapi pasti. Ia tahu banyak siswi yang memandangnya dengan tatapan takut, benci bahkan kagum.

"Eh Ray, lo tumben baru ke sini. Biasanya juga udah nongkrong di kantin," ujar Vio sambil menatap Raya dengan pandangan heran.

"Dari ruang guru," jawab Raya seadanya. Ia langsung duduk di tempat biasanya.

Rara memesankan makanan untuk Raya, sahabatnya itu terkadang suka sekali melupakan makan siang atau sekedar sarapan.

"Lo buat masalah apa sampe ke ruang guru?" tanya Vio penasaran. Raya hanya menggeleng, yang membuat para sahabatnya mengernyit bingung.

"Gue belum buat ulah hari ini karena perut gue laper. Kalo urusan ke ruang guru itu, gue disuruh ikut olimpiade sama bu Ike." Raya menatap makanan yang dibawakan Rara untuknya. Ia sungguh lapar saat ini, makanya ia tunda terlebih dahulu membuat rusuh.

"Emang apa ngaruhnya tuh perut sama ulah lo?" Raya mendengus kesal mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Rara itu.

"Ya adalah Rara. Kalo Raya gak makan dulu, tenaga dia habis duluan sebelum buat ulah. Lo tau sendiri kan nih curut jarang makan. Giliran laper banget dia bakalan nunda buat rusuh sekitar," cerocos Vio sambil menyentil kening Rara.

Rara mencerna perkataan Vio dengan baik namun sepertinya otak Rara konslet.

"Tapi bukannya kalo Raya laper otaknya suka bikin hal gila gak sih?" Vio geram dengan pertanyaan yang muncul dari mulut Rara.

"Udah gak usah dibahas. Makan!" perintah Vio.

Raya tak memperdulikan ucapan kedua sahabatnya itu, ia terus saja makan sampai sebuah tangan menepuk pundaknya pelan.

"Raya," ucap Salsa dengan lirih. Raya langsung menoleh ke arahnya dengan spontan. Ia hapal betul suara itu.

"Caca!" sahut Raya dengan antusias. Bagaimana dirinya tidak antusias saat melihat sahabatnya menghampirinya setelah sekian lama sahabatnya itu lebih memilih menemani ribuan buku dari pada menemaninya pergi ke kantin.

Raya langsung menyuruh Caca untuk duduk. Raya melihat raut wajah Caca yang sedikit beda dari biasanya.

"Ada apa?" Raya langsung melontarkan pertanyaan yang membuat Caca diam seribu bahasa.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Feb 22, 2021 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

ANGKASA RAYAStories to obsess over. Discover now