#1

19 0 0
                                        

Apa pentingnya hidup untuk orang sepertiku, yang tidak tahu tujuan hidup dan terlahir dari seorang Bapak yang hobi mabuk.

Entah kenapa orang-orang lebih suka memandangku sebagai bajingan. Bukan anak yang saleh, kau tahu kenapa? Aku tidak tahu.

Seribu limaratus kali kau memakiku dengan kata-kata kasar pun aku tidak peduli. Kau tahu kenapa? Karena apa penting dan untungnya mendengarkan ocehan orang seperti babi yang sedang mendengus. Bagiku itu tidak penting !

Aku tidak peduli dengan hidup ini. Mau Aku hidup ataupun mati. Mau Aku ada atau tidak ada di bumi ini. Aku rasa itu tidak ada gunanya. Meskipun sekarang kita sedang di landa virus corona tapi kita harus tetap hidup meski tidak berguna.

Aku di lahirkan atas cinta Bapak dan Emak di atas ranjang yang menggetarkan selangkangan Bapak dan payudara Emak. Aku juga tidak mengerti untuk apa Aku di lahirkan di dunia ini dari cinta lalu tumbuh menjadi seorang bajingan bagi sebagian orang. Aku tidak tahu.

Meskipun aku di anggap bajingan oleh orang-orang tapi Aku selalu menyempatkan diri untuk mengaji dan salat. Kau heran, atau tidak percaya jika seorang bajinganpun butuh mengaji dan salat.

Kapan kalian terakhir mengaji dan salat. Aku tidak peduli. Itu urusanmu bukan urusanku. Jika mengaji dan salat bagi kalian itu tidak penting itu urusanmu dengan Tuhan. Bukan urusanku.

Beberapakali Aku ingin membunuh orang-orang yang tidak bisa bahagia karena cinta. Kau tahu kenapa? Karena mereka terlihat seperti orang yang tidak berguna. Beberapakali juga Aku ingin menyiksa pejabat-pejabat yang berlaga seperti sengkuni. Menyiksa mereka di sebuah gudang bekas menelanjangi mereka menampar mulut mereka yang busuk dan menyuruh mereka memakan tahi babi. Menyenangkan bukan? Tapi Aku tidak akan benar-benar melakukannya. Kau tahu kenapa? Karena aku ini seorang pengecut.

Saat Aku masih SD aku sering di hina dan di siksa oleh kakak kelas dan teman-temanku karena aku dekil, ingusan juga miskin. Mereka sering menyiksaku saat jam istirahat dan pulang. Mereka melampariku dengan penghapus, robekan kertas, buku dan mencoret-coret wajahku dengan penghapus yang penuh kapur. Dengan senang mereka menertawaiku yang terlihat bodoh dengan muka compang-camping seperti badut kelas.

Aku tidak dendam. Aku hanya diam dan cengengesan melihat kakak kelas dan teman-temanku menertawakanku. Kau tahu kenapa? Karena Aku tidak tahu seperti apa rasanya sedih dan senang. Karena itu terjadi begitu saja. Dan Aku merasa biasa-biasa saja.

Bahkan Aku sendiri tidak tahu, juga tidak mengerti tentang perasaan sedih dan senang itu seperti apa. Seperti apa pun sedih dan senang bagiku itu tidak penting karena itu terjadi begitu saja.

Tafsir Sepasang Mata ManusiaHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora