1.

412 52 25
                                        

"Hallo, selamat malam," sapa Clara dari teleponnya.

"Malam, Clara bisa tolong antarkan dokumen berwarna merah, yang ada di meja saya. Ke Kafe Violet," ujar seseorang di sebrang sana.

"Baik, Bu!" jawab Clara.

"Terimakasih, Ra. Maaf merepotkanmu," ucap seseorang yang diketahui atasan Clara itu.

"Ah, tidak apa-apa. Kalau begitu aku tutup teleponnya ya," izin Clara.

"Baiklah, selamat malam," balas atasan Clara.

Clara pun bergegas mencari dokumen yang dimaksud oleh atasannya itu, setelah beberapa lama mencari akhirnya ia menemukan dokumen itu.

"Ahh. Akhirnya, kenapa meja ibu berantakan sekali." Clara memijat pelipisnya.

Setelah menemukannya Clara bergegas untuk mengantarkan dokumen itu ke tempat yang tadi disebutkan oleh atasannya.

Saat Clara sedang berlari mencari taksi, perut Clara berbunyi. Ahh, Clara ingat dia belum makan sejak tadi siang. Kemudian dia melirik arloji di tangannya waktu sudah menunjukan pukul 20.30.

Pantas saja dia lapar. Satu detik kemudian, dia ingat harus cepat-cepat mengantarkan dokumen itu, karena tidak ada taksi yang lewat.

Akhirnya, dia memutuskan untuk berlari saja.

Dengan nafas yang masih memburu Clara sampai di depan kafé yang di sebutkan tadi, ia melirik kesana-kemari mencari keberadaan bosnya, "Ahh, itu dia," ujar Clara kegirangan.

"Selamat malam," sapa Clara

"Malam. Oh ya, mana dokumen yang saya minta?" ujar atasan Clara

"Oh ya, ini Bu," ucap Clara sambil menyodorkan amplop merah berisi dokumen.

"Ahh, syukurlah, terimakasih." Atasan Clara benar-benar berterimakasih pada Clara. Kalau saja Clara sudah pulang, ia tidak tau harus bagaimana lagi, ia juga binggung kenapa dia bisa melupakan dokumen sepenting itu.

Tersadar dari lamunannya atasan Clara itu pun meminta Clara untuk bergabung makan malam dengan mereka, sebagai ucapan terimakasih.

Tentu, dengan senang hati Clara menerimanya, lagipula ia memang lapar.

Saat Clara hendak duduk, ia terkejut melihat seseorang di hadapannya, "Kamu ..., " ujar Clara terkejut.

"Reza!" tambah Clara sambil menunjuk seseorang yang diketahui bernama Reza itu, sedangkan yang ditunjuk hanya menyirit kebingungan, begitu juga orang-orang di sekitarnya.

"Aku Clara, Clara Mutiara Putri. Teman sekelasmu saat SMA." Seakan paham apa yang Reza pikirkan Clara langsung memperkenalkan dirinya.

"Ohh, Clara ..., " ucap Reza menangguk-anggukkan kepalanya mengerti.

"Eh, kalian saling mengenal?" sahut atasan Clara-Sally, Reza dan Clara hanya mengangguk sebagai jawaban.

"Reza teman sekelasku saat SMA. Sejak dulu, Reza banyak diidolakan para perempuan di sekolah, karena selain tampan, Reza juga sangat pintar dikelas dan juga pandai berolahraga," jelas Clara.

Reza hanya tersenyum mendengar penuturan Clara tentangnya.

"Wah, pertemuan yang tidak diduga, jangan-jangan kalian .... " Sally mengantung kalimatnya.

"Jodoh," sambung Reni-atasan Reza, sontak semua yang ada di meja itu pun tertawa tanpa terkecuali.

Setelah reuni singkat Clara dan Reza itu, mereka pun melanjutkan perbincangan mereka mengenai perbisnisannya.

