Prologue

155 29 10
                                        

Happy Reading :)
      
                          ~~~

Seorang gadis kecil sedang menangis tersedu sedu, di pelukannya terdapat boneka stich kesayangannya.
Anak perempuan itu berhenti menangis ketika melihat ada sepasang kaki di depannya.

Gadis kecil itu mendongkak, seketika bocah laki laki itu terhipnotis dengan mata hazel milik gadis kecil itu.Dia berjongkak "Kamu kenapa?"

Gadis kecil itu masih bergeming.

"Kamu kenapa?" Tanya bocah laki laki itu sekali lagi. Melihat gadis kecil di depannya diam tak menjawab membuat anak lelaki itu menghela nafasnya sabar.

"Kamu mau jadi sahabat aku?" Gadis kecil itu masih bergeming, enggan membuka suara.

Oke, kesabaran bocah laki laki itu sudah habis.

Tangan kecil nya terulur untuk menghapus jejak air mata gadis itu. Dia berkata "Kamu jangan sedih, ada aku. Kita akan menjadi sahabat" Katanya dengan nada datar.

"Kamu siapa?" Dua kata itu lolos dari bibir mungil milik gadis kecil itu, ia sudah berhenti menangis, mata hezel nya melihat takut bocah laki-laki di depannya.

Bocah laki laki itu mengulurkan tangannya "Namaku Rafael, Panggil aku El" Katanya dengan muka datar.

"Jangan takut, aku ngga akan jahat sama kamu" Lanjut El kedapa gadis kecil itu.

"Aku Anggia, kamu bisa panggil aku Gia" Katanya sambil menyengir polos memperlihatkan deretan giginya.

"Kamu kenapa nangis?" Tanya El untuk kesekian kali nya. Mendengar pertanyaan bocah laki laki itu, Gia kembali murung.

"Aku gapunya siapa siapa, Kata doktel mama sama papa udah ada di sulga" Jawab Gia dengan berderai air mata.

"Aku mau pulang, tapi aku gatau lumah aku dimana" lanjut Gia dengan wajah murung. Melihat Gadis kecil itu sedih, entah kenapa El merasakan dadanya berdenyut sakit.

"Kamu jangan sedih, ada aku. Kamu tinggal sama aku aja, nanti aku bilangin ke bunda sama ayah" Kata El dengan masih nada datar.

"Emang gapapa?" Tanya Gia dengan muka polosnya.D ia bingung, takut, sedih. Setelah kepergian mama dan papa nya, dia sebatang kara, tidak ada yang mengurusnya.

Kerabat kerabat nya membencinya, bahkan kerabatnya sendiri yang membuat kedua orang tuanya meninggal hari ini.

Dia masih merasa takut dengan orang asing karna mama-nya selalu berkata "Gia kalau ada orang yg kamu ngga kenal hati hati ya sayang"

"Hei" Panggil El sambil melambaikan tangan-nya di depan wajah Gia. Seketika Gia tersadar dari lamunannya, dia menatap ke arah El dengan raut bingung. "ayo" lanjut El sambil menjulurkan tangannya.

"Kemana? aku gamau, kata mama harus hati-hati sama olang asing" jawab Gia dengan nada ketus nya.

"Aku udah bilang aku gak jahat, kamu tinggal sama aku nanti aku kenalin kamu sama bunda" Kata El dengan raut wajah yang masih datar.

Gia menjadi bingung, apakah orang di depannya ini tidak mempunyai ekspresi? Kenapa selalu datar tidak pernah tersenyum, meski Tetap pesonanya tidak berkurang. Mata hazel, hidung mancung, bulu mata yang lentik, halis yang tebal, dan jangan lupakan bibir merah ranum yang menggiraukan.

Ahh mempikirkannya saja membuat Gia kecil jatuh cinta. Dia kembali meneliti wajah El dengan intens, raut mukanya selalu datar tidak ada aura jahat yang El miliki.

"Ayo, tapi kalau kamu culik aku, aku bakal lapol kamu ke polisi" Kata Gia sambil melotot ke arah El.

Bukannya takut, El malah merasa gemas dengan muka Gia yang galak.

"Hm" Jawab El singkat. Dia menggenggam tangan Gia erat, mengajaknya berjalan menemui bundanya.

Di sepanjang perjalanan, Gia kecil  memperhatikan lengannya yang di genggam erat oleh El kecil.

"Aku gamau manggil kamu Gia" Kata El tanpa menoleh pada arah lawan bicara, tetap pokus ke arah depan.

"Aku mau manggil kamu jia" Lanjut El sambil menoleh ke arah Gia dengan raut muka yg tetap datarr."Kenapa?" Tanya Gia dengan polosnya.

"Gapapa,mau aja" jawab El singkat membuat Gia kesal sendiri.

"Kita sahabatan kan?" Tanya Gia kecil dengan senyum merekah. "Kamu jangan tinggalin aku kaya mama sama papa, nanti aku sendilian" Lanjut Gia dengan wajah sedih.

"Aku gak akan pergi, aku akan selalu bersama kamu"bJawab El sambil tersenyum kecil.

Puas dengan jawaban El, Gia menjulurkan jari kelingking nya kedepan sambil bertanya "Janji?"

El melihat ke arah Gia dan jari kelingking itu bergantian, sambil tersenyum simpul, El mengaikan jari kelingkingnya dengan jari kelingking jia "Janji" jawabnya lembut.

Bunda El yang melihat itu cengo, sebab ini pertama kali anaknya tersenyum tulus kepada seseorang. Detik itu juga dia menyimpulkan bahwa El menyayangi Gadis kecil yang di gandeng oleh Anak-nya.

-o0o-

Segitu aja dulu prolognya ya gays,Jangan lupa vote+Koment.Semoga sukaa :)

Kamis/16-04-2020.
 

RAFAELHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora