( 1 ) Aku Ikut...

16 2 6
                                        

Ketenangan ini

Semilir angin ini

Bau rumput diawal musim hujan ini

Kehidupan ini

Aku tersenyum. Semilir angin membelai kulit wajahku, menerbangkan anak rambut yang sudah kutata Serapi mungkin sebelum datang ketempat ini. Damai dan tenang, aku menyukainya. Tidak ada yang menganggu, tidak ada yang memerintahkan ku. Aku suka kesendirian ini.

Aku menengadah, gemerlap bintang yang bertaburan itu. Senyum manis bulan sabit itu. Semesta diatas sana yang gelap namun bercahaya itu. Semua tersenyum padaku. Aku tau mereka merindukan ku. Merindukan nyanyianku saat malam kan? Mereka menatapku geli. Siapa yang merindukan mu, kurang lebih itu yang dikatakan mereka saat ini. Mereka hanya gengsi tidak mau mengakui. Diantara deru ombak dan semilir angin ini, aku bisa mendengar panggilan sendunya.

Mataku beralih, dari langit menuju luasnya samudera yang terbentang dihadapan ku. Aku kembali tersenyum. Biru itu terlihat tenang, tidak tersentuh dan disaat yang bersamaan juga menghantarkan rasa takut. Kenapa? Dia memanggilku juga. Apa dia mau aku menemaninya? Menemani sepinya bersama langit malam yang bertabur bintang?

Tunggu, apa aku diperbolehkan ibu ku jika aku melakukan itu? Tinggal bersama samudera dan langit. Tempat dimana aku bisa merasakan kenyamanan dan juga merasa hidup sebagai diriku? Aku tidak mau mengecewakan ibu ku. Ibu mau aku berada disampingnya, seperti yang lain. Terbebas dari balutan sepasang potongan kain putih yang selalu menempel ditubuh ku ini.

Jujur, aku sendiri pun mau lepas dari semua ini. Aku juga mau lepas dari kesakitan ini. Aku mau bebas. Terbang bebas seperti Kakak ku.

Kakakku sudah bebas. Dia tidak akan berada dekat dengan ku lagi tapi dia bebas. Padahal dia berjanji akan selalu bersama ku. Kemanapun dia pergi, dia sudah berjanji akan mengajakku serta. Tapi janjinya hanya ia bawa di dermaga ini saja. Saat dia berada di sana, dia meninggalkanku.

"Kamu harus kuat untuk ibu dan untukku. Tolong jangan seperti aku ya, kuatlah"

Sederet kalimat sederhana yang keluar dari mulutnya. Aku tidak mau jadi kuat. Jadi kuat dan terkekang? Lebih baik aku bebas.

Kakak, kau berjanji akan membawaku bukan? Dimana kau sekarang? Sudah dua hari aku menunggumu. Lelah sekali tubuh ini, apa kau tidak kasian kepadaku.

Aku mengembungkan pipiku. Dia selalu saja memberikan punggungnya padaku. Punggung itu dingin, aku tidak suka. Aku ingin melihat wajahnya, senyumnya dan merasakan kehangatan dari genggaman tangannya. Seperti dulu.

Kak, kau membawaku kesini bukan tanpa alasan kan? Mereka sudah bilang padaku bahwa ini saatnya, mangkannya kau menjemputku dan bersama dengan ku selama dua hari ini. Tapi kenapa yang aku dapatkan hanya punggung mu saja? Aku mau melihat wajahmu tahu, apa kau tidak merasa rindu pada adikmu ini?

Dia hanya sedikit menolehkan wajah.

"Hei, kamu masih saja cerewet. Duduk dulu sebentar, apa kamu mau melewatkan semua ketenangan dan keindahan ini?"

Aku membuang nafas lelah, sejak tadi kami hanya duduk diam disini. Aku sudah bosan mendengar keluhan sang bintang dan juga seruan ombak samudera selama dua hari ini. Aku mau bicara dengan mu kak, kenapa kamu hanya menatap jauh ke depan? Aku disamping mu kau hiraukan. Apa aku tidak semenarik samudera?

Aku membuat puh pelan tanda sebal sembari menopangkan wajahku diantara kedua lutut yang tertaut. Biar saja dia mendengarnya. Biar saja dia tersinggung, aku ingin dia tau kalau aku sedang sebal.

Tapi dia hanya tertawa kecil. Tatapannya masih memandang jauh kedepan. Menganggap ku hanya sebatas angin lalu yang menggelitik kotak tertawanya.

