"Tolong jangan korbanku ayahku!"
Aku bersujud kepada Tuan Ryoten agar ia tidak mengorbankan ayahku ke Black Hole.
"Dengarkan aku Minami Ze Ralx, tanpa pengorbanan ini Andromeda akan terus mendekat dan kehidupan kita di Milky Way akan berakhir!" ujar Tuan Ryoten dengan nada tinggi.
Tanpa memberi aba-aba dia melempar ayahku ke dalam Black Hole.
"Ayah!!!!"
🌌🌌
Sejak kejadian itu aku hidup sendirian di rumah sederhana. Oh ya ibuku pergi dari rumah saat aku berumur 5 tahun, karena ia tidak mau menjadi selir di kerajaan. Meski hidup sendiri, aku dikelilingi oleh tetangga dan kerabat yang baik, membuatku merasa tidak sepenuhnya sendirian.
Sekarang usiaku telah menginjak 16 tahun. Di usia ku yang sekarang aku mulai dilatih menggunakan pedang dan sihir mage. Aku seorang pewaris tunggal Blue Magic yang katanya keturunan kerajaan inti, tapi nyatanya aku seorang rakyat biasa.
Tokkk.. tok...
"Kak Minami! Ayo latihan pedang bersama!" ajak seseorang dibalik pintu rumahku.
Aku segera bersiap dengan jubah hitam dan pedang kesayanganku. Lalu, aku membukakan pintu rumah.
"Hmphh manis," ujar Shou sambil menutup mulutnya.
"Sudahku bilang jadilah pria yang baik, Shou. Ayo cepat ke tempat latihan!"
Shou hanya mengangguk lalu mengikutiku dari belakang.
"Shou, apa kau tau dimana keberadaan Tuan Ryoten?" tanyaku tanpa melirik Shou.
"Masih teringat ya? Kata orang-orang sih dia mengasingkan diri di Neptunus."
"Oh. Aku kira masih di planet yang sama seperti kita."
Setelah sampai di tempat latihan kami pun belatih pedang bersama. Shou mencoba mengarahkan pedangnya padaku tapi aku membuat pedangnya terlempar.
"Woah gerakan yang bagus, Kak Minami. Sepertinya kakak sudah semakin terampil menggunakan pedangmu."
"Shou ambil kembali pedangmu kita latihan lagi. Aku ingin terus mencobanya" ujarku semangat. Shou mengambil pedangnya kembali lalu melanjutkan latihan.
Sekitar 45 menit kami berlatih pedang. Rasa lelah tidak dapat ku rasakan, apakah ini yang namanya semangat?
"Ah sudahlah aku lelah, Kak!" pinta Shou merengek seperti anak kecil.
Aku menunjuk ke arah pecahan asteroid yang sudah lama jatuh. "Baiklah, ayo kita beristirahat di dekat batu itu!"
Kamipun bersandar dibawah batu besar itu sambil menikmati pemandangan langit oranye.
"Jika kakak bertemu Tuan Ryoten, apa yang akan kakak lakukan? Balas dendam?"
"Yah begitulah."
"Tapi mengapa kakak masih dendam? Padahal itu kejadian 5 tahun yang lalu. Mengapa kakak tidak menerima saja? Memang itu tradisi kita agar Galaksi Andromeda tidak mendekati kita."
"Cobalah pikir dengan logikamu! Setiap tahun galaksi itu semakin mendekat saja tidak ada yang berubah. Meski planet ini melakukan pengorbanan sebanyak ribuan orang pun itu tidak akan mengubah apa yang terjadi."
Shou terdiam merunduk.
"Apa kakak mengatakan ini karena tidak rela jika waktu itu giliran ayah kakak yang dikorbankan?"
"Terserah kau saja. Aku hanya berbicara apa adanya bukan ada apanya."
Aku memakaikan pedangku di punggung lalu membersihkan jubahku dari debu.
"Ayo pulang sebelum kita dibutakan oleh langit."
"Ya."
Di perjalanan aku hanya terdiam. Aku menjadi malas memulai pembicaraan jika berujung membahas kematian ayahku.
Seketika aku teringat untuk membeli bahan makanan lalu memutuskan untuk pergi ke pasar.
"Aku akan ke pasar, Shou. Sampai jumpa lagi" akupun langsung berlari ke dalam pasar.
"Hee apa? Hoi kak apa kau tidak mengajakku?! Hei!!"
Aku tidak memperdulikan panggilan Shou karena yang terpenting sekarang ialah bahan makananku terpenuhi.
"Permisi paman, berapa harga semua barang belanjaanku?"
"Semuanya 75 koin perak."
Aku menyerahkan satu koin emas, "wah ternyata mahal juga."
Pedagang itu menyerahkan 25 koin perak sebagai kembalian.
"Terima kasih paman!"
"Sama-sama anak muda."
Akupun kembali kerumah beserta belanjaanku yang lumayan banyak.
"Duh koinku tinggal 3 koin emas dan 90 koin perak. Sepertinya aku harus mulai bekerja lagi!"
Aku menyimpan barang belanjaanku lalu beristirahat dikamar. Terbesit dipikiran untuk membaca buku di perpustakaan kecil dirumahku.
The Legend of Galaxienschwert.
Aku mulai tertarik dengan buku itu lalu membaca isi buku itu.
Suatu waktu alam semesta tercipta. Banyak sekali peristiwa yang terjadi agar menjadi kata sempurna. Jutaan bahkan milyaran galaksi tercipta. Sebuah galaksi baru tercipta atas penyatuan dari dua galaksi menjadi satu. Semua isi bahkan kehidupan diantara keduanya hancur demi galaksi yang baru.
Suatu hari nanti akan ada dua galaksi yang berseteru. Ada yang setuju dengan penyatuan kedua galaksi tersebut dan ada juga yang tidak mau kehidupan didalamnya berakhir.
Akan ada perang besar diantara keduanya yang akan menentukan mana yang lebih pantas ada. Namun, hanya ada satu pedang yang akan menentukan kemenangan atas perang tersebut. Pedang itu berada jauh diantara kedua galaksi itu dan tidak mudah didapat.
Makhluk yang dapat menggenggam pedang itu hanya pemilik Blue Magic, Red Magic, dan, Purple Magic.
Nasib salah satu galaksi tersebut tergantung siapa cepat yang memiliki pedang tersebut. Galaksi pemilik pedang itu akan menang dan yang tidak pasti akan hancur dengan cara apapun.
Srettt
Secarik kertas jatuh dari buku itu. Aku langsung memungutnya dan melihat isi kertas itu.
"Wah jadi ini peta menuju pedang itu. Aku harus mengambil pedang itu agar tidak ada korban lagi."
Aku menyimpan kertas dan buku itu di atas meja disamping ranjangku.
"Aku harus menyelamatkan Milky Way!"
~NEXT.
YOU ARE READING
Galaxienschwert of Adventure
Fantasy[ZRENS Project] Makhluk hidup hanyalah sebuah debu diantara ribuan galaksi yang terbentuk di alam semesta. Sebuah perang dilakukan demi pemisahan perbedaan besar dan kehidupan didalamnya. Hanya ada satu pedang sejati yang menjadi kunci terpenting de...
