November 2003
Di sebuah kerajaan tengah disibukkan oleh beberapa aktivitas. Hari ini adalah ulang tahun raja, untuk itu semua pelayan dikerahkan untuk mempersiapkan pesta semeriah mungkin bagi raja mereka.
Robert Cullen.
Sosok pria gagah dan masih terlihat tampan diumurnya yang hari ini telah menginjak kepala 4. Raja Cullen terkenal akan sifat baik dan bijaksananya. Banyak rakyat memuji kepemimpinannya yang adil dan memperlakukan rakyat di atas kekayaannya. Negara yang dipimpinnya pun terkenal damai dan sejahtera. Tidak ada kemiskinan, tak ada angka pengangguran. Semua berjalan seperti negara impian para rakyat dari negeri lain.
Ditengah kesibukkan yang terjadi di istana. Seorang bocah laki-laki terlihat duduk menyendiri di dalam ayunan yang berada pada taman depan istana. Mata hitamnya memandang istana yang terlihat ramai. Beberapa pelayan sibuk mondar mandir. Merapikan teras istana yang luas. Memotong beberapa tanaman yang panjang. Bahkan yang mengejutkannya adalah sebuah patung yang menyerupai ayahnya terpasang di depan istana. Warna emasnya sedikit menyilaukan penglihatan. Sambil berayun-ayun, bocah lelaki itu terus menghembuskan nafas berat. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh bocah kecil itu. Dia kelihatan sedang kesal akan sesuatu.
"Hey, pangeran!"
Panggilan cempreng itu membuat bocah lelaki itu menarik kepalanya ke arah kiri. Melihat seorang gadis kecil yang memanggilnya. Lantas wajah kesalnya pun berubah menjadi senyuman yang manis. Apalagi ketika kaki kecil milik si gadis melangkah ringan ke arahnya. Senyumnya semakin melebar.
"Apa yang pangeran lakukan sendirian di sini?" tanya gadis kecil itu. Dia berdiri di samping ayunan dan tidak masuk untuk duduk bersama bocah laki-laki yang dipanggilnya pangeran tadi.
"Di sana terlalu ramai dan aku tidak suka. Sangat berisik."
"Kalau begitu mengapa tidak ikut saya saja pangeran?"
"Ke mana?"
"Kita ke sungai. Mencari ikan," jawab si gadis riang. Belum lagi senyum dan mata sabitnya yang terbentuk. Terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
"Aku suka. Ayo."
Bocah laki-laki itu pun lompat dari ayunan dan mulai berlarian bersama si gadis kecil tadi. Mereka bersama-sama menuju sungai yang dikatakan oleh gadis cilik tersebut.
Sementara itu di dalam istana.
Tepatnya dalam satu ruangan besar yang merupakan kamar dari raja Cullen. Pria paruh bayah itu sedang sibuk memilih pakaian yang cocok untuk ia gunakan di pesta nanti malam. Istri cantiknya sedang sibuk membantu para koki masak dalam menyiapkan makanan untuk perjamuan malam nanti. Sehingga ia hanya dapat dibantu oleh anak sulungnya yang sama sekali tak bisa diharapkan. Bukannya membantu, pria remaja yang memiliki ketampanan dari hasil wajahnya itu malah menceramahi ayahnya sendiri.
"Ayah, untuk apa susah-susah mencari pakaian? Ini hanya pesta ulang tahunmu. Gunakan saja tuxedo putih dan dasi kupu-kupu milik ayah," cerocos anaknya.
Sang ayah mendelik tajam. "Kau pikir ayah akan menikah. Ini pesta perayaan ulang tahun bukan pesta pernikahan," jawab sang ayah tak lain adalah raja Robert.
Pria remaja itu mendengus pelan. Lantas kembali menyandarkan punggungnya ke kursi yang ia duduki. Tangannya terlipat di depan dada sambil memandang ayahnya jengah.
"Mau seperti apapun pakaian ayah tetap saja wajah ayah akan terlihat tua. Tidak akan kembali muda."
Bukk.
Sebuah buku tipis terlempar tepat mengenai kepala putra sulung kerajaan Yui tersebut. Pelakunya adalah raja Robert sendiri. Jika istri tercintanya melihat kelakuannya maka sudah dipastikan ia akan diomeli sepanjang malam oleh istri cantiknya itu. Beruntung saja wanita baik hati tersebut tak ada di sini. Sehingga ia bebas menganiaya anak sulungnya yang mengesalkan ini. Sifatnya memang tak beda jauh dari dirinya.
BINABASA MO ANG
Run away
Fantasy"ᴛʜᴇ ᴍᴀɢɪᴄ sᴛᴀʀᴛᴇᴅ ᴛʜᴇ ᴍᴏᴍᴇɴᴛ ɪ sᴀᴡ ʏᴏᴜ. ᴜɴᴅᴇʀ ᴛʜᴇ sᴛᴀɪʀs ᴏɴ ᴀ ᴅᴀʀᴋ ɴɪɢʜᴛ. ɪғ ʏᴏᴜ ᴀɴᴅ ɪ ᴀʀᴇ ᴛᴏɢᴇᴛʜᴇʀ ᴀᴛ ᴛʜᴇ ᴇɴᴅ ᴏғ ᴛʜᴇ ᴡᴏʀʟᴅ ғᴏʀᴇᴠᴇʀ ᴛᴏɢᴇᴛʜᴇʀ" Salah satu dari mereka tak mengetahui siapa jati dirinya yang sebenarnya. Hingga pilihan itu tiba, melari...