"Kamu tau, aku pernah bilang kalau kamu harus kuat, tapi aku sadar manusia tidak harus selalu kuat. Adakalanya dia harus berhenti walau belum sampai di garis finish. Bukan karena menyerah, tapi karena dia rasa memang hanya sampai disitu kemampuan dan batasnya. Terimaksih sudah mendengarkan kakak dan sampai digaris ini. Finish yang kamu tuju mungkin bukan disini, tapi jika memang kamu rasa ini sudah cukup, kakak akan membantumu. Untuk berhenti dan untuk melepaskannya"

Aku terdiam. Apa maksudnya? Aku sama sekali tidak mengerti. Garis finish? Berhenti? Apa aku sedang lomba lari?

Aku menoleh padanya, apa ini tanda perpisahanmu lagi kak? Apa kau mau pergi lagi? Meninggalkan ku kedalam kotak hitam yang tidak memberikanku barang setitik pun oksigen? Kemana kau akan pergi kak? Jangan tinggalkan aku sendiri disini.

Dia tersenyum, namun pandangannya masih mengarah kearah samudera.

"Sejujurnya, kakak selalu ada di sampingmu. Hanya saja kamu yang selalu hilang dalam dirimu sendiri. Kenapa menyalahkan kakak?"

Aku memberengut. Kapan aku hilang sendiri? Kakak datang hanya disaat aku kemari. Saat aku bersama ibu dan keluarga yang lain, kenapa kau menghilang? Apa kau tidak merindukan ibu? Ibu sangat merindukan mu kak.

Kali ini tidak ada senyum diwajahnya.

"Aku telah mengecewakan ibu lantas bagaimana bisa aku bertemu dengannya? Tapi aku senang sekarang aku bisa bebas. Aku bisa menjadi diriku sendiri"

Aku juga mau seperi mu kak, aku rindu kebebasan ini. Aku benci mendengar suara isakan ditengah malam kala aku tidur. Aku membenci senyuman semua orang yang bertemu kepadaku. Kenapa mereka harus berpura pura kak? Kenapa tidak jujur saja? Ibu juga selalu berpura pura dihadapan ku, walau aku tau suara isakan ditengah malam itu adalah miliknya. Aku bosan hidup dalam kepura-puraan. Aku juga ingin bebas seperti mu. Aku ingin menjadi diriku sendiri. Aku tidak mau mendengar seruan seruan itu lagi. Jujur itu membunuh ku. Aku takut.

"Aku tau rasanya. Tapi bukan waktu mu untuk itu semua, jangan lupa kata kataku untuk selalu kuat walaupun itu menyakitkan oke?"

Aku menatapnya hampa.

Tolong bawa aku kak, kau mau kemana? Aku ikut.

Dia menepuk nepuk celananya yang kotor itu sebelum menolehkan sebagian wajahnya padaku.

"Aku mau kembali pada kebebasanku. Dibawah sana" ujarnya sambil menunjuk samudera.

Aku menatapnya bingung.

"Dibawah sana ada kota dengan banyak bangunan cantik, seperti dongeng yang selalu ibu bacakan saat kita ingin pergi tidur dulu. Aku menemukannya. Dan aku juga menemukan kebebasanku disana. Tanpa rasa sakit, ataupun harus berpura pura menjadi kuat. Disana aku merasa bebas. Kau harus tau, rasanya sangat menyenangkan"

Kedua mataku membola. Jadi selama ini kakakku ada disana. Di tengah kota dengan bangunan bagus? Kebebasan?

Aku bangkit berdiri dengan tergesa.

Tolong ajak aku, kumohon...

Kakak ku hanya tersenyum dan dia mulai berjalan. Semakin lama semakin banyak air yang memakan tubuhnya, aku setia dibelakangnya walau hanya berjarak beberapa langkah.

Kebebasan, aku bersiap menemuimu

Ibu aku akan menjemput kebebasan ku dan pergi bersama kakak, ibu jangan khawatir ada kakak yang akan menjagaku disana. Mungkin sepulang dari sana aku akan membawakan buah tangan.

Air sudah mencapai dadaku. Disana mulai terasa sesak dan entah kenapa bukannya takut, aku malah merasa bersemangat. Adrenalin ini? Apa ini yang dinamakan kebebasan? Kalau iya, aku menyukainya.

Air sudah sepenuhnya melahap tubuh Kakak, dan sekarang aku sudah menyusulnya kesana. Ketempat dimana kebebasan itu berada.

Tapi aku merasa ada yang aneh. Kenapa aku merasa tercekik? Kenapa penglihatan ku menjadi gelap? Dimana kakak? Apa dia juga merasakan hal yang sama?

"Tidak apa apa, memang seperti itu pada awalnya, setelah semua itu kau lalui kebebasan akan menjemput mu, percayalah"

Aku mendengar suara kakak, dia disini bersama ku ternyata.

Setidaknya, walaupun ini menyakitkan seperti ingin mati, aku bersama kakak ku dan yang pasti, aku menuju kebebasanku.

Aku bahagia

27/05/2020

Just Pour ItWhere stories live. Discover now