**

"Sepakat?"

"Sepakat, kami tidak sabar berkerja sama dengan kalian."

"Bagus, untuk merayakan project bersama ini, bagaimana kalau kita makan-makan?" ujar Sally.

"Ide bagus," balas Reni.

Akhirnya, merekapun makan-makan sembari berbincang-bincang mengenai banyak hal, yang ... tentu saja, tidak selamanya berkaitan dengan bisnis.

Mereka mencoba untuk menjadi lebih dekat satu sama lain. Reza memandangi wajah cantik Clara yang sedang bercanda riang dengan rekan-rekannya, melihat wajahnya membuat ketenangan tersendiri bagi Reza.

Ahh, dirinya jadi mengingat masa lalu, masa di mana saat ia masih sehat dengan fisik yang sempurna.

Ingatannya melebar kemana-mana, menginat semua kenangan masa lalunya, kemudian ia mulai kembali mengingat ketika ia mengalami kecelakaan serius yang menyebabkan kecacatan pada fisiknya.

Tidak lama setelah itu, tunangannya tidak dapat menerimanya dan akhirnya meninggalkannya.

Sampai skenario terburuknya adalah saat kematian orang tuanya. Sejak saat itu, Reza harus bertahan hidup sendiri dengan fisik yang tidak memadai, sampai akhirnya ia bertemu dengan Reni.

Wanita paruh baya yang mengizinkannya bekerja di perusahaannya. Dirinya tersenyum kecut mengingat seluruh masa lalunya.

"Eh, ngomong-ngomong, Za, kamu masih main basket?" Pertanyaan Clara membuat semua yang ada di meja itu terdiam.

Memang, hanya Clara yang belum mengetahui soal kecacatan fisik yang dialami oleh Reza.

"Kenapa semua orang terdiam? Apa aku salah bicara?" tanya Clara 'tak mengerti.

"Tidak, tentu tidak, setelah keluar SMA aku berhenti bermain basket dan melanjutkan sekolah di Universitas Togo, Jepang. Tapi, karna suatu hal aku berhenti sekolah dan kembali ke Jakarta, Indonesia," jelas Reza dengan senyum yang dipaksakan.

"Bagaimana denganmu?" tambahnya.

"Aku melanjutkan sekolah di Universitas Art Creation, Korea dan baru lulus tahun kemarin," terang Clara.

"Maaf semuanya, sepertinya, aku harus pulang sekarang," ujar Reza.

"Baiklah, mau aku bantu?" ucap teman Reza-Lucas.

"Terimakasih," ucap Reza tersenyum.

Sementara Clara terkejut melihat Reza yang memakai kursi roda, ia jadi merasa bersalah telah menanyakannnya tentang basket itu.

'Dia ... memakai kursi roda?' batin Clara tidak percaya.

Clara menatap kepergian punggung Reza dengan sedih.

Jujur, Reza adalah cinta pertamanya, ia tidak percaya harus melihat Reza dalam keadaan seperti ini.

Ingin sekali rasanya menanyakan tentang masa lalunya lebih banyak. Tapi, Clara yakin, itu akan membuat hati Reza sakit dengan kembali mengingat masa lalunya.

Sepulang dari kafe itu, Clara terus memikirkan tentang Reza.

Clara berfikir, mungkin ini yang dinamakan takdir.

Kita tidak bisa menentukan nasib seseorang hanya dari rupa fisiknya.

Reza yang dulu terkenal dengan segala kesempurnaan nya. Kini, hanya karena kecelakaan, itu merenggut semua kesempurnaannya.

Dari kisah hidup Reza, Clara belajar bahwa kesempurnaan yang sesungguhnya hanyalah milik sang pencipta.

Takdir seseorang telah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Clara bersyukur ia masih diberi nikmat berupa fisik yang sempurna.

Only Because of Destiny [Sudah Terbit]Where stories live. Discover now