Prolog

176 19 4
                                        


Jalanan ibukota benar-benar luar biasa macetnya hari ini. Bagaimana tidak, semua lembaga mulai masuk lagi setelah 2 minggu cuti hari raya. Termasuk salah satu kampus ternama di Jakarta ini.

Area kampus begitu ramai saat mahasiswa baru (maba) memadati masing-masing fakultas.
Hari ini adalah ospek hari pertama di kampus.

"Priit..Priittt.."

Bunyi peluit dari sie komisi disiplin (komdis) begitu nyaring terdengar, sampai membuat gendang telinga ingin keluar.

"Kalo jalan gak usah lelet bisa gak sih hah?" Teriak salah satu kakak komisi disiplin.

"Iya kak." Jawab mahasiswa baru serentak.

Mahasiswa baru digiring ke tengah lapangan untuk mengikuti apel pagi sekaligus pengecekan barang-barang yang harus dibawa para maba.

Ditengah acara apel, ada gerombolan maba yang terlambat datang.

"Hmm baru juga hari pertama." Ujar ketua sie komdis.

"Udah telat aja." Timpal kakak komdis lain.

Gerombolan maba yang terlambat berjumlah 18 orang.

"Kalian liat nih! Ini contoh calon mahasiswa gagal!" Ujar ketua sie komdis.

"Dih kurang ajar banget ngatain gue calon mahasiswa gagal." Batin salah satu maba.

"Dengerin semua ya. Kalian yang didepan telat, dapet hukuman!" Lanjut si ketua.

"Yah..kak." Balas maba yang terlambat dengan lesu.

Setelah berunding dengan anggota komdis yang lain, kini sudah diputuskan hukuman yang harus dijalani para maba yang terlambat.

"Oke. Hukuman buat kalian yang telat adalah menuruti kemauan kakak-kakak komdis kalian. Jadi karna jumlah yang telat sama dengan jumlah anggota komdis, kalian harus pilih masing-masing 1 kakak buat hukuman kalian. Mengerti?" Jelas si ketua.

"Mengerti kak!!"


"Duh..gue harus cepet nih milih kakak komdisnya keburu dapet si ketua galak." Ucap salah satu maba.

Mereka yang terlambat harus menjalankan hukuman pada jam istirahat. Kini mereka sibuk mondar-mandir mencari komdis agar segera mengetahui hukumannya.

"Kak, aku jalanin hukuman sama kakak ya?"

"Sorry dek, gue udah ada maba yang minta barusan."

Begitulah susahnya, apalagi mereka belum terlalu hafal wajah kakak tingkatnya.

"Eh.. lo udah dapet belom?"

"Belom nih gue tanya katanya udah pada dapet maba, lo sendiri?"

"Gue sih udah.. dan hukumannya gampang banget."

"Apaan??"

"Gue foto bareng dia terus di upload di ig, terus di tag ke akun fakultas." Ucap salah satu maba dengan wajah sumringah.

"Yeu, itu namanya malu-maluin kata gue mah."

"Yee ini tuh namanya rejeki, soalnya.. gue dapet kak Jae.

"WHAT??".

Jae adalah salah satu sie komdis yang disegani para gadis di kampus. Melupakan perannya sebagai salah satu komdis, wajah yang rupawan mampu membuat mereka tergila-gila hingga sesak napas.

"Yahh harusnya gue tuh yang dapet."

"Sabar ya Nja. Haha. Bye, gue duluan tugas dah selesai."

"Dasar temen kurang ajar si Ziya!"


Setelah wara-wiri tidak kunjung mendapat kak komdis, akhirnya gadis tadi berjalan malas mendekati si ketua komdis. Dan memintanya menjadi kakak komdis yang memberi hukuman.

"Lo kerjain tugas gue di ketik terus di print a5 hvs dan jangan lupa di jilid terus covernya kasih warna biru." Ujar ketua tanpa jeda sambil menyodorkan flashdisk.

"Hah?"

"Lo gak denger gue ngomong apa barusan? Oh ya jangan lupa besok harus selesai."

Setelah memberi hukuman dengan panjang × lebar × tinggi, dia langsung saja pergi dari hadapan gadis itu.

"Dih! Udah gak waras tu komdis." Batinnya.

"Fuck you."

Benar-benar kesal dibuatnya, gadis itu menghentakkan kakinya dan uring-uringan sendiri.

"Di kampus gak boleh ngomong kasar." Tiba-tiba suara misterius datang entah darimana.

"Eh kak, maaf."

"Jangan diulangin ya."

"I-iya kak--"

"Gue Jae." Ujarnya sembari mengulurkan tangan.

"Senja." Balas gadis tersebut.

***

° Jangan lupa vote, comment ya :)

DYASENJA [ Doyoung-Sejeong ]Bağımlısı olacağınız hikayeler. Şimdi keşfedin