Cuaca di sumatra ini sedikit berbeda dengan apa yang kurasakan di Jawa, semuanya serba tak pasti, bisa saja pagi hari yang cerah indah sorenya tiba-tiba turun hujan lebat dan sebaliknya, paginya redup dan berawan hitam sorenya cerah gersang. Namun ketika hal itu sudah menjadi dasar prediksi, tiba-tiba dari pagi hingga malam hujan turun tak berhenti atau malah gersang seharian hingga esok hari. Serba salah. Prediksi kami tak ada yang akurat, ilmu kami membaca cuaca di pulau yang berbeda ini benar-benar tak berguna sama sekali.
Jam ditangan kiriku mengedip, menunjukan angka 16:00 berwarna merah sementara tangan kananku masih memegang peta koordinat wilayah, sudah dua jam hujan turun seolah awan hujan mengikuti kemana mobil kami berjalan, butirannya menghantam kaca mobil depan yang dikendarai Kopral Marzuki membuat irama air hujan yang khas. Jalanan yang kami lewati benar-benar terasa tak pernah dilewati orang lain, ilalang bertengger sampai hampir ke tengah jalan, terkadang ada babi liar yang melintas dan beberapa kali mobil hampir menabrak ayam hutan yang sudah mulai langka di hutan sumatra, untung saja Kopral Marzuki pernah berpengalaman menjadi sopir truk pasir sebelum masuk akademi militer. Apa hubungannya? Aku pun tak tahu, dia selalu bilang seperti itu setiap kali mobil berhenti mendadak, membiarkan ayam hutan menyebrang jalan. Kenapa ayam hutan menyebrang jalan? Aku pun tak tahu.
"Jangan sampai kau biarkan anak buahmu tidur di mobil sempit ini lagi Kapten" Ketus Sersan Mayor Pito yang sedari tadi diapit dua box persediaan makan kami.
Malam kemarin memang kupaksakan untuk terus melanjutkan perjalanan agar mencapai titik pertama lebih cepat, tepatnya di pemukiman kecil. Komandan bilang di titik pertama ini ada kemungkinan di kuasai para sindikat namun hanya sedikit dan kemungkinan orang-orangnya bersenjata, itu berdasarkan laporan tim rajawali, atau tim pengintai. Untungnya Batalyon memberi kami mobil Komodo Recon jenis baru, jumlah tempat duduknya ada enam, model baru rancangan PINDAD. Mobil ini di benamkan mesin diesel canggih rancangan anak bangsa. Mesinnya tidak berisik, dan bisa melaju kencang. Mobil ini pun tahan ranjau dan tahan peluru, hingga peluru barett M82 ber-kaliber 50BMG pun tak mempan menembusnya.
Aku ingin segera sampai di titik pertama untuk mendirikan barak, setidaknya timku bisa beristirahat dengan layak dibanding di mobil yang tak terbilang luas ini, meskipun harus baku tembak dahulu dengan para sindikat.
Tak berselang lama, setelah melewati hutan lebat kami sampai ke pemukiman yang tak berpenduduk, beberapa bangunan tua yang tak beratap berdiri tetap kokoh di kanan dan kiri jalan, kebanyakan dari bentuknya terlihat seperti bekas pabrik. Ada beberapa rumah berdiri disampingnya, semua pintu dan jendelanya sudah raib entah kemana. Saat itu pula tiba-tiba suara peluru membentur pelindung baja mobil, bunyinya nyaring terdengar, kemudian disusul peluru kedua yang kali ini menghantam kaca pintu mobil disampingku, kami disergap. Untungnya di sebelah kanan jalan ada bangunan yang sedikit besar dengan bekas garasi disampingnya, akupun langsung menyuruh marzuki membawa mobil masuk ke garasi itu. Mobil langsung merangsak masuk ke bekas garasi, menghantam beberapa bongkahan bekas bangunan yang menghalangi.
"SIAPKAN SENJATA!" Aku berteriak, yang lain sigap menyiapkan senjata masing-masing sementara aku keluar mobil lebih dulu.
***
YOU ARE READING
Operation Flash Point
ActionTim Alpha KOPASSUS ditugaskan untuk melumpuhkan sindikat narkoba yang bersembunyi di pedalaman sumatra, sindikat narkoba yang dicari adalah buronan nomer satu interpol. Bagi para sindikat, Indonesia dengan hutan belantara yang luas adalah tempat yan...
