Dalam hidup, kita diberi hak menentukan apa yang kita mau, tetapi bukan untuk memilih apa yang akan kita dapatkan. Kadang ketidak sesuaian itu menimbulkan rasa kecewa, bahkan frustasi. Merasa bahwa Allah tidak adil, padahal sejatinya kita yang kurang bersyukur. Pun soal hati, yang merasa berhak memilih pasangan sesuai keinginan tanpa siap menerima hakikat. Bahwa, jodoh telah ditentukan sejak manusia belum diciptakan.
***
"Move on, Rey! Usiamu masih muda, masa depan masih panjang. Jangan sia-siakan dengan terus meratapi masa lalu!"
"Bu, Rey masih belum siap menanggung beban berkeluarga. Biarkan Rey nikmatin hidup sepuas hati dulu. Nanti kalo sudah siap, Rey akan minta Ibu untuk mencarikan jodoh!"
Tak ingin melanjutkan perdebatan, Rey meninggalkan perempuan berkerudung syar'i itu mematung di halaman. Hampir setiap sore sepulang bekerja, dia pasti keluar rumah. Berbagai macam alasan diberikan agar ibunya tak banyak bertanya. Tentu saja alasan-alasan itu palsu karena sejujurnya dia hanya ingin meminimalkan waktu bersama. Sebab, setiap kali berbincang wanita lima puluhan itu selalu menanyakan tentang jodoh yang sama sekali tak menarik minat anak lelakinya.
Dari spion Rey bisa memastikan mata sendu itu basah oleh air mata. Tangan keriputnya tampak menutup mulut yang sesenggukan. Hati Rey terluka melihat ibunya kecewa. Namun, tak berarti Rey harus gegabah mengiyakan begitu saja. Ini soal hati, menentukan pendamping yang akan menemani seumur hidup. Teliti dan hati-hati itu harus.
Perlahan Rey membawa mobil pick up putihnya keluar halaman dan menjauh dari rumah. Meninggalkan pemandangan yang semakin menyesakkan dada. Hatinya bukan tidak ingin memenuhi mau sang ibu, yang jelas-jelas hanya inginkan anak satu-satunya itu bahagia, tetapi luka kehilangan enam tahun lalu masih belum mengijinkan untuknya menerima cinta yang baru. Rasa sakit itu meninggalkan bekas yang teramat dalam dan sulit untuk dihilangkan.
*
Waktu itu Rey masih bekerja sebagai staf di salah satu perusahaan swasta. Setiap akhir bulan, tempatnya bekerja mengadakan pertemuan rutin guna mengevaluasi perkembangan usaha. Di tengah rapat, ponsel di saku celana Rey berulang kali berdering. Suara panggilan masuk bergantian dengan beberapa notif pesan whatsapp. Namun, mengingat betapa pentingnya pertemuan malam itu, dia mengabaikan semua notif masuk. Hingga pukul sebelas malam acara selesai, ada empat puluh satu panggilan dan dua puluh lima pesan dari Ariani, istrinya .
[Yang, kenapa ingkar janji? Anniversary pertama kita, lho. Bukankah sudah kita plan untuk dinner?]
Rey berlari setelah membaca pesan paling terakhir yang dikirimkan. Dia benar-benar lupa sudah berjanji untuk makan malam dengan istrinya. Parahnya lagi, ini bukan kejadian pertama dan tepat di perayaan setahun pernikahan. Ariani pasti kecewa, tetapi wanita itu tak pernah sekali pun meluapkan kekesalan.
"Gak pa-pa. Toh, kamu sibuk kerja bukan karena perempuan lain. Jadi aku bisa terima. Demi masa depan kita," katanya dengan bijak setiap kali Rey meminta maaf.
Di tengah hujan lebat Rey melajukan mobil tua warisan abinya. Beruntung jalanan tak terlalu ramai, jadi dia bisa mengemudi tanpa hambatan menuju kafe yang sudah ditentukan. Sepanjang perjalanan tak henti mulutnya menggumamkan maaf untuk bidadari yang sedang menanti. Cinta pertama dan juga satu-satunya pemilik hati.
"Maaf, Pak. Istri bapak sudah pergi satu jam yang lalu," kata seorang pelayan cafe yang ditanyai, setelah mendapati meja pesanan mereka kosong. "Tapi tadi dia meninggalkan ini untuk bapak."
Secarik tissue bertuliskan pesan diterima Rey tanpa mengucap terima kasih.
[Yang, tiga jam aku menunggu kamu. Pasti kamu lupa lagi kalo kita ada janji? Yaudah, aku pulang dulu udah malem. Kita capek mo istirahat.]
YOU ARE READING
Asmara Pak Duda
General FictionBlurb! Mengisahkan tentang Reyhan Nur Ramadan. Seorang pria matang berstatus duda karena ditinggal mati istrinya dalam sebuah kecelakaan tunggal. Akibat kejadian itu, dirinya merasa sangat bersalah hingga membuatnya tidak memiliki keinginan untuk m...
