Tetap tersenyum walau dalam keadaan tersulit sekalipun
Matahari sudah muncul dengan malu-malu di ujung sana, namun tidak dapat membangunkan gadis yang tengah bergelung dibalik selimutnya itu.
"Neng, ayo bangun udah jam 6 loh." usapan lembut itu dirasakannya. Bukannya bangun ia malah menikmati setiap usapan yang diberikan
"Kapan lagi diules-elus gini." Ucapnya dalam hati.
"Iya mah sebentar lagi. 5 menit lg deh." sambil setengah menguap.
"Ini bibi neng geulis, ayo ah bangun pangerannya udah mau sampe tuh" Lanjutnya kesal walau masih bernada lembut seperti biasanya.
Ah iya dia masih saja lupa, hanya bibi yang setia membangunkannya setiap pagi. Memangnya siapa lagi.
"Ih... Ibu kok manggil bibi lagi emang ibu nikah sama paman aku yg mana, paman aja gak punya" sahutnya kesal dan seketika bangkit dari tidur nyamannya
"Iya iya anak ibu geulis, udah sekarang bangun mandi nanti pengerannya dateng masih ileran masa" ledeknya
"Iya nih semalem aku abis mimpi makan mie ayam mang Ujang pake sambel semangkok"
Ujarnya asal
Muach kucium pipi kanan ibu sambil berlari ke arah kamar mandi. Walaupun wanita yang lembut, hobi ibu-ibu masihlah sama, sekali marah bakal nyerocos gak berhenti. Ibu memang paling tidak suka jika dicium.
"Awas yaa neng belum kena ceramahan ibu pagi ini" sungutnya kesal.
Gadis itu hanya bisa cekikikan depan kamar mandi.
"Aku sayang ibu" ucapnya sebelum benar-benar hilang di pintu kamar mandi
Hanya gelengan kepala yang Ibu bisa lakukan melihat tingkah ajaib anak majikannya itu. Diiringi senyum sendu yang menghiasi wajah yang sudah tidak muda itu.
"Neng semoga selalu bahagia ya" doanya tulus dalam hati.
---
Semilir angin ditaman kota menjadi temannya pagi ini. Ya dia memang membolos sekolah hari ini padahal pagi ini jadwal bu Tuti mengajar, guru wanita berwajah ayu nan keibuan. Namun yang patut digaris bawahi disini guru itu tak sebaik keliatannya bahkan beliau memegang predikat guru terkiller 3 tahun berturut-turut. Membayangkan hukuman yang akan dia dapat saja sudah membuat sekujur tubuh Zeva merinding. Hah, hanya sekali membolos tidak apa-apa kan. Toh selama disekolah barunya ini, dia tidak pernah membuat masalah.
"Harusnya kamu bisa lebih memperhatikannya lagi kan mas, Zeva anak kandung kamu. Jangan terlalu abai dengan dia."
Pasti ini suara Mamanya. "Hah..
Mulai lagi" gumamnya pelan
"Bel aku sudah memenuhi tanggung jawabku atasnya. Memberi dia tempat tinggal yang layak, sekolah. Semalam mas kesal karena dia membawa nama kamu dengan nada yang tidak sopan, untuk apa kamu masih membelanya? Apalagi, selalu anak itu yang menjadi pemicu pertengkaran kita. Ini masih pagi Bel, mas mohon jangan buang energi mas untuk topik yang tidak penting untuk dibahas." Balas Adit malas
"Tapi tindakan mas semalam sudah keterlaluan. Inget mas dia anak perempuan mu yang mestinya kamu jaga, bukan malah melukainya. Cukup karena aku penyebab keretakan hubungan pernikahan kalian yang membuat anak-anak menjadi korban. Jangan tambah melukai hatinya dengan sikap kamu yang seperti ini." Lanjut Bella dengan segera meninggalkan suaminya sendiri dalam kamar. Selain tidak ingin berdebat lagi dengan suaminya, Bella berharap semoga suaminya merenungi tindakannya yang salah. "Semoga mas Adit tidak salah langkah lagi." Ucapnya penuh harap.
Zeva yang tidak sengaja menguping segera melarikan diri ke dapur agar tidak ketahuan sang Mama.
---
Memikirkan kejadian dirumah tadi sudah membuatnya malas bersekolah, kepalanya yang pening sejak kemarin ditambah lebam ditangannya yang masih nyeri. Ingin rasanya tertidur dikamarnya saja. Walau tidak sebesar dan seluas kamar di lantai 2 tapi tetap saja kamar menjadi surga baginya.
___
Jam sudah menunjukan pukul 22:00 Zeva sendiri baru sampai rumahnya malam ini. Dengan mengendap-endap bagai maling dirumah sendiri dia tetap melangkah pelan agar orang rumah yang seperti sudah tertidur pulas itu tidak ada yang terganggu.
