Jangan lupa vote dulu sebelum baca!
Aldara Naura Cantika, biasa di panggil Ara, seorang gadis biasa yang saat ini sedang sibuk dengan penjelasan dosen di depan kelas. Tangannya bergerak mencatat hal-hal penting yang disampaikan oleh dosen. Tidak ada yang istimewa pada dirinya, ia hanya seorang gadis yang hidup dan dibesarkan di keluarga sederhana yang bisa dikatakan cukup mampu.
Kriing...
Bel berbunyi, para mahasiswa bersorak sorai karena pelajaran yang membosankan sudah berakhir. Dosen di depan kelas mengakhiri kelas dengan sebuah tugas yang membuat sorakan tergantikan menjadi gerutuan berkepanjangan sampai sang dosen keluar kelas.
Ara sendiri masih sibuk mencatat tugas di papan tulis yang baru saja diberikan oleh dosen, sementara semua temannya sudah mulai pergi meninggalkan kelas dan menyisakan Ara sendirian. Setelah selesai mencatat Ara membereskan seluruh peralatan kuliahnya dan pergi meninggalkan kampus tempatnya menuntut ilmu setiap hari. Tujuan Ara saat ini adalah sebuah cafe yang berada tak jauh dari kampusnya.
Sesampainya di cafe, Ara segera menuju tempat khusus karyawan untuk mengganti pakaiannya dengan seragam yang sudah disediakan oleh cafe. Selesai mengganti pakaiannya, Ara menuju meja yang berada tak jauh dari meja kasir. Hari ini tugasnya sebagai barista pembuat minuman di cafe. Ara memasang celemek sebelum memulai tugasnya.
"Kapan elo sampai, Ra?" tanya Yuna, teman terdekat Ara di cafe ini.
"Baru aja, Na," jawab Ara. Tangannya mulai bergerak membuat minuman pesanan pelanggan yang baru saja datang.
"Kalau gitu, selamat bekerja! " seru Yuna menyemangati Ara. Ara hanya membalasnya dengan sebuah anggukan dan senyuman tulus.
Kriing....
Suara lonceng di pintu menandakan bahwa ada pelanggan yang baru saja masuk ke dalam cafe. Seorang pelayan segera menyambut pelanggan tersebut dengan senyum ramah.
"Pelanggan setia kita sudah datang, bersiaplah." Yuna bersisik ke Ara seraya menyenggol Ara dengan lengannya. Sedangkan Ara hanya mengangkat bahu acuh, tak mau terlalu kepikiran dengan bisikan Yuna, dan kembali sibuk dengan pesanan pelanggan lainnya.
"Coffee latte dan cheese cake satu," ucap pria tersebut sambil terus menunduk memainkan ponselnya. Setelahnya, pria itu menyimpan ponselnya dan mengeluarkan uang dari dompetnya kemudian diberikan pada Yuna yang bertugas di kasir.
"Terima kasih, tuan. Silahkan duduk selagi menunggu pesanan anda datang, tuan." ucap Yuna dengan senyuman ramah. Sang pria hanya mengangguk singkat dan berjalan menuju meja yang berada di pojok dekat dengan jendela.
"Ra, coffee latte satu." Ara mengangguk dan segera membuat coffee latte sesuai dengan ucapan Yuna. Sedangkan Yuna bergerak menyiapkan cheese cake sesuai pesanan pria tadi dan menaruhnya di sebuah nampan. Setelah coffee latte tersebut jadi, Ara meletakkannya di nampan yang sudah ada cheese cake tadi, sesuai perintah Yuna. Kemudian Yuna menekan bel di atas meja yang menandakan pesanan siap di antar.
"Tampan bukan?" tanya Yuna.
"Siapa?" balas Ara cuek dan tetap melakukan pekerjaannya.
"Pelanggan setia cafe kita," jawab Yuna dengan wajah yang berbinar.
"Hm... biasa saja."
Yuna yang mendengar jawaban Ara sontak menolehkan kepalanya menatap Ara dengan pandangan yang sulit diartikan. Kemudian mendengus kesal dan melipat kedua tangannya di dada. "Gimana bisa lo bilang biasa saja kalau pandangan lo itu terus aja ke pekerjaan lo. Huft!" Yuna menghembuskan napasnya kesal. "Coba lihat ke meja di pojok sana deh, Ra," lanjutnya.
YOU ARE READING
AKSARA
Fantasy[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA] Ini kisah tentang Aksa dan Ara. Dua orang saling tidak mengenal yang harus dipertemukan oleh kekuatan takdir. Dimana Ara yang tidak tahu apa-apa dituntut untuk membantu masalah yang di alami oleh Aksa. Aksa juga tidak...
