one

35 7 4
                                        

VOTE.

Secangkir susu coklat menemani sarapan pagi dimeja makan, uap yang berasal dari air susu masih terlihat mengapung ke segala arah dengan skala kecil. Akan terasa panas jika diminum. Zea memilih mendiamkannya agar nanti terasa hangat.

Piring kecil berisi satu roti yang dibelah dua beroleskan selai rasa coklat diletakan diatas meja makan. "Diminum susunya, nanti dingin." omel sang ibu membuyarkan lamunan Zea.

Zea menghela nafas, disambarnya sepotong roti kedalam mulutnya hingga terasa penuh.

Tak sadar sepasang mata memperhatikannya sejak tadi. Entah apa yang ada dipikiran Zea hingga kini membuatnya merasa kurang bersemangat. Tentu membuat mamanya khawatir, "Kamu sakit?" punggung tangan menempel didahi Zea, memastikan bahwa dia baik-baik saja.

Zea menghindarkan dahinya dari tangan Deana. "Mama ngapain sih beli apel? lagian siapa juga yang mau makan itu?" dirinya kesal saat melihat sekantong buah apel dimeja makan.

"Mama sengaja beli."

Rasa trauma masa kecil masih menempel pada dirinya hingga sekarang. Sewaktu Zea kecil, Deana sering membeli buah apel setiap pulang dari pasar. Dengan rasa tak sabarnya, Zea membuka kantong belanjaan yang dibawa mamanya lalu mengeluarkan satu per satu dengan tangan mungilnya. Yang pertama menarik perhatiannya adalah buah bulat berwarna merah. Apel.

"Ma lihat ini warna merah!" ucap Zea kecil bersemangat sambil mengacungkan buah itu tinggi-tinggi.

"Pintar anak mama sudah hafal warna merah."

Zea melahap apel dengan kedua tangan kecilnya. Gigi susunya mengunyah perlahan. Disela makannya ia memperhatikan potongan apel yang ada ditangannya. Bola matanya terbelalak melihat hewan kecil mengeliat berwarna hijau.

"ULAT!" Zea berteriak ketakukan. Buah tersebut dilemparnya saking terkejut sekaligus merasa jijik. Seluruh isi mulutnya langsung dikeluarkan. Zea yang merasa takut langsung berlari memeluk Deana dengan erat sambil menangis.

Ah, masa kecil yang sangat dirindukan Zea meskipun mendapat pengalaman yang tidak diinginkan.

Beberapa tegukan susu coklat dihabiskan tanpa sisa. Zea beranjak dari tempat duduk, mengambil tas berwarna abu-abu miliknya dengan kasar.

"Aku pergi dulu." pamitnya tanpa memandang wajah lawan bicara. Tak ada yang bisa dilakukan Deana selain diam dengan rasa khawatir yang tak kunjung hilang, merasa heran dengan sikap Zea yang berbeda akhir-akhir ini. Suara bantingan pintu cukup keras membuat Deana terhentak kaget.

••

"Pelajaran dicukupkan sampai sini, kita bertemu lagi minggu depan. Jangan lupa lengkapi catatan kalian nanti ibu periksa." ucap ibu Ratna diakhir jam pelajaran sebelum meninggalkan kelas.

Mendengar suara bel istirahat berbunyi beberapa menit yang lalu, semua mahasiswa berhamburan keluar kelasnya masing-masing . Lapangan adalah tempat teramai kedua setelah kantin, adapun sebagian siswa memilih tetap diam dikelas.

Zea menutup buku lalu menyimpannya kedalam tas. Kedua tangannya melipat diatas meja disusul kepalanya yang ia benamkan diantara lipatan tangan. Suasana hatinya masih buruk tidak ada bedanya dengan tadi pagi, ditambah lagi sahabatnya, Fiona, tidak hadir hari ini jadi tidak ada yang menghiburnya.

"Wah ternyata tuan putri sedang bersedih hari ini." ucap Carla diakhiri dengan tawa renyah, juga dengan Lexa yang tersenyum dengan tampang sombong.

Beruntung hari ini Zea tidak bergairah untuk meladeni mereka, jika suasana hatinya baik-baik saja mungkin saat ini ia akan melawan Carla dengan mulut pintarnya yang tak kalah pedas saat mengeluarkan kata-kata.

DIFFERENCEWhere stories live. Discover now