Hari pertama kembali sekolah setelah berakhirnya dua minggu liburan semester. Diawali upacara pagi tentang ucapan selamat kembali sekolah, setelah itu dilanjut dengan pelajaran biologi yang benar-benar membosankan.
Lihat saja sekarang, apa ada siswa yang benar-benar mendengarkan penjelasan Bu Fiyah, guru biologi yang terkenal galak dan menyebalkan seangkatan kelas sepuluh. Karena kabarnya, beliau adalah guru baru.
Hm, mungkin ada. Paling-paling siswa pintar, rajin sekaligus anak kesayangan Bu Fiyah. Seperti Zio, yang kini duduk dibelakang kursi ku, Agam diujung sana dan Nayla di kursi paling depan.
Hei! Ini hari pertama, bahkan kelas lainpun sedang jam kosong, tapi kenapa hanya kelas ku yang belajar. Dasar! Benar-benar guru menyebalkan.
Aku menelungkupkan kepala ku diatas lipatan kedua tangan. Memilih melupakan penjelasan Bu Fiyah dan malah memikirkan hal-hal yang justru harusnya aku lupakan. Seperti kenangan mantan?
"Nggak!" ucapku setengah berteriak dan langsung menegapkan tubuhku. Sialnya, keadaan kelas sedang sepi, sunyi, senyap, alhasil teriakan ku, terdengar sampai gendang telinga Bu Fiyah.
Bu Fiyah melayangkan tatapannya ke arah ku, menyorotkan tatapan membunuh. Aku gelagapan sekarang. "Apa yang nggak, Kiana?!" sekarang seluruh penghuni kelas menatap ke arahku.
"Eu, anu Bu, itu.." Astaga apa yang harus ku katakan?!
"Anu anu! Coba jawab! Ciri-ciri kingdom animalia itu apa?!"
"Ci- ciri-cirinya, eu itu, Bu. Melahirkan dan menyusui kan? Kayak kucing gitu kan, Bu?" sontak seluruh siswa tertawa.
"Itu mamalia, Kiana! Kamu benar-benar nggak merhatiin penjelasan Ibu ya?!"
"Me-merhatiin kok, Bu," sial, kenapa harus salah sih?.
"Sudah! Sekarang kamu berdiri didekat papan tulis! Dengarkan penjelasan Ibu sampai jam pelajaran Ibu selesai!" suruh Bu Fiyah.
Mau tak mau aku harus menuruti perintah Bu Fiyah. Berjalan gontai menuju papan tulis, berdiri disana dan mendengarkan materi yang membosankan. Ini semua gara-gara mantan!
Waktu bergerak sangat lama, tiga jam pelajaran sudah aku berdiri hingga akhirnya bel istirahat berbunyi.
"Kalau begitu kita akhiri pelajaran kali ini. Tolong, untuk tugas minggu depan, kerjakan latihan soal di buku paket halaman seratus tiga puluh lima sampai seratus empat puluh tiga. Beserta pilihan a, b, c nya ya. Terima kasih."
Bu Fiyah mengakhiri pelajaran dan memperbolehkan aku kembali duduk.
Seluruh siswa tampak melongo menatap tugas yang disampaikan Bu Fiyah, tak terkecuali aku. Sudah nggak aneh, kalau-kalau Ibu itu ngasih tugas yang emang nggak masuk akal. Terlalu menyebalkan bukan?
"Sialan banget emang!" ucapku kesal kepada Syahla, teman sebangku ku.
"Ish, gak boleh gitu," kekehnya.
"Atuh kamu bayangin, seratus tiga puluh menit berdiri disana. Pegel tau gak?!"
"Salah sendiri pake teriak," kini tawa Lala sepertinya sudah tak terbendung.
"Aku nggak teriak, La. Kelasnya aja yang lagi sepi." ucap ku sembari mengambil kotak bekal dari dalam tas.
"Iyalah terserah kamu aja, Na. Pasti mikirin mantan kan? Udah ketebak sama aku mah," kekehnya lagi, ia sedang merapikan alat tulisnya.
"Nggak, ngapain mikirin mantan," aku mendelik.
"Nggak nggak, padahal iya, kelakuan kamu," katanya sambil mengeluarkan kotak bekal juga.
"Eh tugas Bu Fiyah banyak banget ya?" ucapku sambil membuka-buka buku paket biologi.
"Halah, mengalihkan pembicaraan, dasar! Korban belum moveon!"
"Tuh bener bangett, ini astaga banyak benerr!" jawabku yang nggak nyambung.
YOU ARE READING
Ragu
Teen FictionApa kabar, Panji? Sudah lama ya nggak ketemu, setelah peristiwa menyedihkan itu aku memutuskan untuk nggak ketemu kamu lagi. Toh, kamu juga nggak peduli, kan? Mungkin ini agak berlebihan, tapi sudah enam bulan aku meninggalkan Ibu Kota. Menjauh dar...