Tangga sudah terlihat didepan matanya tinggal naik ke lantai 3 dimana kamar tidurnya berada.
"Jam berapa ini? Sudah mau menjadi anak pembangkang rupanya. Mau jadi apa kamu, prestasi gak ada kelakuan nol besar. " Suara itu mengintrupsinya diam tidak lagi melanjutkan langkahnya walau tubuhnya sudah lelah seharian ini. "Aku sama Raka Pa." Memang seharian ini dirumah Raka sahabat terdekat ku.
"Mulai berani berbohong kamu rupanya. Saya tidak menyekolahkan kamu untuk hal yang sia-sia. Jangan bisanya hanya menghamburkan uang yang saya beri ke kamu."
Zeva menelan ludahnya gugup. Ucapan Papa nya membuat dia bagai kucing yang ketahuan mengambil ikan majikannya.
"Ah ternyata ucapan Gara tadi benar bahwa kamu seharian ini berada di cafe hanya untuk menghamburkan uang saja." Lanjutnya sambil tersenyum miring melihat kelakuan anak gadisnya.
"Zeva disana tidak untuk menghamburkan uang Pa. Disana aku membantu mamanya Raka di cafenya." Ujarku membela diri, karena memang dia seharian ini membantu mama Ani dan Raka mengurus cafe mereka. "Mau jadi pahlawan kesiangan kamu? Memang anak seperti kamu bisa apa? Yang ada hidup kamu cuma menyusahkan saya dan istri saya." Kata-kata Papa bagai panah tak kasat mata yang menusuk hatinya hingga rasanya tidak berbentuk lagi.
"Terserah papa mau ngomong dan berpikiran seperti apa, toh aku memang selalu salah kan dimata papa." Balasku sambil melangkahkan kaki menuju kamar. Kepalanya mulai pening jika berdebat dengan Papanya.
"Benar kata bundamu, kelakuan kamu memang membuktikan kamu memang anak yang pembangkang yang tak tau aturan. Saya sangat sial hak asuh kamu jatuh ke saya." Terang Papa
"Bukankah Papa yang tidak bisa menjaga kelakuan, bahkan sampai bisa menghamili janda. Jadi jangan salahkan aku kalau kelakuanku begini, mungkin turunan dari Papa. Jangan lupa ah sebenarnya aku enggan mengakuinya bahwa darah brengsek Papa mengalir ditubuhku."
Plak
Tamparan cukup kuat itu yang tidak diduganya membuat tubuhnya oleng dan menabrak pembatas tangga. Kepalanya yang memang sudah pening sejak tadi bertambah pening. Ini pertama kali seumur hidupnya Papanya bermain tangan. Tanpa terasa cairan hangat membasahi pipinya. Ah dia tidak boleh lemah, segera saja dia bangkit tanpa memedulikan teriakan Papanya yang masih menggema.
"Zevana Adiyaksa"
___
Kadang dia bingung dosa besar apa yang sudah dilakukannya terhadap kedua orang tuanya. Apa karena dia yang terlalu bodoh dan tidak berguna.
Dia harusnya masih bisa bersyukur masih ada ibu yang menjadi sosok orang tua disaat dia membutuhkannya.
"Woy dia disini ternyata gw cariin lu juga. Disekolah ga ada kirain masih sakit khawatir tau gak? Tau-tau malah asik ngadem disini."
Zeva tersentak dari lamunannya mendengar suara berat khas pria. Siapa lagi kalau bukan sahabatnya Raka.
"Eh masih diam aja lagi, masih sakit ya? Kerumah gw aja kalau gitu ada mama kok, hari ini cafe gak buka dulu genteng bocor kemarin masih dibetulin sama mamang bangunan." Lanjutnya sambil memegang dahi sahabatnya itu karena dia yakin bahwa Zevanya sedang tidak baik-baik saja.
Zeva yang tersentak kaget karena Raka tiba-tiba memegang dahinya langsung saja memundurkan badannya.
"Apaan sih lo, ganggu meditasi gw aja. Gw baik-baik aja" Ujarnya kesal sambil menyembunyikan semburat merah pipinya.
"Tuh emang panas nih bocah. Udah ayo kita ke rumah gw. Kebetulan gw udah izinin ke bu Tuti, gw juga lagi males sekolah untung ada lo yang bisa dijadiin alesan." Ujarnya santai sambil merangkul bahu Zeva untuk dibawa kerumahnya. "Gimana gak tambah deg-degan coba, zee sadar woy"
-
-
-
-
-
-
-
Tbc
Cerita pertama saya
Menerima kritik dan saran yang membangun
Maafkan typo yang berterbaran
CZYTASZ
Bahagia
Krótkie OpowiadaniaBahagia bukan hanya tercipta lewat tawa dan suka cita. Kadang bahagia hanya perlu diciptakan. .......... @amatir
