Clarissa Aurel Ganetovi, cewek cantik nan berbakat yang akan berumur 17 tahun. Ia berjalan masuk menuju kelasnya diikuti sahabat sejatinya, Indri Slafina Agnes.
"SELAMAT PAGI!" pekik Clarissa dengan semangat.
"Pagi Clarissa," sapa kedua temannya yang berada di dalam kelasnya.
Clarissa tersenyum lebar sembari berjalan menuju bangkunya diikuti Indri dari belakang.
"Pagi semua!" sapa Indri dengan normal sembari melambai-lambaikan tangannya.
Istirahat pun datang, semua murid segera bergegas ke kantin dan mengosongkan kelas mereka masing-masing tidak terkecuali Indri dan Clarissa, mereka sudah menduduki bangku kantin sedari tadi menunggu orang orang selesai berkerumun untuk membeli jajanan yang terdapat di sana.
"Oh... Ayolah... Tidak bisakah kita mengantri di sana?" ucap Indri tidak sabar.
"Tunggu saja sebentar lagi Ndri..., himpit-himpitan seperti itu membuat sesak, tau gak?" balas Clarissa sembari menatap layar ponselnya.
Indri berdecih,"gue gak sabar..." ia bangkit dari kursinya dan berjalan menerobos kerumunan orang yang sedang menunggu pesanan secara tidak sabar.
Clarissa hanya menghembuskan nafasnya sembari menggeleng-geleng kan kepalanya.
Tidak lama ia sampai ke bangku yang tadi ia duduki. Indri memegang nampan yang berisikan sepiring mie goreng dengan segelas green teh disampingnya, tempat teh tersebut berbahan Styrofoam yang aman untuk tubuh.
Clarissa menengadah menatap sahabatnya itu dari atas sampai bawah,"ppprrff......" Indri berdecih.
Indri duduk di depan Clarissa sembari mengerucutkan bibirnya,"udah, lepaskan aja tawa lo, gue berhak mendapatkannya" ia menyilangkan lengannya dibawah dada.
Clarissa menetralkan dirinya,"kan dah gue bilang, lo sabar aja dulu... Tengok sekarang rambut lo, acak-acakan cuyy...." Indri berdecih kembali.
"Tapi lo tengok kan, gue gak berhasil numpahin satu titik pun noda kebaju mereka" bela Indri.
Menatap kembali ponselnya,"itukan menurut lo."
Indri mengambil garpu di piringnya dan mulai menyantap mie gorengnya itu. Lima menit berlangsung, mata Indri tiba tiba menatap keempat cowok yang berjalan masuk menuju kantin, mereka terlihat sangat mencolok.
Semua anak anak perempuan menatap cowok cowok itu dengan kagum, ada yang memotret mereka secara diam-diam, dan ada yang berteriak. Indri memukul-mukul lengan Clarissa membuatnya risih dan menjawabnya,"apa?".
"Lu gak liat?" Clarissa menatap kerumunan cowok tersebut,"kenapa?".
"Mereka keren banget...." Indri meremas gemas garpu pelastiknya.
"B aja" jawab Clarissa tidak perduli membuat Indri gemas.
Menarik ponsel Clarissa,"bisa gak sih lo perhatiin sekitar sedikit?".
"Maksud lo perhatiin mereka?" ucapan Clarissa membuat Indri sebal sendiri.
"Udah ah, gue mau jajan" Clarissa bangkit dari bangkunya dan pergi menuju penjual makanan di kantinnya.
"Mang, pesan bakso kuahnya satu!" ujar Clarissa yang langsung di angguk oleh sang penjual.
"Om, pesan jus jambu nya satu!" teriak Clarissa kepada sang penjual yang berada agak jauh darinya. Penjual tersebut langsung mengacungkan ibu jarinya pertanda ia mendengar pesanan Clarissa.
Selang lima menit, sang penjual bakso tersebut memberikan bakso itu kepada Clarissa. Clarissa mengambil nampan yang berada di sebelahnya dan mengambil bakso tersebut, ia kemudian berjalan menuju si penjual Jus tersebut sembari membawa nampan berisikan bakso kuah itu.
Setelah ia mengambil jus jambunya, ia bergegas menuju bangkunya, entah mengapa tiba-tiba orang ramai memadati sebuah tempat penjual ketoprak di depannya. Ia berusaha menerobos kerumunan orang tersebut karena tidak ada lagi tempat untuk putar balik.
Perlahan ia membawa nampan tersebut menerobos kerumunan orang-orang tersebut. Tapi tidak disangka seseorang menabrak badannya, membuat dirinya oleng ke kiri. Ia berhasil menjaga bakso kuahnya agar tidak tumpah, namun ia tidak memperhatikan jus jambunya. Jus itu tumpah ke salah satu cowok tinggi yang berada di sampingnya, mengenai baju putihnya.
Clarissa tercengang, ia menengadahkan kepalanya menatap cowok tersebut, terlihat tatapan tajam dari cowok itu menghujam penuh dirinya, membuat dirinya tidak bisa berkata kata.
**********
YOU ARE READING
The Secret Behind It
Teen FictionBagaimana kah rasanya jika kalian ternyata memegang setengah kunci untuk menangkap organisasi gelap? Takut? Atau justru bersemangat? Itulah yang di rasakan Clarissa, gadis supel, pinter, nan cantik dari keluarga Ganetovi yang terkenal akan kisah kel...
